Dapat nya Di Masjid

Oleh: Nasuha Abu Bakar, MA

Pada masa saya kecil, berkisar usia 8 sampai dengan usia 10 tahun, sahabat sahabat yang sebaya dengan saya cukup banyak bisa mencapai sepuluh sampai lima belas anak. Sebagian sahabat sahabat saya di waktu paginya mereka berangkat ke sekolah umum (sekolah SD), nanti siangnya sekolah dan belajar di MI madrasah Ibtidaiyah sekolah setingkat SD.

Di malam harinya kami belajar membaca Alquran di rumah seorang guru ngaji dengan segalanya serba terbatas, maklum namannya juga kehidupan di kampung, segala galanya penuh sederhana karena memang seperti itu adanya. Penerangan nya menggunakan lampu tempel, kadang lampu minyak yang dibuat dari bekas kaleng cat, bekas kaleng susu.

Dan yang selalu teringat hingga sekarang kenangan itu itu pernah terlupakan oleh saya dan sahabat sahabat saya lainnya. Bayangkan saja setiap kali selesai mengaji dan belajar membaca Alquran, malamnya kami anak anak yang laki laki menginap di rumah guru ngaji karena nanti pagi selepas shalat shubuh kami belajar mengaji lagi dan belajar membaca kitab suci Alquran.

Masih ingat pengalaman lucunya?. Setiap kali kami bangun tidur, kedua lubang hidung kami selalu hitam hitam, mungkin karena asap lampu tempel dan lampu minyak tadi. Pengalaman seperti ini bagi saya dan sahabat sahabat lainnya sangat mengesankan. Jangan jangan syarat lancar membaca Alquran pada saat itu lubang hidungnya harus hitam, enggak juga.

Anak jaman dulu tempat bermain nya di halaman masjid, ada yang bermain petak umpet, bermain kelereng, bermain gangsing, bermain menerbangkan layang-layang, ada juga yang bermain sepak bola. Mau tahu bola nya terbuat bahannya dari apa? Cukup dengan jerami padi yang digulung gulung dibuat menjadi bulat, diikatnya dengan tali kilit pohon pisang, kemudian dibungkus dengan plastik.

Modalnya cukup murah meriah, tapi sehat dan ceria. Kalau pas adzan berkumandang otomatis seketika kami menghentikan segala jenis permainan nya, kemudian kami berlarian berhamburan menuju kolam tempat mengambil air wudhu dan semuanya kami shalat berjamaah.

Ada perbedaan yang sepertinya agak prinsip, kami di kampung atau di desa tidak mudah untuk menjadi imam atau memimpin shalat. Di desa sepertinya kedudukan dan jabatan imam shalat sangat sakral sehingga tidak boleh sembarang orang, jangankan sekedar orang yang mampir ikut shalat berjamaah, yang belum dikenal sebelumnya, sedangkan yang sehari hari ikut shalat berjamaah pun belum tentu diperkenankan untuk menjadi imam di dalam shalat.

Jabatan dan posisi imam milik hak paten para sesepuh atau orang yang sudah sepuh dan dituakan oleh masyarakat dan lingkungan nya. Kami bocah bacah kecil sambil menunggu kedatangan imam shalat selalu berebutan mic dan kumpul di dekat tempat imam sambil menyenandungkan puji pujian kepada Allah, apakah dengan kalimat istigfar, dengan bershalawat, atau dengan menyenandungkan syair syair lokal yang menggunakan dengan bahasa daerah. Kadang tidak disadari dengan kepiawaian para guru di kampung, beliau beliau menyenandungkan sifat sifat dua puluh atau Asmaul Husna. Subhanallah…..

Ternyata dengan seringnya kumpul kumpul di masjid, bermain di halaman masjid, banyak hal positif yang tertanam dan menjadi hafal. Seperti senandung istighfar, sifat dua puluh, atau pujian pujian kepada Allah lainnya. Subhanallah…..

Sebut saja ananda Cecep, usianya 4 tahun karena baru masuk sekolah taman kanak kanak di kelas A. Pada saat ibu gurunya menyenandungkan senandung istigfar yang bunyi lafadznya sbb:

استغفر الله رب البرايا
استغفر الله من الخطايا
رب زدني علما نافعا
ووفقني عملا مقبولا
ووهب لي ولدا صالحا
وتب علينا توبة نصوحا

Ternyata ananda Cecep mampu mengucapkan nya dengan lancar tanpa malu-malu. “Alhamdulillah….Cecep.pinter….” pujian ibu guru Musliha. “Bagaimana caranya Cecep bisa hafal, padahal panjang bacaannya dan banyak, lihat lihat dan belajar.nya di YouTube ya?” tanya ibu guru Musliha penasaran. “Bukan di YouTube bu guru, tapi Cecep shalat nya di masjid, pak ustadz nya suka baca”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here