Minggu, 23 September 2018
Sejumlah perajin ikan asin di Karangantu, Kota Serang, Banten menjemur ikan asin hasil olahannya.*

Cuaca Buruk, Produksi Pengolahan Ikan Asin Menurun

SERANG, (KB).- Sejumlah perajin ikan asin di Karangantu, Kota Serang, Banten mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan bahan baku ikan dari nelayan untuk kebutuhan produksi. Selain sulit mencari bahan baku, perajin juga dihadapkan persoalan proses pengeringan (jemur) ikan akibat cuaca buruk.

Akibatnya, jumlah produksi pengolahan ikan menurun. “Sudah beberapa bulan ini kami sulit mencari pasokan ikan dari nelayan. Di tambah lagi cuaca sangat tak menentu, kadang panas kadang hujan. Jadi, kami sulit untuk menjemur ikan,” kata salah seorang nelayan, Bahri (26), Selasa (13/3/2018).

Kondisi cuaca seperti ini, kata dia, jelas sangat memengaruhi hasil produksi pengolahan ikan asin. Apalagi hampir sebagian besar nelayan di Karangantu mengandalkan proses pengeringan melalui panas matahari. Selain itu, cuaca panas yang tak menentu juga berdampak pada kualitas ikan, sehingga perajin terancam mengalami kerugian.

”Kalau cuacanya bagus, biasanya satu hari ikan yang dijemur sudah kering. Sekarang bisa memakan waktu tiga sampai empat hari. Karena lama proses keringnya, tidak sedikit ikan yang busuk. Untuk menyiasatinya, kita perbanyak garam,” ucapnya. Menurutnya, penyebab sulitnya pasokan ikan dari nelayan kemungkinan akibat kondisi cuaca laut yang tidak baik. Sehingga nelayan banyak yang tidak melaut untuk mencari ikan.

Padahal, para perajin sangat membutuhkan pasokan ikan dari nelayan, seperti ikan teri, samge, tembang (sarden), cumi dan japuh untuk olahan ikan asin, ikan rebusan dan ikan kering tawar. ”Kondisi semacam ini juga membuat ongkos produksi jadi tinggi. Ditambah permintaan di pasaran yang semakin sedikit,” katanya.

Lebih parah, kata dia, ikan rebusan, seperti ikan teri besar dan teri nasi. Karena prosesnya tidak diawetkan dan kondisi ikan yang sedikit lembab membuat ikan rebusan lebih cepat ditumbuhi jamur dan larva. Sehingga kondisi ini perlu segera mendapatkan solusi dari pemerintah agar perajin ikan tidak sampai mengalami kerugian yang cukup besar.

”Keuntungan yang didapatkan memang besar, sekali pengiriman bisa mencapai Rp 30 juta. Tapi jika kondisinya seperti sekarang kerugiannya juga bisa berlipat ganda dari keuntungan, bisa mencapai sekitar Rp 50 juta,” ucapnya.

Ikan asin hasil produksi perajin, biasanya dikirim ke daerah Pantai Indah Kapuk sekitar tiga ton dalam satu hari. Namun karena pasokan ikan susah, maka proses pengiriman bisa memakan waktu seminggu atau bahkan lebih. “Kalau pasokan ikannya banyak, sehari bisa ngirim. Tetapi seperti sekarang bisa seminggu, karena nunggu stok ikannyua dulu,” katanya. (Rizqi Putri/Job)***


Sekilas Info

Suzuki Cilegon Tawarkan DP Murah All New Ertiga

CILEGON, (KB).- Dalam rangka memperingati Hari Pelanggan Nasional (HPN), PT Restu Mahkota Karya (RMK) cabang Cilegon …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *