Curug Bentang, Trek Ekstrem di Kawasan Cisungsang

TAK menyangka kawasan Kasepuhan Cisungsang yang dikenal dengan kegiatan Seren Taun dan kearifan lokalnya, ternyata menyimpan keindahan alam yang luar biasa, salah satunya keindahan air terjun yang masih alami.

Bersama Ngaprak Leuweung, komunitas pecinta alam yang didirikan oleh anak-anak muda Desa Cikatomas Cilograng, kami mendatangi dan menjajal trek curug (air terjun) di kawasan Cisungsang ini.

Irfhan Wahyudi (Fhandevart) yang mengikuti perjalanan, serta menjajal trek Curug Bentang itu, membagikan keseruannya melalui tulisan yang kami tampilkan secara utuh untuk pembaca setia Harian Umum Kabar Banten.

Warga sekitar menyebutnya dengan nama Curug Bentang, masuk dalam wilayah administratif Desa Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Dari awal treking, sejak dari Puskesmas Cisungsang, kami sudah disuguhi perjalanan menanjak, walau tidak seberapa jauh namun lumayan dapat menguras sedikit tenaga kami.

Setelah tanjakan dapat dilalui, kami meneruskan perjalanan dengan menyusuri irigasi. Setelah sekitar 10 menit perjalanan, kami harus memotong jalan karena jika terus menyusuri irigasi perjalanan akan terlalu jauh karena harus memutar. Tanjakan pun menjadi alternatif kami untuk menjadikan jalan pintas, sampai akhirnya menemukan jalan irigasi kembali.

Jauh melangkah, sesekali kami istirahat untuk sekadar minum dan mengumpulkan tenaga. Di antara kami belum ada seorangpun yang pernah mendatangi curug ini. Di tengah perjalanan, kami mulai bingung, terdapat persimpangan yang harus kami pilih, antara mengambil jalur kiri atau kanan.

Setelah diambil kesepakatan akhirnya kami memutuskan untuk ambil jalur kanan. Dalam pikiran kami, kalau ambil jalur kanan mungkin akan cepat sampai. Sebab menuju arah sungai. Keputusan kami ternyata berbuah pahit, ternyata kami tersesat, sebuah pengalaman yang berharga.

Sebagai info, untuk yang akan menjajal trek ini, ambillah jalur kiri. Akan tetapi, jika sudah telanjur mengambil jalur kanan, sampai menemukan jembatan gantung sebaiknya jangan diteruskan, segera kembali lagi ke arah persimpangan tadi dan ambil jalur kiri mengikuti jalur irigasi, sampai menemukan bendungan irigasi.

Untuk menuju lokasi Curug Bentang, hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki karena trek yang ditempuh harus menyusuri irigasi yang dibuat warga setempat untuk pengairan ke sawah mereka.

Sesampainya di bendungan irigasi, disinilah perjalanan sebenarnya baru dimulai. Kami harus bersusah payah menaiki batu dengan cara merayap, kemudian turun lagi ke arah sungai, kemudian dilanjut menyusuri pinggir sungai dengan cara bergelantungan di akar-akar pohon untuk bisa melewatinya (kaya onyet aja hihiā€¦)

Menegangkan. Sampai akhirnya, kami tiba di curug tersebut dengan perjuangan bak Super Power. Perjalanan ini sungguh diwarnai dengan jatuh bangun dengan tenaga yang tersisa (kaya lagu dangdut banget yah..).

Tidak sia-sia semua perjalanan berat yang sudah dilalui tadi, semuanya terbayar lunas oleh sejuk dan indahnya Curug Bentang. Subhanallah, sangat indah. Terima kasih ya Allah atas semua keindahan dan ciptaanmu yang sangat luar biasa. Keindahan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Saat itu, karena kondisi cuaca tidak mendukung, keberadaan kami di sana tidak terlalu lama, hanya beberapa menit saja, mungkin sekitar 10 menitan. Langit sudah gelap, ditakutkan terjadi hujan di hulu sungai. Andai hujan terjadi otomatis kami tidak akan bisa kembali pulang, harus menunggu air sungai surut terlebih dahulu.

Jalan pulang yang kami lalui harus menyeberang sungai kembali, seperti saat menuju lokasi. Jika air sungai meluap, jalan kami pulangpun pastinya akan tertutup.

Lama atau waktu perjalanan yang ditempuh ke lokasi Curug Bentang ini sangat relatif bergantung terbiasa atau tidak dalam melakukan perjalanan kaki ke tempat-tempat yang memang masih jarang dilalui manusia. Saat itu, kami memerlukan sekitar 3 jam, bahkan bisa lebih untuk dapat sampai ke lokasi curug (karena sempat salah jalan).

Bagi yang suka petualangan dengan berjalan kaki, trek ini sangat cocok sekali. Karena di sepanjang perjalanan, kita bisa merasakan sensasi petualangan alam. Kita harus bisa melewati beberapa trek yang memang sedikit ekstrem.

Dari menyusuri irigasi dengan lebar sekitar 30 cm bahkan kurang, yang hanya bisa dilalui satu jalur saja. Bahkan sampai harus bergelantungan di akar pohon di pinggir sungai untuk bisa sampai ke tempat air terjun tersebut. Disini diperlukan konsentrasi, fisik prima dan kerja sama tim.

Pada saat kami mendengar kata Curug Bentang, dalam benak kami mengira bahwa curug ini sama seperti air terjun yang lainnya. Ternyata air terjun ini berbeda dengan air terjun kebanyakan. Aliran air yang jatuh dari tebing tinggi, airnya jatuh langsung ke sungai jadi seolah-olah air terjunnya membelah sungai yang mengalir di bawahnya.

Kami sarankan, bagi kalian yang akan menjelajah atau mengunjungi air terjun tersebut hendaknya berhati-hati dalam melangkah dan mencari pijakan kaki. Karena kondisi jalan yang licin dan berlumut membuat kondisi jalur kurang bersahabat dan kami sarankan juga jangan berkunjung pada saat musim hujan.

Karena jalur yang akan dilalui rentan dengan longsor dan air meluap yang tidak bisa diprediksi. Apalagi pada saat akan mencapai lokasi kita harus menyusuri pinggir sungai untuk dapat mencapai air terjun tersebut.

Ingat, utamakan keselamatan kalian, karena itu lebih penting dari pada apapun dan jangan pernah memaksakan diri jika memang tidak dapat dilanjutkan. Air terjun tidak akan kemana-mana dan berpindah-pindah tempat, kapan pun kita bisa mendatanginnya kembali.

Gunakanlah sandal gunung yang memiliki pelindung mata kaki, karena jika sering kena air biasanya akan rentan lecet pada kaki kita. Dan bawalah perbekalan yang cukup.

Satu hal lagi, jaga dan rawatlah alamnya jangan sampai meninggalkan sampah di sana atau dengan sengaja membuangnya ke sungai, dan jadilah petualang yang baik. (T. Soemarsono)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here