Daerah Realisasi Investasi Tertinggi, Banten tak Masuk Lima Besar

JAKARTA, (KB).- Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) BKPM mencatat selama kuartal III-2019, lima daerah dengan realisasi investasi tertinggi di Pulau Jawa Rp 112,1 triliun naik 14,4% dari kuartal III tahun 2018. Sedangkan investasi di luar pulau Jawa sebesar Rp 93,6 triliun.

Dari lima daerah itu, tidak ada Provinsi Banten. Adapun realisasi tertinggi adalah pertama DKI Jakarta dengan Rp 41,4 triliun. Kemudian disusul Jawa Barat yang mencapai Rp 33,4 triliun. Lalu ada Jawa Timur dengan realisasi l Rp 14,8 triliun, disusul oleh Riau dengan realisasi Rp 13,1 triliun. Selanjutnya ada Jawa Tengah dengan Rp 11,1 triliun dan sisanya Rp 92,2 triliun dibagi di beberapa daerah.

“Tidak lagi di Pulau Jawa tapi sudah merata. Prospek investasi di luar Jawa mulai menjanjikan efek pembangunan infrastruktur yang dibangun secara masif,” ucap Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, dikutip dari Okezone, Jumat (1/11/2019).

Sedangkan realisasi investasi berdasarkan sektor adalah pertama transportasi, gudang dan telekomunikasi yang mencapai Rp 39,3 triliun. Kemudian listrik, gas dan air yang mencapai Rp 39,1 triliun.

Kemudian realisasi di sektor konstruksi yang mencapai Rp 14,9 triliun. Lalu ada perumahan, kawasan industri dan perkantoran yang mencapai Rp 16,4 triliun dan terakhir adalah tanaman pangan, perkebunan peternakan yang mencapai Rp 15,6 triliun.

“Ke depan akan mendorong program yang menyebabkan nilai tambah. Mudah-mudahan dengan hilirisasi bisa kita selesaikan perlahan-lahan,” ucapnya.

Sementara itu, BKPM mencatat realisasi investasi sepanjang kuartal III-2019 mencapai Rp 205,7 triliun atau naik 18,4% dibandingkan periode yang sama tahun tahun lalu (year on year/yoy) yang hanya Rp 173,8 triliun.

Angka realisasi kuartal III-2019 dibandingkan dengan realisasi kuartal II-2019 lalu ada kenaikan sekitar 2,6%. Pada kuartal II-2019 angka realisasi investasi hanya Rp 200,5 triliun saja. Sementara sejak Januari hingga September realisasi investasi Rp 601,3 triliun.

Lebih rinci Bahlil menjelaskan, dari pertumbuhan PMDN pada Januari hingga September 2019 mencapai Rp 283,5 triliun. Sedangkan realisasi PMA pada semester pertama 2019 mencapai Rp 317,8 triliun. Capaian tersebut terdiri atas realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 100,7 triliun dan realisasi penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp 105 triliun.

Menurut dia, pemilihan umum yang berjalan damai memberikan sinyal positif pada nilai investasi. Dengan capaian ini, dirinya optimistis target realisasi investasi tahun 2019.

“Realisasi triwulan (kuartal) III masih dalam koridor perencanaan kita Rp 205,7 triliun. Realisasi kita Rp 792 triliun,” ujarnya.

Penyerapan naker turun

Selain itu, BKPM mencatat realisasi penyerapan tenaga kerja (naker) selama kuartal III-2019 adalah sebesar 212.581 orang. Angka ini terdiri dari realisasi serapan tenaga kerja dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebanyak 109.475 orang dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebanyak 103.581 orang.

Jika dibandingkan kuartal sebelumnya, realisasi penyerapan tenaga kerja di kuartal III ini mengalami penurunan dibandingkan kuartal II-2019. Pada kuartal II-2019 lalu, serapan tenaga kerjanya adalah 255.314 orang.

Sedangkan dibandingkan periode yang sama tahun lalu juga mengalami penurunan sekitar 1.000 tenaga kerja. Karena pada triwulan III-2019 lalu, realisasi serapan tenaga kerja mencapai 213.731 orang.

Dia mengatakan, penurunan ini dikarenakan adanya pemangkasan pegawai pada beberapa pabrik. Pemangkasan dilakukan karena adanya alih teknologi dari yang sebelumnya manual berubah menjadi mesin. “Awalnya manual tapi pengusaha menggunakan mesin dan ada pemangkasan tenaga kerja,” ujarnya. (SJ)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here