Dari Terdakwa Kasus Korupsi Sekunder Begog, Kejari Sita Rp 300 Juta

SERANG, (KB).- Pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Serang menyita uang Rp 300 juta dari Direktris CV Selamat Putra Bersaudara (SPB), Elis Laila Sari (56), terdakwa kasus korupsi proyek rehabilitasi saluran sekunder Begog Daerah Irigasi (DI) Ciujung, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang pada 2014. Uang tersebut diserahkan keluarga terdakwa secara bertahap.

Kasi Pidsus Kejari Serang, Agustinus Olav Mangontan mengatakan, penyitaan pertama dilakukan pada awal pelimpahan dari penyidik Satreskrim Polres Serang sebesar Rp 100 juta. “Pada pertama itu Rp 100 juta, kemudian Rabu (27/9/2017) Rp 100 juta dan Jumat (29/9/2017) kemarin mengembalikan lagi Rp 100 juta. Total uang yang sudah kami sita Rp 300 juta,” katanya, Ahad (1/10/2017).

Ia menuturkan, uang penyitaan tersebut untuk diperhitungkan sebagai pengganti kerugian keuangan negara dari proyek senilai Rp 1,9 miliar. Itikad pengembalian kerugian negera tersebut akan dipertimbangkan penuntut umum dalam menjatuhkan tuntutan terhadap terdakwa nanti. “Pengembalian kerugian keuangan negara. Terdakwa memiliki itikad baik untuk mengembalikan tentu akan dijadikan pertimbangan (dalam penuntutan),” tuturnya.

Diketahui, CV SPB ditetapkan sebagai pemenang lelang pada proyek Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWSC3) pada 2014. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Kushendar Prawijaya menetapkan CV SPB menjadi pemenang proyek rehabilitasi saluran irigasi Begog seluas 454 hektare dengan harga penawaran Rp 1,9 miliar lebih. Sampai batas akhir pekerjaan pada Kamis (13/11/2014), CV SPB tidak dapat merampungkan pekerjaan 100 persen.

Namun, pada Rabu (29/10/2014), terdakwa Elis Laila tetap mengajukan permohonan PHO dan menyatakan pekerjaan sudah rampung 100 persen. Sesuai hasil audit tim teknik dari Untirta, ditemukan ketidaksesuaian spesifikasi bangunan, di antaranya tinggi atau lebar lining, plesteran bangunan penutup atas saluran lining, serta fondasi bangunan lining. Tim teknik Untirta juga menemukan kekurangan plesteran, siar, dan pasangan batu kali. Hasil audit fisik tersebut menjadi dasar audit penghitungan kerugian keuangan negara oleh BPKP. Keuangan negara dirugikan sebesar Rp 613 juta. “Sisanya akan diupayakan diserahkan oleh terdakwa,” tuturnya. (FI)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here