Dari Mekkah ke Madinah Al Munawwarah

Jemaah haji Banten saat diberangkatkan dari pemondokan ke Kota Madinah, Kamis (22/8/2019).*

Sejak Rabu (21/8/2019) jemaah haji gelombang II mulai diberangkatkan dari pemondokan ke Kota Madinah Al Munawwarah. Di kota tempat hijrah Nabi Muhammad SAW tersebut, jemaah haji akan tinggal selama 9 hari sebelum dipulangkan ke tanah air.

Tidak seperti musim haji sebelumnya hanya 8 hari, penambahan satu hari dimaksudkan agar semua jemaah haji leluasa melaksanakan Salat Arbain karena ada jeda satu hari untuk persiapan kepulangan ke tanah air.

Dikutip dari NU Online (2013), Arba’in atau arba’un dalam bahasa Arab berarti empat puluh. Yang dimaksud dengan salat arba’in adalah melakukan salat empat puluh waktu di Masjid Nabawi secara berturut-turut dan tidak ketinggalan takbiratul ihram bersama imam.

Para jemaah haji meyakini amalan ini akan membuat mereka terbebas dari api neraka dan sifat kemunafikan. Dasar keyakinan ini adalah sebuah hadits dari Anas bin Malik bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa salat di masjidku empat puluh salat tanpa ketinggalan sekali pun, dicatatkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari siksaan dan ia bebas dari kemunafikan. (HR. Ahmad).

Selain itu, Kota Madinah juga banyak memiliki keutamaan. Salat di Masjid Nabawi tidaklah seperti salat di masjid lain, Allah telah menyematkan padanya keutamaan yang besar, sebagaimana Allah telah melebihkan sebagian amalan di atas sebagian yang lain. Sebagaimana sabda Nabi SAW dalam hadits riwayat dari sahabat Abu Hurairah, “Satu kali salat di masjidku ini lebih baik dari seribu salat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram. (HR. Al-Bukhari).

Selain Masjid Nabawi, ada dua masjid lain yang memiliki keutamaan yakni pertama, Masjidil Haram di Kota Mekkah Masjidil Aqsha di Palestina. Salah satu keutamaan tinggal di Kota Madinah, yakni jemaah haji bisa berziarah ke makam Rasulullah SAW, sahabat Nabi SAW, Abu Bakar Siddiq dan Umar bin Khattab.

Imam Al Ghozali dalam kitab Asrarul Hajj, memberikan nasihat agar saat ke Kota Madinah hendaklah jemaah haji merenungi perjalanannya dengan napak tilas jejak kaki Rasulullah SAW saat datang dan pulang dari Masjid Nabawi.

“Tak ada satu jengkal tanah Madinah yang kau injak, kecuali tanah tersebut sudah diinjak oleh kaki beliau. Maka kau jangan menginjakkan kaki di tanah tempat beliau pernah menginjakkan kakinya, kecuali dengan tenang dan santun,” kata Imam Al Ghozali.

Sementara itu, rombongan jemaah haji dari Banten yang sudah diberangkatkan ke Kota Madinah yakni dari Kabupaten Tangerang dan Kota Serang. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Nizar Ali berpesan kepada jemaah agar dapat menjaga kondisi tubuh selama melaksanakan ibadah di Tanah Suci, termasuk di Madinah. Utamanya saat harus mengantre masuk ke dalam raudhah. “Karena harus antre, jadi kondisi fisiknya kan harus bagus,” kata Dirjen Nizar.

Berdasarkan data yang dirilis Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama pada Selasa, 20 Agustus 2019 pukul 19.00 Waktu Arab Saudi (WAS), tercatat lebih dari 20 ribu jemaah haji telah meninggalkan Kota Mekkah. Dalam data tersebut disampaikan sebanyak 63 kelompok terbang (kloter) yang membawa 26.081 jemaah dan petugas telah diberangkatkan dari Mekkah menuju Jeddah.

Cuaca lebih panas

Untuk jemaah haji Indonesia gelombang II yang tiba di Kota Madinah, sebelum turun dari bus, jemaah diberikan edukasi oleh para petugas sektor mengenai kota Madinah, utamanya cuaca Madinah yang cenderung lebih terik daripada Mekkah.

Petugas sektor mengingatkan pada para jemaah agar senantiasa melengkapi diri dengan alat pelindung diri (APD) ketika akan berangkat ke Masjid Nabawi. “Kami sampaikan cuaca di Mekkah dan Madinah berbeda, di Madinah cuaca mencapai 43 hingga 44 derajat celcius, ini perlu diantisipasi,” tutur Khalilurrahman, petugas sektor.

Ia mengingatkan agar jemaah tidak lupa membawa masker, kacamata dan menggunakan alas kaki. “Jangan sampai ketika berangkat ke masjid meninggalkan sandalnya di tempat penitipan, dibawa atau dititipkan kepada temannya. Kami sarankan agar membawa masing-masing sandalnya,” ucapnya.

Khalil menjelaskan, ada beberapa kasus jemaah gelombang I yang terpaksa pulang tanpa alas kaki karena kehilangan sandalnya, dan hal tersebut dapat membahayakan jemaah. Sebab kaki bisa melepuh karena menginjak ubin yang panas.

Kemudian untuk kenyamanan jemaah saat beribadah di Masjid Nabawi, ia mengimbau jemaah agar agar tidak membawa barang berharga atau uang secara berlebihan karena banyaknya kasus jemaah kecurian seperti yang dialami oleh jemaah gelombang pertama. (Maksuni Husen)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here