Curug Pancuran, Surga Tersembunyi di Lebak Gedong

BELUM banyak yang tahu jika salah satu destinasi wisata yang cukup banyak dan tersebar disejumlah wilayah kecamatan di Kabupaten Lebak adalah destinasi wisata air terjun atau biasa disebut curug. Salah satunya adalah Curug Pancuran.

Arti dari Curug Pancuran adalah air yang memancur. Sesuai dengan namanya, curug tersebut memancurkan air yang sangat deras dan indah. Curug adalah sebutan untuk sebuah air terjun yang berukuran kecil dan memiliki ketinggian yang rendah yang mudah dicapai.

Jika Anda memiliki waktu libur dan ingin menyegarkan pikiran dan melepaskan diri dari kepenatan rutinitas sehari-hari, berwisata ke curug bisa menjadi alternatif pilihan untuk menyegarkan pikiran. Untuk berwisata ke curug biasanya sangat ekonomis karena sebagian besar objek wisata curug yang ada di Kabupaten Lebak masih dikelola sendiri oleh warga sekitar sehingga fasilitasnya pun seadanya.

Namun untuk bisa menikmati keindahan pesona alam dan kesegaran air terjun, dibutuhkan perjuangan tersendiri karena sebagian besar infrastruktur jalan menuju curug masih sangat menantang. Salah satu curug yang patut dikunjungi oleh wisatawan adalah Curug Pancuran yang berada di Kampung Cibarani, Desa Lebak Sangka, Kecamatan Lebakgedong. Curug ini mungkin tidak setenar curug-curug lain yang ada di Lebak Gedong, karena masih banyak yang belum mengetahui pesona Curug Pancuran.

Salah seorang anggota Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Lebak, Desi Rachmawati atau oleh rekan sesama komunitasnya lebih dikenal dengan sebutan Desi Jsa, membagikan pengalamannya menikmati keindahan Curug Pancuran untuk pembaca setia Kabar Banten.

Lokasi yang berjarak sekitar 32 km dari kota Rangkasbitung atau sekitar 2 jam perjalanan untuk mencapai lokasi itu, pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda dua. Sebab, kendaraan roda empat hanya bisa sampai ke Desa Cigebrok, dan kita terpaksa harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Namun perlu diingat, kendaraan yang kita kendarai harus yang benar-benar sehat karena harus melalui jalur yang menanjak, yang cukup memacu adrenalin bagi sebagian orang.

”Sebelum sampai ke lokasi kita melewati hamparan sawah yang sangat indah dan dengan tanjakan yang kiri kanan pemandangan sangat luar biasa. Tapi harus tetap hati-hati, karena jika lengah sedikit bisa jatuh ke jurang. Saya dan beberapa teman seperjalanan akhirnya memutuskan untuk turun dari motor karena merasa takut juga,” kata Desi sambil tertawa ringan.

Menurut Desi, akses jalan menuju lokasi curug memang masih kurang mendukung karena hanya bisa dilewati dua motor dengan tekstur jalan masih berbatu dan seadanya. ”Sangat disayangkan menuju tempat wisata yang indah tapi belum didukung fasilitas yang memadai,” ujarnya.

Desi menuliskan, saat berkunjung ke lokasi itu mereka singgah di rumah salah seorang penduduk bernama Pak Emis, dan menitipkan bahan masakan kepada istri Pak Emis untuk diolah sebagai makan siang saat mereka kembali dari curug.

”Jalur yang dilalui lumayan menguras tenaga karena menuruni hutan dan mengikuti arus aliran sungai. Mungkin tracknya tidak separah curug-curug yang lain. Tapi untuk pemula lumayan bikin ngos-ngosan. Sepanjang perjalanan kami disuguhi rindangnya pepohonan membuat kita tidak terlalu lelah di terpa sinar mentari,” ujarnya.

Setelah hampir satu jam akhirnya kita tiba juga di Curug Pancuran. Mata tak berkedip. Takjub akan keindahan air terjun ini. Benar-benar surga tersembunyi. Tak pikir panjang langsung kami berlari menghampiri untuk merasakan sensasi dinginnya air pancuran alam tersebut.

”Untuk yang tidak bisa berenang jangan khawatir, karena curug ini tidak dalam. Jadi aman lah jika untuk sekadar berendam merasakan shower alami dari curug ini. Nahh, buat yang belum pernah nyoba ayo datang saja dijamin tidak akan menyesal,” tutur Desi berpromosi. (Galuh Malpiana)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here