Selasa, 20 Februari 2018

Dari Office Boy ke Kursi Pemimpin Redaksi

DUA hari lalu seorang kawan dari Serang Banten memberi tahu, Abdul Rohim sakit serius dan dirawat di rumah sakit. Tadi kabar duka itu datang, Pemimpin Redaksi Kabar Banten tersebut meninggal dunia sekitar pukul 09.50 WIB di RS Drajat Prawiranegara Kota Serang dalam usia 48 tahun. Innalillahi wa innailaihi rojiun.

“Selama ini kita tidak tahu kalau almarhum punya penyakit berat. Dia jarang mengeluh dan jarang berobat. Kita baru tahu ketika masuk sakit hari Minggu lalu, ternyata organ-organ vitalnya sudah kena. Termasuk ginjalnya. Kondisinya langsung drop,” kata Rachmat Ginandjar, Direktur PT Fajar Pikiran Rakyat yang menerbitkan Kabar Banten.

Ohim -demikian sapaan akrabnya- memang pantang mengeluh dan tidak suka memperlihatkan kesusahan di depan orang lain. Perjalanan hidup dan karirnya memperlihatkan ketangguhan sosok periang dan ramah ini. Tak berlebihan kalau kami  katakan, Ohim adalah sosok yang lengkap.

Kami mengenalnya sebagai office boy (OB) ketika pada tahun 1990-an saya mulai bertugas sebagai wartawan Pikiran Rakyat. Membuatkan minum, membelikan makanan, atau melayani keperluan lain para karyawan adalah pekerjaannya sehari-hari.

Belakangan saya baru tahu, ternyata perantau asal Lampung ini, bekerja sebagai OB sambil kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Tentu kami ikut bangga dan haru ketika Ohim menyelesaikan kulihnya. Foto wisudanya terpampang di koran kami.

Dengan ijazah S1, Ohim melamar menjadi wartawan dan ikut seleksi. Setelah diterima, dia ditugaskan sebagai wartawan “PR” untuk wilayah Ciamis, kemudian Tasikmalaya. Lalu bergabung dengan koran Kabar Priangan (grup “PR”) yang bermarkas di Tasikmalaya. Juga pernah jadi wartawan Galamedia.

Ketika “PR” melahirkan “Fajar Banten” pada tahun 2000, Ohim bergabung dan bermukim di Serang. Setahun kemudian saya bergabung dengan koran yang belakangan  berubah nama menjadi Kabar Banten itu. Saya sekantor dengan kawan lama ini, dengan posisi sama-sama sebagai redaktur.

Gayanya tetap begitu: sederhana, penampilan seringkali berkopiah hitam, dan ramah. Keluwesannya dalam bergaul, membuatnya mudah membangun relasi. Daya jelajahnya luas. Penguasaan teritorialnya hebat.  Wilayah-wilayah pelosok Banten dikuasainya. Kenalannya di mana-mana.

Ketika saya kembali ke Bandung, Ohim tetap di Banten dan namanya semakin berkibar. Saya dengar dia memiliki rumah dan tanah yang cukup luas di daerah Kuranji. Teman-teman “PR” beberapa kali menginap di sana.

Akhirnya puncak karir di keredaksian dicapainya. Ohim menjadi Pemimpin Redaksi Kabar Banten. Tanggung jawabnya tentu lebih berat lagi. Beberapa kali kami saling sapa hanya lewat telepon. Bertukar kabar atau merencanakan kerjasama.

“Kang, iraha atuh kulem di abdi? Kamari Pak Muhammad Baedarus, Kang Wawan Djuwarna, Kang Agus Sandjadirdja, ka darieu. Urang ngaliwet, meuncit hayam kampung, raos geura,” katanya suatu ketika lewat telepon, dengan suara yang renyah.

Undangan itu berulang kali  diucapkannya. Saya belum sempat juga memenuhi ajakan orang baik ini. Dan kini tidak mungkin lagi untuk menjenguk dan merasakan nasi liwet yang dibuatnya. Wilujeng angkat, Ohim. Sing bagja di kalanggengan…. (Enton Supriatna)***


Sekilas Info

Honorarium Kegiatan & SPPD Dipangkas

SERANG, (KB).- Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah mengeluarkan surat edaran (SE) efisiensi anggaran 2018. Untuk itu, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *