Sabtu, 17 November 2018

Cilegon Tatap Kota Layak Anak Madya

Pemerintah Kota Cilegon berhasil mendapatkan penghargaan Kota Layak Anak (KLA) tingkat Pratama. Meski demikian, daerah yang dikenal dengan sebutan Kota Baja itu menatap penghargaan lebih tinggi yakni penghargaan Kota Layak Anak tingkat madya.

“Walaupun Kota Cilegon baru pertama kali meraih penghargaan Kota Layak Anak tingkat Pratama, tetapi kami akan berusaha meraih KLA tingkat Madya pada tahun 2019,” kata Kepala DP3AKB Heni Anita Susila usai menggelar rapat evaluasi di Aula Bappeda, Rabu (17/10/2018).

Selain mendapatkan penghargaan Kota Layak Anak, Kota Cilegon melalui SMP IT Raudhatul Jannah menerima penghargaan sekolah ramah anak. Penghargaan itu merupakan kerja keras semua OPD. Mulai dari Dinas Pendidikan (Disdik) dengan capaian sekolah ramah anak, Dinas Kesehatan (Dinkes) melalui puskesmas ramah anak.

Selain itu, Dinas Kependudukan Catatan Sipil (DKCS) dengan program pemenuhan hak sipil anak yaitu bebas biaya pembuatan akta kelahiran, serta Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) melalui pembangunan ruang publik untuk anak, seperti taman layak anak, alun-alun, dan ruang terbuka hijau dan lainnya.

“Pada saat itu, kami menerima dua penghargaan selain Kota layak Anak ada juga sekolah ramah anak dan diterima oleh SMP IT Raudhatul Jannah,” ujarnya.

Kini, Pemkot Cilegon menatap ke depan untuk meraih penghargaan lebih tinggi lagi yakni penghargaan Kota Layak Anak untuk kategori tingkat Madya. Untuk itu, dirinya meminta agar program Kota Layak Anak dapat bersinergi dengan OPD lain. Sehingga apa yang selama ini diinginkan terutama penghargaan tingkat madya bisa tercapai.

“Indikator untuk meraih penghargaan tingkat madya memang cukup banyak. Ada 24 indikator pemenuhan hak dan perlindungan anak yang secara garis besar tercermin dalam lima cluster hak anak. Adapun kelima cluster itu hak sipil dan kebebasan, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, kesehatan dasar dan kesejahteraan, pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya, dan perlindungan khusus bagi 15 kategori anak,” tuturnya.

Namun, kata Heni, tidak ada yang tidak mungkin selagi semua OPD bersinergi dan bahu-membahu dalam meraih penghargaan yang diimpikan guna mewujudkan kota layak anak tingkat madya. Beberapa permasalahan, kata dia, harus dimusyawarahkan di antaranya masih banyak iklan rokok, penanganan anak jalanan dan lainnya.

“Salah satu syarat untuk meraih predikat KLA Tingkat Madya adalah harus bebas asap rokok di kantor pelayanan publi, maupun iklan rokok. Persoalannya menjadi kompleks tatkala iklan rokok juga dinilai sebagai sumber pendapatan yang cukup besar. Dilema memang karena itu semua harus bisa duduk bersama. Kami berharap kepala daerah bisa memberikan arahan-arahan untuk menggapai penghargaan tingkat madya,” ucapnya.

Sementara itu Plt Wali Kota Cilegon Edi Ariadi menyatakan, Kota Cilegon sendiri secara konsisten sudah berupaya memberikan jaminan terhadap pelaksanaan hak maupun perlindungan anak dengan diterbitkannya Perda No.9/2015 tentang Perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan dan Perwal No.40/2017 tentang Rencana aksi daerah pengembangan Kota Layak Anak Kota Cilegon tahun 2017-2021.

“Penghargaan ini berkat kerja sama seluruh OPD atau instansi maupun lembaga yang dapat berperan aktif sesuai tugas untuk mendukung terlaksananya kota layak anak pada tahun 2018. Dan hasilnya, Pemkot Cilegon menerima penghargaan. Untuk tahun 2019, kami memang menargetkan lebih baik lagi yakni tingkat madya, diperlukan sinergitas yang baik antar lintas sektoral,” ucapnya. (Himawan Sutanto)*


Sekilas Info

Pengelola Hiburan di Kota Cilegon Membandel

CILEGON, (KB).- Meski sudah berkali-kali dirazia dan diberi peringatan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon, sejumlah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *