Curug Dengdeng, Pesona Keindahan di Tengah Hutan

DARI sekian banyak destinasi wisata air terjun (curug) yang tersebar di Kabupaten Lebak, salah satu yang cukup familiar bagi para pencinta alam, khususnya wisata curug adalah Curug Dengdeng.

Curug yang berada di tengah hutan Kampung Cigaharu, Desa Kadujajar, Kecamatan Malingping ini memiliki ketinggian sekitar 25 meter, dan seolah telah menjadi salah satu curug yang wajib dikunjungi oleh pencinta curug.

Untuk tiba di lokasi diperlukan waktu sekitar dua jam dari kota Rangkasbitung dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Namun untuk kendaraan roda empat sebaiknya yang berbodi agak tinggi mengingat ada beberapa jalan terjal serta akses jalan yang masih berbalut tanah merah.

”Curug Dengdeng memiliki debit air yang sangat deras, sehingga jika berada dekat dengan curug, pakaian kita akan basah akibat cipratan atau hempasan air yang jatuh. Di curug ini juga kita bisa berenang atau sekadar berendam. Rekan seperjalanan dari komunitas jalan satapak sangat asyik bermain air di curug ini. Tapi untuk yang tidak bisa berenang harus hati-hati karena kedalam airnya cukup lumayan,” kata salah seorang anggota Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Lebak, Desi Rahmawati melalui tulisannya yang dikirim pada Kabar Banten.

Sayangnya, curug ini belum dikelola dengan baik oleh masyarakat sekitar. Padahal, Curug Dengdeng merupakan salah satu potensi besar pariwisata alam Lebak Selatan yang sangat indah dan masih alami.

”Kita ke sini pun masih gratis. Paling kalo ada warga yang mau jagain motor kita. Kita cuma bayar buat parkiran,” ujar Desi.

Tidak jauh berbeda dengan curug lain yang ada di Lebak, ujar Desi, untuk mencapai Curug Dengdeng juga harus melalui trak yang lumayan rumit, seperti menuruni tebing yang dapat memacu adrenalin atau bahkan membuat gemetaran karena kurangnya pengaman untuk melewatinya.

”Untuk berpegangan saat melintasi tebing itu, hanya tersedia bambu yang sudah lapuk. Tapi apapun yang didapat dengan susah payah tidak akan mengkhianati. Rasanya tidak akan sia-sia perjuangan kami menempuh trak itu karena keindahan curug ini benar-benar luar biasa. Sangat pantas rasanya jika kami menyebur Lebak sebagai negeri surganya curug,” tuturnya. (Tono Soemarsono)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here