Dari Beras Jaseng Hingga Kopi WH, Produk Banten Bermunculan

SERANG, (KB).- Sejumlah produk yang mewakili daerah di Banten bermunculan. Selain beberapa produk yang sama dari kabupaten/kota seperti beras, belakangan juga muncul produk kopi dengan merek ”WH” atau inisial yang identik dengan sapaan familiar dari Gubernur Banten Wahidin Halim.

Dari Kota Serang, produk unggulan yang familiar di masyarakat salah satuya adalah sate bandeng. Untuk pemasarannya, Dinas Perdagangan Industri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Kota Serang mulai merambah digital marketing. Hal itu dilakukan untuk memudahkan para pelaku usaha dalam memasarkan produknya.

Kepala Seksi (Kasi) Promosi Disperdaginkop dan UKM Kota Serang Ratu Anne mengatakan, tahun ini Kota Serang mulai melakukan pembinaan ke arah digital marketing berkoordinasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Serang untuk pembuatan websitenya.

“Karena Kota Serang itu kewenangannya membina usaha mikro, dan tahun ini Kota Serang akan melakukan pembinaan ke arah digital marketing, yang disosialisasikan oleh kami untuk pelaku UMKM. Nantinya mereka bisa mempromosikan produknya di website,” katanya, Ahad (9/2/2020).

Saat ini, Anne menjelaskan, ada beberapa produk lokal unggulan UMKM binaan Kota Serang. Di antaranya, kue satu, kue bangkit, dan batik keraton yang sudah dikenal oleh banyak orang, baik Kota Serang maupun luar Kota Serang.

“Tapi kalau yang sudah diakui skala nasional itu ada sate bandeng,” ucapnya.

Sementara untuk pemasaran, pihaknya saling berkoordinasi dengan bidang industri dan promosi. Kemudian, beberapa pameran dan sosialisasi kepada pelaku usaha.

“Tahun ini memang ada beberapa agenda pameran. Untuk pembinaan dan pengembangan usaha, kami melakukan koordinasi dengan bidang industri, juga ada pelatihan fotografi dan mengundang pengusaha online,” ujarnya.

Untuk mendorong, produk para pelaku usaha, pihaknya memfokuskan sosialisasi dan pembinaan. Hal ini dilakukan agar usaha mereka bisa mandiri dan mempromosikan produknya masing-masing. Kemudian, dari segi kualitas, perizinan, sertifikasi halal, serta Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) pun harus sesuai.

Untuk kendalanya, dia mengakui masalah permodalan dan pemasaran.

“Maka kami ubah mindset mereka, jangan harus punya modal banyak baru bisa jualan. Padahal kalau online, promosi mereka bagus, barang mereka berkualitas mereka bisa menyiasatinya. Bisa pakai strategi marketingnya yang penting berani memulai,” tuturnya.

Dari Kota Cilegon, jagung pulut atau jagung ketan merupakan salah satu produk yang menuai perhatian di pasaran. Namun, jagung tersebut hanya beredar di sekitar Kota Cilegon. Kelompok Wanita Tani (KWT) yang mengelola jagung pulut kewalahan memenuhi permintaan yang cukup tinggi.

Pengurus KWT Tanjung Sekong, Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Pulomerak Eni Sahlani mengatakan, banyaknya permintaan dari warga karena rasanya berbeda dari jagung pada umumnya.

“Kewalahan kang, melayani permintaan dari pembeli. Bahkan pembeli banyak dari luar daerah yang membeli buat oleh-oleh di kampungnya. Karena jagung pulut ini memang berbeda dibanding lainnya,” katanya.

Dia mengatakan, saat ini lahan yang dikelola baru seluas 1.500 meter persegi. Untuk itu, ia berharap akan ada wadah lain yang bisa bermitra agar jagung ungu ini menjadi unggulan pertanian baru di Kota Cilegon.

“Saya sih berharap ada KWT lain yang ingin membudayakan jagung pulut ini agar permintaan dapat terpenuhi,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Damanhuri mengapresiasi apa yang sudah dilakukan KWT Tanjung Sekong yang sudah memperkenalkan jagung pulut sehingga jagung pulut menjadi ikon baru Kota Cilegon. Untuk itu, ia akan mendorong jagung pulut ini sebagai komoditas unggulan di Kota Cilegon.

“Dengan berhasilnya KWT Tanjung Sekong membudidayakan jagung pulut ini menandakan DKPP berhasil pembina KWT yang ada di Kota Cilegon salah satunya KWT yang dibina Ibu Emi dan untuk itu kedepannya saya akan mendorong jagung pulut ini menjadi komoditas unggulan selain melon,” tuturnya.

Komoditas jagung pulut, kata dia, merupakan salah satu andalan yang baru selain melon. Bahkan, c ara tanamnya juga sangat cepat dan lahan hasil tanam melon sangat bagus untuk jagung pulut. Sehingga para petani bisa memanfaatkan. Namun, kata dia, butuh proses dan waktu yang cukup lama untuk mengenalkannya kepada masyarakat Cilegon.

“Kalau nanamnya tidak sulit, dan hanya 64 hari bisa lansgung panen. Dengan bermodalkan sekitar Rp 400.000 kemudian bisa menghasilkan Rp 4 juta. Ini salah satu ikon baru yang ada di Kota Cilegon. Kami berharap para petani bisa menanam jagung pulut yang saat ini sedang digemari karena mengandung antioksidan yang cukup tinggi,” ucapnya.

Ia mengatakan, permasalahan untuk budidaya jagung pulut adalah para KWT yang ada di Kota Cilegon ternyata belum banyak yang memiliki lahan yang luas.

”Kebanyakan yang mereka tanam adalah jenis sayuran dan buah, makanya kami akan menggelar rapat dan menyosialisasikan komoditas jagung pulut sebagai ikon Kota Cilegon,” ucapnya.

Sama halnya dengan Pandeglang dan Lebak, terbaru adalah beras Jawara Serang (Jaseng) yang diluncurkan Pemkab Serang. Untuk memperkuat pemasarannya, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah mengimbau aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Serang membeli beras Jaseng melalui Koperasi Gemah Ripah setiap bulannya. Hal tersebut dilakukan agar kesejahteraan para petani Kabupaten Serang bisa terdongkrak.

Tatu menuturkan, pihaknya bersama kepala dinas pertanian punya semangat untuk meningkatkan hasil petani. Tujuannya, agar hasil panen petani bisa dinikmati oleh masyarakat Kabupaten Serang dan kesejahteraan petani juga bisa meningkat.

“Kami punya kebijakan putus mata rantai distribusi, jadi dari petani ke konsumen langsung. Agar nilai tambah yang didapat petani lebih besar,” ujar Tatu, belum lama ini.

Kerja sama aparatur sipil negara (ASN) untuk membeli beras Jawara Serang (Jaseng) terhenti. Hal tersebut dikarenakan pembayaran untuk pembelian beras belum lancar.

Meskipun tidak berjalan dengan ASN, kata dia, saat ini beras Jaseng fokus pada pesanan berskala besar, di antaranya melayani untuk kebutuhan e-Warung yang per bulannya disuplai hingga 400 ton, namun kualitas medium.

Bersertifikat halal

Selain beras, juga muncul produk kopi asli Banten bermerek “WH”. Kopi yang mereknya identik dengan inisial Gubernur Banten Wahidin Halim tersebut, dikelola Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Kampung Cikalahi, Desa Mekarsari, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banten mengeluarkan sertifikat halal untuk kopi asli Banten bermerek “WH”. Sebelum mendapatkan sertifikat halal dari MUI, kopi “WH” sudah mendapatkan sertifikat produksi pangan industri bernomor P-IRT NO.510360402009324. Sertifikat tersebut dikeluarkan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Pemkab Serang yang berlaku selama lima tahun.

Kepala Dinas Pertanian Banten Agus M Tauchid mengatakan, ide membuat produk kopi bernama “Kopi WH” muncul dari Gubernur Banten Wahidin Halim. Ide ini dilandasi keinginan Wahidin Halim untuk membuat brand kopi yang bisa bersaing dengan brand lain.

“Ingin Pak WH itu ada brand dimana brand itu punya daya saing, baik secara kompetitif maupun dengan komparatif,” katanya.

Gubernur melihat Banten seperti tidak mempunyai identitas dari sisi produk pertanian yang dihasilkan.

“Misalnya kopi merek x di suatu wilayah, ternyata kopi itu kopi campuran bukan kopi asli Banten. Berangkat dari situ, saya selaku staf gubernur harus menerjemahkan keinginan pimpinan. Banyak yang bisa dipromosikan dan saya membidiknya dari kopi,” ujarnya.

Alasan memilih kopi sebagai brand yang identik dengan Banten, karena kopi memiliki sejarah panjang di Banten.

“Seusia dengan sejarah Kesultanan Banten. Sama juga dengan sejarahnya kita lada dan seterusnya. Kopi itu bapak melihat dari tiga kabupaten ini menunjukkan eksotiknya kopi Banten, baik di wilayah Lebak, Pandeglang dan Serang. Semua daerah itu hampir sebagian besar memiliki sumber daya genetis yang bisa dipertahankan,” ujarnya.

Dia percaya dengan memberikan nama “Kopi WH” kopi Banten akan mudah dan cepat dikenal oleh masyarakat luas.

“Semua di Banten hampir memiliki yang sama. Tapi ada yang paling bagus itu ada di Cinangka. Dari 10 varian yang diujikan, itu sembilannya masuk, berarti masuk premium. Karena saya laporkan ke Pak Gubernur untuk brandnya dan sebagainya, pak gubernur menyetujui dengan brand WH dan sebagainya,” ucapnya.

opi WH telah dilengkapi PIRT, sertifikat halal serta dokumen lain yang menjadi syarat produk makanan dan minuman masuk ke pasar.

“Kalau tidak Pak Gubernur yang mempromosikan dengan merk Kopi WH, sehebat apapun kopi itu dalam proses awal pemula enggak akan bisa buming seperti sekarang,” ujarnya.

Selain membuat produk Kopi WH, pemprov juga fokus dalam mengembangkan perkebunan kopi di Banten.

“Proses budidaya proses pasca panen kami perbaiki. Kami memberikan bantun pasca panen, alat pengering dengan tenaga surya. Ternyata dengan perlakuan itu biji kopi Banten mahal, punya harga di mata luar Banten,” tuturnya.

Strategi pemasarannya dilakukan melalui kelompok usaha yang ada di Banten. Sebab, OPD tak diperbolehkan untuk berbisnis.

“Tetapi itu juga tetap izin dulu ke Pak Gubernur. Karena Pak Gubernur yang mempunyai merek dagangnya. Sebenarnya (penjualan) itu sudah mulai berjalan,” katanya.

Hak paten

Sementara itu, Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Pandeglang mendorong beras Cimanuk yang tembus pasar DKI menjadi beras unggulan di Pandeglang. Selain itu, KTNA berharap label beras Cimanuk untuk dipatenkan karena kualitasnya yang tidak kalah bersaing dengan beras luar daerah.

Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Pandeglang, Anton Khoirul Samsi meyakini bahwa seluruh daerah yang ada di Provinsi Banten sudah mengenal nama beras Cimanuk. Sebab, kualitasnya sangat siap bersaing dengan beras dari berbagai daerah.

“Saat ini, memang beras Cimanuk pemasarannya sudah masuk di seluruh daerah di Banten. Serang, Cilegon, Tangerang, Lebak dan itu semuanya sudah mengenal beras Cimanuk. Bahkan dari luar Banten seperti DKI, Bandung dan Bogor, kalau sedang liburan ke Pandeglang pasti ingin makan nasi beras Cimanuk. Kualitas beras Cimanuk dinilai paling tinggi dan rasa nasinya juga berbeda dengan beras lain, lebih pulen dan lebih legit,” kata Ketua KTNA Pandeglang Anton Haerul Samsi.

Anton menyayangkan label beras Cimanuk tidak dipatenkan. Seharusnya, pemerintah daerah harus berani mematenkan label beras Cimanuk, Panimbang dan Cikeusik. Semakin banyak produk unggulan, maka akan semakin kuat persaingannya. Namun jika label beras tidak dipatenkan, akan membuat citra beras Cimanuk sedikit menurun.

“Karena awalnya label itu tidak dipatenkan, makanya karungnya itu tersebar kemana-mana. Betul label di karungnya beras Cimanuk ada logo badaknya, tapi isinya ada yang beras Panimbang juga. Bahkan ada isi berasnya dicampur dengan beras lain, itu yang membuat beras Cimanuk sedikit tercoreng. Padahal kalau beras Cimanuk itu rasanya sangat enak, beda dari yang lain,” ucapnya.

Sementara itu, Camat Cimanuk Agus Riyanto mengatakan, untuk pemasaran yang diketahui dan terpantau hanya beberapa kecamatan yang dekat dengan Cimanuk. Namun untuk masalah label karung beras Cimanuk, dirinya tidak mengetahui secara pasti.

“Kalau selama ini mungkin hanya beberapa kecamatan terdekat saja untuk pemasarannya, seperti Cipeucang, Kadu Hejo. Terkait ada yang menggunakan karung yang berlabel beras Cimanuk belum bisa monitor, tapi itu mungkin saja,” ucapnya.

Sama halnya dengan Pandeglang, dari Kabupaten Lebak muncul beras merek Ciberang. Namun, produk yang sudah dipatenkan 2018 tersebut sulit berkembang akibat kesulitan permodalan.

Kepala seksi Pasca Panen dan Pemasaran Dinas pertanian dan Perkebunan (Disanbun) Lebak Budiyati Harpiani mengakui, pengembangan produk beras Ciberang belum seluruhnya memenuhi target pasar. Persoalannya, karena pengembangan usaha produksi beras Ciberang masih terkendala dukungan permodalan, sehingga beras Ciberang mampu memenuhi pasar lokal maupun regional.

“Gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang mengembangkan produksi beras Ciberang mengandalkan modal swadaya. Mereka juga terkendala alat produksi pendukung, seperti mesin pengering dan lainnya,” kata Budiyati Harpiani.

Ia menjelaskan, di Kabupaten Lebak terdapat tujuh Gapoktan yang bekerja sama dengan pemerintah daerah mengembangkan beras merk Ciberang. Gapoktan itu tersebar di enam kecamatan, antara lain Warungunung, Cibadak, Rangkasbitung, Cikulur Wanasalam.

“Produksi beras rata-rata 30 hingga 50 ton. Tetapi itu bertahap,” katanya.

Pemasaran sudah merambah ke laur daerah, seperti Tangerang dan Cilegon. Namun, untuk pengembangan pasar lebih luas masih terkendala modal tadi. Idealnya, memang Gapoktan ini di kerjasamkan dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“Tapi Gapoktan, sepertinya akan mendapatkan sokongan permodalan juga dari Kredit Usaha Rakyat (KUR). Mudah-mudahan saja itu bisa terealsasi,” ucapnya.

Beras merek Ciberang ini merupakan beras premium dan rasaya cukup pulen dan memenuhi syarat standar beras berkualitas. Setiap Gapoktan yang memproduksi beras Ciberang sudah melalui tahap uji mutu.

“Adapun untuk varietas benih padi yang digunakan petani di daerah ini di antaranya varietas Ciherang dan Mikongga,” katanya. (Tim Kabar Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here