Cikolelet Rintis Buah Tangan Kopi Robusta

Desa wisata Cikolelet di Kecamatan Cinangka mulai mengembangkan sayap peningkatan ekonomi masyarakat. Salah satunya dengan merintis pengolahan kopi lokal jenis Robusta sebagai oleh-oleh Cikolelet atau dikenal dengan Cikopi alias Cikolelet Kopi.

Kepala Desa Cikolelet Ojat Darojat mengatakan, bumi Cikolelet memang memiliki banyak keanekaragaman. Baik dari kuliner hingga hasil bumi. Namun saat ini ada satu hasil bumi yang coba diperkenalkan ke pasaran sekitar lima bulan kebelakang yakni produk Kopi Robusta yang dinamai Cikopi atau Cikolelet Kopi.

Ojat menjelaskan, untuk Kecamatan Cinangka sendiri terdapat dua desa yang menjadi produsen kopi terbesar yakni Desa Mekarsari dan Cikolelet. Dirinya berharap adanya Cikopi ini bisa menambah kekayaan alam Cikolelet yang berbahan dasar dari hutan.

“(Kopi) sebagian besar di tanah perhutani dan sebagian di tanah penduduk. Tanamanya ada 10 hektar yang 3 hektar di tanah penduduk 7 hektar di tanah perhutani, itu digarap lembaga masyarakat desa hutan. Kita ada penggarap dan kerjasama Perhutani,” ujar Ojat kepada Kabar Banten, Rabu (9/10/2019).

Ojat mengatakan kopi Cikolelet sendiri sudah pernah di bawa ke Bali dan disana Barista menilai jika kopi ini layak untuk dipasarkan. Yang terpenting kata dia, buah kopi ini saat dipanen harus matang agar kualitasnya baik.

Untuk saat ini, kata Ojat, pasar kopi lokal ini masih belum luas sebab baru dikenalkan. Namun ia yakin kedepannya produk ini akan semakin luas, karena produksi kopi terbesar di Cinangka ada di Cikolelet.

Demi mendukung pengembangan buah tangan Cikopi, Pemerintah desa Cikolelet akan menganggarkan bantuan permodalan dari alokasi dana desa tahun 2020. Dana itu akan digunakan untuk membeli peralatan. Sebab untuk roasting kopi harus betul-betul menggunakan alat, penggilingan serta kemasan yang bagus.

“Kita konsen 2020 alokasi 60 persen dana desa untuk bantuan UKM dan e-Kraft, agar Cikopi bisa jadi atraksi di Cikolelet,” katanya.

Sementara, Ketua Komunitas Pecinta Alam Cikolelet Suwanda mengatakan, jenis kopi di daerahnya adalah Robusta buhun atau kecil. Keunggulan dari kopi ini memiliki rasa yang agak asam, tidak terlalu pahit dan ada rasa manis diakhirnya.

“Kalau pemasaran belum besar karena baru produksi dan belum banyak. Biasa saya jual 100 gram Rp 15 ribu bubuk,” ujarnya.

Ia menjelaskan, untuk Cikolelet sebenarnya bukan perkebunan kopi. Namun lebih pada hutan kopi, dimana kopi disana tumbuh bersama tanaman lain.

“Itu perkiraan 20-30 hektar kopi tapi enggak satu hamparan pisah pisah. Kalau potensi pasar memang lumayan bagus, masalahnya kita cara ambilnya juga masih kaya zaman dulu belum banyak yang matang, yang hijau juga diambil. Kalau saya yang merah saja, petani lain campur, padahal yang bagus itu yang merah. Kedepan mudah mudahan bisa berubah cara ambilnya. Kita masih butuh pembinaan,” tuturnya. (Dindin Hasanudin)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here