Danau Tasikardi Makin Surut

Danau Tasikardi yang berada di Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu sampai saat ini semakin surut akibat kemarau panjang. Sebelumnya, air yang berada di Tasikardi surut hingga satu meter, namun saat ini bertambah menjadi satu setengah meter.

Pantauan Kabar Banten, tampak air yang ada di Danau Tasikardi surut, sehingga lumpur yang berada di dalam danau juga terlihat dan tampak kering akibat kurangnya curah hujan. Selain itu, hanya beberapa warga yang mengunjungi tempat wisata yang berada di Kecamatan Kramatwatu tersebut.

Pengelola Danau Tasikardi Wahyudin menjelaskan, saat ini danau Tasikardi semakin surut yang diakibatkan kemarau panjang sejak Juni 2019 kemarin. Sebelumnya air di danau tersebut sempat surut sedalam satu meter, namun terus bertambah menjadi satu setengah meter. Kekeringan yang melanda danau Tasikardi terjadi selama tiga bulan.

“Airnya surut. Bulan ini semakin surut sampai satu setengah meter. Kalau kemarin-kemarin sih baru satu meter,” kata Wahyudi saat ditemui Kabar Banten, Selasa (10/9/2019).

Dia menuturkan, kemarau tahun ini dinilai paling parah dibandingkan tahun sebelumnya. Sebab jika terjadi kemarau, air yang ada di Tasikardi hanya mengalami surut sedalam satu meter dan tidak terjadi lama. Selain itu, pendangkalannya pun tidak sampai 1,5 meter. Namun tahun ini, hanya terjadi hujan sekali saat memasuki musim kemarau.

“Tahun ini parah, sebelumnya paling satu meter saja. Ngga nambah sampai satu setengah meter. Ini aja kan hujannya baru turun sekali kemarin,” tuturnya.

Akibatnya, dia mengatakan, biasanya pada Sabtu dan Minggu jumlah pengunjung yang datang cukup banyak. Namun selama tiga bulan terakhir ini, tingkat kunjungan ke Danau Tasikardi berkurang. Sebab air yang sudah semakin surut dan menyulitkan bebek-bebekan untuk beroperasi karena danau yang dangkal.

“Pengunjung juga sepi kalau surut gini. Lagian kan buat bebek-bebekan juga sulit beroperasi. Kalau dipaksakan nanti malah rusak karena kemasukan lumpur,” ujarnya.

Dia menjelaskan, pihak pengelola mengalami kerugian selama kondisi ini terjadi. Sebab biasanya dalam sehari bisa mendapatkan sekitar Rp 300 ribu ketika ramai dan sekitar Rp 100 ribu jika sepi. Namun saat ini pendapatannya jauh berkurang.

“Ada paling satu atau dua orang saja yang datang. Pedagang juga mengalami kerugian. Mudah-mudahan airnya kembali normal lagi,” tuturnya. (Tresna Mulyanawati)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here