Di Bendung Pamarayan, Kapal Keruk Belum Operasi

SERANG, (KB).- Kapal keruk atau pompa dredger yang dihibahkan Pemerintah Belanda pada tahun 2016 lalu untuk mengeruk Bendung Pamarayan, sampai saat ini masih belum dioperasikan. Soalnya, pihak balai masih menghitung volume bahan bakar yang akan digunakan untuk mengoperasikan kapal tersebut. Mantri Bendung Pamarayan, Nendhi Zulpandi mengatakan, bendungan terbesar di Kabupaten Serang tersebut terakhir kali dikeruk tahun 2009 lalu. Oleh karenanya, sudah 8 tahun tidak dilakukan pengerukan sampai saat ini. “Belum dikeruk lagi sampai sekarang,” ujar Nendhi kepada Kabar Banten, Sabtu (22/7/2017).

Nendhi mengatakan, untuk saat ini di bendung sudah ada alat berat berupa kapal keruk dan dua unit beko untuk melakukan pengerukan terhadap Bendungan Pamarayan tersebut. Akan tetapi, untuk kapal keruk masih belum difungsikan untuk sementara waktu. “Kapal keruk belum dioperasikan mungkin hitung volume bahan bakarnya berapa dulu,” katanya. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, untuk mengoperasikan kapal keruk tersebut bukan hal yang mudah, terutama dalam hal biaya. Sebab, dalam satu jam, kapal tersebut memerlukan 100 liter bahan bakar solar. “Belum tahu kapan, itu mah yang bisa nentukannya balai langsung,” ucapnya.

Oleh karena itu, untuk mengatasi pendangkalan di daerah Bendungan Pamarayan tersebut. Sementara ini pengerukan baru dilakukan menggunakan dua buah beko. Kedua alat berat tersebut didatangkan langsung dari pusat melalui Kementerian PU. “Untuk alat berat sementara di beko yang ada pontonnya (tongkang) itu, untuk pengerukan di atas permukaan airnya dikeruk. Jadi yang didarat beko long aremnya, jadi sistemnya estafet untuk sementara,” tuturnya.

Menurutnya, beko tersebut difungsikan untuk membuat sodetan. Sodetan tersebut nantinya akan dijadikan jalur operasi untuk kapal keruk agar bisa lancar dalam mengeruk lumpurnya. “Jadi sodetan ini untuk jalur kapal keruknya. Jadi untuk optimalnya nanti itu langsung sama kapal kerukannya, jadi alat berat beko ini hanya untuk ngasih jalannya saja,” katanya. Bendungan Pamarayan menurutnya harus dinormalisasi untuk kedalaman mencapai 6-8 meter. Sebab saat ini di tengah bendungan sudah dipenuhi lumpur dan tanahnya pun semakin dangkal. Kedalamannya pun saat ini hanya 1-2 meter. “Gentongan airnya sudah enggak ada karena pendangkalan,” ucapnya. (H-48)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here