Dakwah Masa Kini

KH. AM Romly, Ketua MUI Banten.*

Dr. H. AM Romly

Dakwah pada dasarnya adalah upaya untuk mempengaruhi atau mengubah kondisi yang kurang baik menjadi lebih baik. Dakwah dalam kehidupan bermasyarakat mengacu kepada upaya menciptakan keadaan individu atau masyarakat untuk dapat meningkatkan taraf kehidupan lahiriah dan batiniah dan taraf penghidupannya berupa kemampuan mengakses sumber-sumber ekonomi.

Dalam kaitan ini, dakwah bil lisan yang selama ini banyak dilaksanakan di dalam bentuk ceramah/tablig, serta dakwah bil qalam dalam bentuk atikel dan selebaran tetap masih relevan dan diperlukan. Namun dalam perkembangan sosial budaya dan sosial ekonomi saat ini belum memadai. Karena dakwah untuk masa kini dan nanti memerlukan pendekatan lain yang melengkapi pendekatan dakwah bil lisan dan bil qalam, yakni dakwah bil hal.

Kalau kita bandingkan dakwah bil lisan dan bil qalam dengan dakwah bil hal secara prinsip tidak ada perbedaan. Bentuk pertama lebih menekankan kepada oral approach (pendekatan lisan) dan scriptural approach (pendekatan tulisan), sedang bentuk kedua lebih menekankan kepada action approach (pendekatan tindakan).

Medan dakwah

Beragam muatan informasi dalam skala global yang dibawa kemajuan ilmu dan teknologi digital, baik yang positif maupun negatif, telah menimbulkan perubahan sosial yang tak terduga. Salah satu dampaknya adalah perebutan ruang hidup (libensraum) yang semakin sengit.

Perkembangan global mengambil berbagai bentuk, dan yang paling populer dibicarakan adalah globalisasi informasi, khususnya globalisasi berita televisi dan bahan siaran. Sekarang lebih dahsyat lagi dengan merebaknya penggunaan media sosial yang menyebarkan informasi tak terkendali. Globalisasi sebenarnya lebih luas, melalui aspek globalisasi informasi di media massa dan meda sosial, yakni globalisasi ekonomi dan perdagangan, teknologi, wawasan, perilaku dan aspek-aspek kebudayaan lainnya.

Selain itu, terdapat pula perkembangan global lainnya (global trends), misalnya dalam bidang kependudukan (migrasi dan lapangan kerja internasional), lingkungan hidup (pemanasan global), politik ekonomi (masyarakat ekonomi, pertumbuhan segi tiga ekonomi), gaya hidup dan sebagainya.

Informasi dapat menjadi alat yang ampuh untuk memengaruhi manusia dan mengubah opininya. Kekaisaran masa depan adalah kekaisaran alam pikiran (W. Churchil). Negara yang menguasai produksi sistem informatika dan mengendalikan pusat-pusat pengolahan dan penyebaran informasi akan mendominasi bangsa-bangsa lain (J. Bremond). Dengan penguasaan informasi, produsen juga dapat mengendalikan konsumen sedemikan rupa dan menguras kemampuan ekonomi masyarakat.

Pandangan Churchil dan Bremond ini bukan omong kosong, melainkan sudah nyata sekarang. Dunia Barat dewasa ini mempunyai kekuasaan demikian. Dengan kecanggihan media komunikasinya sebagai penyebar informasi, Dunia Barat dapat membentuk dan menguasai opini dunia. Kemudian produk-produk negara maju membanjiri negara-negara berkembang.

Muatan-muatan negatif yang dibawa oleh arus informasi yang deras ini adalah berkembangnya paham radikalisme dalam bidang politik, liberalisme dalam bidang ekonomi, hedonisme dan permisivisme dalam bidang budaya. Dengan memasuki revolusi industri 4.0 yang ditandai disrupsi bisa menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat. Tidak heran kalau ada orang kehilangan pegangan, karena nilai-nilai lama sudah ditinggalkan, sementara nilai-nilai baru belum mapan.

Selain dari itu, dakwah juga dihadapkan kepada tantangan-tantangan domestik yang untuk mengatasinya memerlukan kemauan politik. Tantangan yang ril saat ini adalah ekstremisme, radikalisme, sadisme (kekejaman dan kebengisan), miras, penyalahgunaan dan peredaran narkoba, kemaksiatan, ujaran kebencian, hoax, fakenews, adu doma, sikap permusuhan, angka pengangguran masih besar, angka kemiskinan juga masih tinggi.

Metodologi dakwah

Dakwah yang harus dilakukan hendaknya dapat merespon dinamika perkembangan masyarakat. Dalam segi materi dakwah mungkin tidak berubah. Namun kemasan materi dalam dakwah mestinya dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat menarik masyarakat. Selain kemasan materi, juga harus menggunakan metode dan teknik yang tepat pula. Artinya dalam dakwah pun perlu inovasi.

Dakwah hendaknya jangan selalu dipandang dalam pengertian sempit, terbatas pada tablig dan ceramah saja serta hanya berorientasi kepada ibadah mahdhah. Pendekatan dakwah hendaknya terus dikembangkan bukan hanya pendekatan verbal (bil lisan) dan scriptural (bil qalam), tetapi pendekatan aktual atau tindakan (bil arkan atau bil hal) serta berorientasi kepada masalah-masalah ibadah ijtima’iyah. Dengan demikian, tujuan dakwah agar manusia memperoleh dunia khasanah dan akhirat khasanah dapat tercapai.

Dakwah bil hal pada dasarnya adalah keseluruhan upaya pengembangan masyarakat dalam rangka mewujudkan tatanan sosial ekonomi dan kebudayaan menurut ajaran Islam. Dengan demikian, sasaran dakwah bil hal adalah masyarakat dengan fokus masalah-masalah sistem/struktur ekonomi dan kultural yang melingkupinya. Masukan-masukan dalam dakwah bil hal adalah hal-hal yang menyangkut kebutuhan dan kepentingan masyarakat.

Mengingat sasaran dakwah bilhal adalah keseluruhan permasalahan sistem/struktur ekonomi dan kultural masyarakat atau dalam rangka mewujudkan sistem/struktur kemasyarakatan yang Islami, maka penyelenggaraan dakwah bil hal memerlukan dukungan metodologi dan kelembagaan yang sepadan. Metodologi dalam dakwah bil hal yang dipandang tepat ialah metodologi pengembangan masyarakat dari dalam. Suatu metodologi yang berusaha mengembangkan prakarsa, peran serta dan swadaya masyarakat dalam memenuhi keperluan dan kepentingannya.

Adapun kelembagaan penyelenggara dakwah bil hal harus merupakan kelembagaan “profesional kerakyatan” yaitu suatu kelembagaan yang didukung oleh sarana dan manajemen modern yang mencakup kepada pemihakan terhadap kepentingan rakyat. Bentuk kelembagaan swadaya ini bermacam-macam, disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, dan ketersediaan pranata yangh ada. Secara formal dapat berupa kelembagaan yang dikelola oleh Ta’mir Masjid/Remaja Masjd, Majlis Ta’lim, pesantren, sekolah, koperasi atau kelompok fungsional lainnya. Wallahu a’lam bisshawab. (Penulis, Ketua Umum MUI
Provinsi Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here