Minggu, 23 September 2018

Darurat Narkoba, Perkuat Ketahanan Keluarga

Indonesia, lagi-lagi digegerkan dengan berita tertangkapnya penyelundupan narkoba, tidak tanggung-tanggung besarnya, sebanyak hampir 3 ton narkoba jenis sabu ini berhasil diamankan Patroli Bea dan Cukai Kanwil Kepulauan Riau (Kepri). Penangkapan tersebut hanya berselang tiga hari  sejak terungkapnya upaya penyelundupan narkoba jenis sabu seberat 1,6 ton pada 20 Februari kemarin, dan terungkapnya penyelundupan 1 ton sabu di Kapal MV Sunrise Glory yang masih di perairan Kepulauan Riau pada 9 Februari Silam. Itu baru kasus di bulan Februari saja, Bayangkan kasus di bulan-bulan sebelumnya bahkan di tahun-tahun sebelumnya. Sangat ngeri sekaligus prihatin kita mendengar dan melihat fenomena yang terjadi dalam kasus narkoba ini.

Kita tidak bisa membayangkan seandainya narkoba yang luar biasa fantastis jumlahnya tersebut berhasil di edarkan oleh para penyelundup itu. Tentu, yang pertamakali di serang adalah mereka-mereka para generasi muda Indonesia yang notabene mereka yang masih usia produktif. Entah bagaimana jadinya Negara ini kedepan jika generasi mudanya di serang habis-habisan oleh narkoba, sementara kita menggantungkan harapan besar kepada mereka (generasi muda) untuk meneruskan dan mengisi cita-cita luhur para Founding Father Negara kita yang tercinta ini pasca kemerdekaan.

Lebih ngeri lagi jika membayangkan bahwa kasus narkoba ini seandainya seperti fenomena Gunung es, artinya yang tidak terungkap jauh lebih besar daripada yang muncul ke permukaan. Apresiasi kita untuk mereka yang bekerja keras siang dan malam dalam mengungkap dan menggagalkan peredaran narkoba di Indonesia. Mulai dari aparat keamanan, pemerintah ataupun organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang konsen terhadap penanganan kasus narkoba.

Ketahanan Keluarga

Kita dukung dan do’akan mereka yang saat ini sedang bekerja memberantas peredaran narkoba di tanah air sesuai dengan tugas dan wewenangnya. Sebagai basis terpenting di masyarakat kita juga harus terlibat penuh dalam membantu mereka, salahsatunya dengan program Ketahanan Keluarga. Ini penting, disamping memperkuat basic pendidikan, baik pendidikan di sekolah maupun luar sekolah tentang bahayanya narkoba, tentu penting juga memperkuat ketahanan dalam lingkungan keluarga. Karena ketahanan dan kuatnya bangsa ini dibangun dari kuatnya ketahanan keluarga dari hal-hal negatif yang dapat merusak moral dan akhlak generasi mudanya.

Pentingnya para orang tua memberikan pemahaman sejak dini kepada anak-anaknya akan kehati-hatian dalam bergaul di luar rumah. Karena tidak sedikit generasi muda kita yang terjebak dalam lingkar narkoba ini dikarenakan kurangnya pemahaman mereka terhadap bahayanya mengkonsumsi narkoba.

Tak jarang kita masih mendapati para orangtua yang cuek dan tidak peduli dengan pergaulan anak-anaknya di luar rumah, dengan siapa mereka bergaul, kemana mereka pergi, bahkan pulang larut malam pun masih ada orangtua yang untuk bertanya darimana pun tidak. Bahkan parahnya lagi, ada anak-anak yang menjadikan rumah itu hanya tempat transit, mereka hanya datang ke rumah hanya pada saat lapar, kehabisan uang jajan ataupun berganti pakaian. Sementara orangtuanya sibuk dan asyik dengan aktivitasnya sendiri dengan alasan sibuknya orangtua justru untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kita jadi lupa bahwa mencukupi kebutuhan keluarga bukan hanya soal uang, pakaian dan makanan, lebih dari itu kita pun harus mampu memberikan asupan pemahaman baik dari sisi akhlak maupun basic akidah dan keimanan, dan hal tersebut tentunya pertamakali harus dikenalkan di lingkungan keluarga.

Seperti kita ketahui bahwa terdapat empat pilar dalam Ketahannan Keluarga, diantaranya Spiritual atau religius, kesejahteraan, keamanan atau kenyamanan dan yang terakhir  pilar keadilan. Keempat pilar tersebut tentunya harus dimulai dari keluarga. Mau tidak mau sebagai orangtua kita dipaksa harus paham dan mengerti tentang fenomena yang terjadi di jaman sekarang. Dan itu untuk bekal kepada anak-anaknya sebelum mereka dilepas bergaul di luar rumah. Jangan sampai karena kita lupa mengontrol lalu sesuatu yang buruk menimpa kepada mereka, dan kita menyesal dikemudian hari.

Rasulullah SAW. pernah ditanya tentang peranan kedua orang tua untuk anak-anaknya. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu,” (HR. Ibnu Majah). Artinya, kitalah yang menjadi sebab mereka (anak-anak) menjadi seperti apa dan bagaimana. Karena pertama kali mereka menerima pengetahuan ya dari kita sebagai orangtuanya. Untuk itu penting kiranya dalam kondisi Indonesia yang bisa dikatakan darurat narkoba ini, kita kembali ke pola pendidikan dalam keluarga.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim [66] : 6).

Berikan Perhatian Penuh

Coba tanya mereka (anak-anak) yang terjerat kasus narkoba atau kasus kriminal yang lainnya. Nyaris semua memberikan jawaban, inti sebabnya mereka kurang mendapatkan perhatian dari orantuanya terutama soal pergaulan. Kalaupun bentuk perhatian yang diberikan oleh orangtua, biasanya justru perhatian yang bentuknya memenuhi segalah keinginan si anak, akibatnya anak tumbuh menjadi pribadi yang pemalas dan pemaksa, karena tumbuh dari segala keinginanannya yang selalu terpenuhi.

Seorang Psikolog yang konsen dengan pendidikan karakter, Thomas Licona menyebutkan, ada 10 tanda kemunduran bangsa sebagai akibat rendahnya kualitas keluarga atau masyarakat, yaitu: 1) Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja; 2) Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk; 3) Pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan; 4) Meningkatnya perilaku yang merusak diri seperti narkoba, sex bebas, dan alkohol; 5) Kaburnya pedoman moral baik dan buruk; 6) Penurunan etos kerja; 7) Rendahnya rasa hormat; kepada orangtua dan guru; 8) Rendahnya rasa tanggung jawab baik sebagai individu dan warga negara; 9) Ketidakjujuran yang telah membudaya; dan 10) Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Coba kita perhatikan, 10 tanda yang disebutkan Thomas Licona, hampir dipastikan sudah mewabah di lingkungan kita, lebih luasnya sudah hampir di semua wilayah di Indonesia sudah ada tanda-tanda tersebut. Akankah kita berdiam diri dengan situasi sekarang ini. Tentu sebagai warga Negara yang baik kita tidak menginginkan hal tersebut total terjadi di Negara kita, yang akibatnya Indonesia akan mengalami kemunduran dalam segi moral dan akhlak, lebih jauh Indonesia akan sulit menemukan generasi penerus yang siap memimpin Indonesia menjadi Negara yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Kembali ke soal anak-anak kita yang akan menjadi pewaris kepemimpinan di Negara ini. Sebagai mahluk beragama, saya berharap kita kembali ke pola bagaimana agama kita mengajarkan soal kehidupan baik dalam keluarga, berbangsa dan bernegara. Rasa-rasanya dalam agama, terkhusus agama Islam sudah lengkap bagaimana memberikan pendidikan dasar dalam keluarga. Tentu yang pertama kali yang ditanamkan adalah soal akidah dan keimanan. Karena ini adalah inti, maka wajib kiranya kita sebagai orangtua memahami hakikat bagaimana akidah dan keimanan seseorang bisa memperkuat prinsip seorang manusia dalam menahan ataupun menolak hal-hal yang dapat merusak dirinya.

Bekali anak-anak kita dengan pemahaman itu sedini mungkin. Pehamanan tentang akibat dari setiap pilihan jalan hidup mereka, khusus untuk seorang muslim, mengenalkan mana halal dan mana haram itu penting sekali. Mengingat di jaman sekarang ini, kita bahkan para orangtua pun sedikit kesulitan membedakan mana yang diperbolehkan dan dilarang dalam agama.

Karena anak-anak kita perlu sekali yang namanya idola, maka penting juga kiranya kita mengenalkan mereka dengan Idola sesungguhnya. Sekarang ini tidak sedikit anak-anak kita mengidolakan sosok yang kurang tepat bahkan salah, bahkan ada yang mengikuti total tingkah polah idolanya, meski pada akhirnya akan menjerumuskan si anak ke jalan yang salah.

Inti dari tulisan ini mengajak agar kita menyadari ditengah kondisi yang serba di serang dari segala arah. Maka kita kembalikan semuanya ke lingkungan terkecil kita yaitu keluarga. Kita tentunya berharap pemerintah dan jajarannya segera membereskan masalah narkoba ini yang akan mengancam keselamatan generasi mudanya, dan mampu menjadikan Negara ini kuat dan maju dalam segala bidang. Tapi harapan itu rasanya akan bertepuk sebelah tangan bahkan sulit terwujud jika inti dari pertahanan Negara ini yaitu keluarga, malas bahkan tidak mau memperbaiki kualitas dalam keluarganya. Bravo aparat keamanan dan pemerintah. Berantas terus kejahatan narkoba di negeri ini. “Jangan sekali-kali menyebabkan keluargamu paling menderita karenamu.”  Nasehat Ali bin Abi Thalib RA. (Adi Fikri Humaidi/ Humas di Komunitas One Day One Juz (ODOJ) Kabupaten Pandeglang).*

 


Sekilas Info

29 Agustus, Haul Cak Nur Ke-13

29 Agustus 2005 adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Negeri ini, 13 tahun yang lalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *