Jumat, 22 Februari 2019

Curug Ciperang, Menelusuri Trek Bebatuan Besar Hingga Sela Gunung

Curug Ciperang menawarkan suasana dan destinasi wisata yang bisa memacu adrenalin menyusuri derasnya arus air yang dikucurkan secara terus menerus dari sebuah air terjun atau curug. Salah seorang penggiat pariwisata Lebak, khususnya wisata curug, Dian wahyudi, membagikan kisahnya menyusuri Curug Ciperang yang berlokasi di Kampung Muhara, Desa Ciladaeun, Kecamatan Lebakgedong.

Untuk menggambarkan keindahan dan keseruan berwisata menelusuri bebatuan dan arus air Curug Ciperang, kami teruskan tulisan Dian Wahyudi secara utuh. Curugnya memang tidak terlalu tinggi, tapi cukup deras, apalagi saat kami berkunjung beberapa hari telah turun hujan, termasuk hari saat kami kemari, hujan besar, reda, gerimis, hujan lagi, airnya bergulung. Meminjam istilah dalam serial Wiro Sableng besutan Tito Bastian, hanya menghabiskan waktu sepeminuman teh saja untuk menuju curug ini.

Treknya cukup lumayan disaat musim hujan, pematang sawah jadi berlumpur dan lengket. Tapi tak perlu khawatir, akan terbayar lunas oleh view alamnya yang sangat eksotik. Sawah yang menawan dan liukan sungai yang memesona. Warga sekitar menyebut air terjun (Curug) ini dengan nama Curug Ciperang. Lokasinya berada di Kampung Muhara, Desa Ciladaeun, Kecamatan Lebakgedong.

Dari Rangkasbitung menempuh sekitar waktu 1,5 jam arah Kecamatan Cipanas. Perjalanan dilanjutkan sebelum Jembatan Ciladaeun Kecamatan Lebakgedong belok ke kiri. Tapi karena kami memiliki seorang teman didekat jembatan, kami mampir terlebih dahulu sekalian meminta beliau agar mau menjadi guide, serta menyiapkan makan siang sebelum kami pulang.

Sejurus kami berjalan keluar dari jalan raya menuju persawahan, wangi tanah lumpur telah menyergap hidung kami, segar, karena jalur yang kami lewati pematang sawah yang sering dilewati petani. Saat musim hujan ini jadi cukup becek berlumpur, untung masih terdapat bongkahan-bongkahan batu, jadi kami berjalan, berloncatan dari batu ke batu, sesekali terpeleset mebes ke dalam lumpur tak mengapa.

Jalan mulai menanjak memasuki rindang hutan, kicauan burung leuweung semakin menambah suasana damai. Biasa, hati-hati melangkah, karena kadang kanan kita tebing jurang sungai. Saya merekomendasikan menggunakan sandal gunung saja untuk musim seperti saat ini, dan hanya mengajak usia remaja, karena medan berbatu besar yang agak “menyusahkan”, terutama untuk kami yang sudah berbobot, berloncatan dan memanjat di atas batu-batu besar.

Menarik, kami bahkan harus masuk “sela gunung”, celah sempit hasil pahatan petani setempat. Nerekel batu tinggi berlumut dengan sengked tipis saja, cuan nyolesad, menguji sedikit adrenalin, resep dak. Kami disambut tebing tinggiiiii, jika dikembangkan untuk olah raga panjat tebing sepertinya bisa dijajaki. Kami menuju bagian atas curug, karena viewnya cukup menawan. Berlama kami di sana, sambil “masak” mi yang kami bawa dan nyeruput kopi “kupu-kupu” hitam yang suegeeer.

Hujan deras menerjang kami, untung dibagian bawah tebing tinggi terdapat bagian yang tidak terkena hujan deras, perlindungan alami. Berlama-lama, kami seolah tak mau pulang, damai, gemericik air yang mengalir. Menikmati Curug Ciperang ini sepertinya tak cukup sehari. Terdapat tempat lapang yang cukup untuk kegiatan alam. Untuk mendapatkan foto eksotik curug, kita harus turun kembali melalui tebing-tebing licin, rugapragap dicelah dan batu berlumut. Tak terlukiskan secara utuh, dipersilakan datang sendiri di trek ini. Rasakan sensasinya. (Galuh Malpiana)*


Sekilas Info

Pemprov Banten Berharap Kunjungan Wisatawan Cina Meningkat

SERANG, (KB).- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten berharap kunjungan wisatawan asal Cina ke Banten meningkat. Sebab, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *