Demokrasi

Prof. Dr. Lili Romli

Ketua ICMI Orwil Banten

Apa itu demokrasi, tidak ada satu pakarpun yang secara ajek mendifinisikan atau mengartikan makna demokrasi, sehingga Robert Dahl, ahli politik dari Amerika, mengatakan bahwa tidak satu definisikan yang pasti tentang apa itu demokrasi, yang ada adalah teori-teori demokrasi. Kata demokrasi itu sendiri berasal dari Yunani, yang terdiri atas dua kata demos dan cratos. Demos artinya rakyat dan cratos maknanya pemerintahan.

Dari pengertian ini, Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16, mengartikan demokrasi sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (from people, for people, and by people). Senada dengan itu, Hans Kelsen mengartikan demokrasi sebagai suatu pemerintahan yang diadakan dan dilaksanakan dari rakyat dan untuk rakyat itu sendiri. 

Apakah cukup dengan pengertian seperti itu. Tentu saja tidak, karena pengertian seperti itu terlalu sempit. Oleh karena itu para ahli tidak memberikan definisi, tetapi mengajukannya kreteria-kreteria atau ciri-ciri tentang demokrasi. Dalam memberikan kriteria-kriteria, masing-masing ahli juga bermacam-macam tekanannya.

Roberr Dahl, misalnya, memberikan kreteria demokrasi sebagai berikut: kontrol pada pembuat kebijakan, pemilihan pejabat publik, hak pilih universal, jaminan kebebasan dasar dan politik, adanya saluran informasi alternatif yang tidak dimonopoli, dan jaminan untuk membentuk dan bergabung pada organisasi. Diamond, Linz dan Lipset merumuskan demokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan yang memenuhi tiga syarat pokok, yaitu kompetisi, partisipasi polititik, kebebasan sipil dan politik.

Schumpeter mengartikan demokrasi lebih bersifat empirik, dekriptif, instititusional dan prosedural. Demokrasi dirumuskan sebagai prosedur kelembagaan untuk mencapai keputusan politik yang didalamnya individu memperoleh kekuasaan untuk membuat keputusan melalui perjuangan kompetitif dalam rangka memperoleh suara rakyat.

Dalam konteks ini kemudian muncul apa yang dinamakan demokrasi prosedural atau demokrasi perwakilan, di mana rakyat memilih wakil-wakilnya untuk duduk dalam lembaga perwakilan (Dewan Perwakilan Rakyat/DPR) melalui pemilihan umum (Pemilu). Dengan demikian, jika mengacu pada definisi demokrasi oleh Abraham Lincoln, sebagai pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat tersebut harus diwujudkan melalui pemilihan umum.

Hasil pemilihan ini, wakil-wakil rakyat akan duduk di parlemen/DPR. Demokrasi melalui pemilihan umum (democrasy electoral) sebagai demokrasi prosedural, dibutuhkan beberapa instrumen beberapa, antara lain, partai politik, pemilihan umum, lembaga perwakilan, dan musyawarah  atau voting (masing-masing alat itu akan dibahas pada bagian tersendiri).

Alat-alat inilah merupakan  intrumen utama demokrasi bisa bekerja (working democracy). Jika alat-alat tersebut, tidak berfungsi dengan baik, dalam arti tidak ditujukan untuk mewujudkan kesejahteraan rakat, maka demokrasi akan gagal. Karena sesungguhnya demokrasi=kesejahteraan.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here