Dari Binuangen sampai Wilayah Bayah, Pesisir Pantai Lebak tanpa Sensor Tsunami

Pesisir pantai Kabupaten Lebak yang membentang dari Binuangen sampai wilayah Bayah belum dilengkapi Tsunami Early Warning System (TEWS) atau sensor tsunami. TEWS yang dipasang pemerintah baru ditempatkan di pesisir Pantai Pasauran, Labuan dan Panimbang.

Kabid Kesiapsiagaan Pencegahan Bencana BPBD Provinsi Banten M. Juhriyadi membenarkan, TEWS yang dipasang pemerintah baru ditempatkan di pesisir Pantai Pasauran, Labuan dan Panimbang. Sementara untuk pesisir pantai dari Binuangen sampai dengan wilayah Bayah masih belum terpasang TEWS.

“Untuk Malingping baru tahun ini dipasang Intencity meter, alat pencatat gempa dipasang di Balai Desa Muara,” katanya.

Intencity meter merupakan alat pengukur atau pencatat besar kecilnya getaran gempa. Alat ini juga dilengkapi dengan alarm kecil yang akan bersuara jika gempa yang terjadi pada angka membahayakan. “(Intencity meter) dari bulan Agustus alatnya sudah dikirim,” ujarnya.

Kemudian untuk wilayah Bayah, kata dia, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pabrik semen di wilayah Bayah, Semen Merah Putih untuk pemasangan TEWS. Informasi yang diterimanya pemasangan TEWS oleh Semen Merah Putih mulai jalan akhir tahun ini.

“Bahkan mereka akan membantu mengecor jalur evakuasi bencana yang ada di Bayah,” ucapnya.

Terkait TEWS di Pantai Pasauran, Labuan dan Panimbang sudah berfungsi kembali sejak 10 Desember 2019 setelah adanya perbaikan. Dengan demikian, alat ini sudah bisa mendeteksi kembali jika sewaktu-waktu terjadi bencana tsunami.

Diketahui sebelumnya, TEWS di tiga titik tersebut mengalami kerusakan dan tak dapat berfungsi. Hal itu terjadi karena server sistem tersebut yang ada di BPBD Banten tersambar petir saat hujan lebat dan angin kencang yang melanda Kota Serang pada 13 November 2019.

Terkait liburan natal dan tahun baru, ia mengimbau masyarakat untuk menghindari lokasi rawan bencana, seperti pegunungan dan radius 200 meter bibir pantai. Jika bepergian siapkan perlengkapan pribadi berupa jas hujan dan senter.

Jika terjadi bencana, maka masyarakat yang berada di rumah mengumpulkan dokumen penting dalam satu tas dan jangan panik. Masyarakat juga diingat tak mempercayai hoax bencana, percayakan sumber informasi pada BPBD dan BMKG.

Prakirawan BMKG Klas I Serang rakirawan Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Klas 1 Serang Rofikoh mengatakan, pada saat peralihan musim dari kemarau ke penghujan seperti yang terjadi beberapa pekan ini dapat memicu hujan lebat disertai angina kencang.

“Di masa transisi untuk kejadian cuaca ekstrem cukup besar di antaranya puting beliung, hujan lebat, angin kencang, hujan es,” katanya. (Sutisna)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here