Rabu, 20 Juni 2018

Cerita Korban Banjir Kampung Rokal

SABTU (10/2/2018) sekitar pukul 03.30 WIB dini hari, warga Lingkungan Rokal yang bermukim di 5 RT, RW11, Kelurahan Jombang Wetan, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon terbangun dari tidur, karena wilayahnya dilanda banjir. Mereka tidak menduga air bah datang cukup deras dan tinggi menerjang kampungnya.
Rumah mereka terendam. Umumnya warga menyadari, bahwa dahulu kampungnya merupakan areal persawahan.

Salah seorang warga Rokal, Iyong (50) mengatakan, banjir pagi itu merupakan yang paling parah. Karena, banjir yang melanda kampung mereka sebelumnya hanya selintas. “Malam itu hujan sekitar pukul 01.00 WIB, tidak begitu deras, hanya gerimis, namun cukup lama,” katanya kepada Kabar Banten, Senin (12/2/2018). Hujan gerimis yang lama tersebut, ujar dia, berkelanjutan menjadi besar sampai dengan pukul 05.00 WIB. Akibatnya, air yang mengalir di saluran di lingkunganya meluap besar.

Ia menuturkan, mempunyai firasat banjir akan datang, karena saluran air yang menjadi patokan sudah tidak terlihat. Saluran air di Rokal tersebut ada dua, depan dan belakang. Untuk di depan sudah tidak terlihat. “Tiba-tiba dari arah barat, bergulung-gulung air yang deras langsung membanjiri halaman depan rumah saya.Waktu itu saya berpikir hanya selintas, namun tiba-tiba datang lagi dan akhirnya menjadi-jadi, sehingga masuk pekarangan rumah,” ucapnya.

Ia bersama istri berusaha menyelamatkan barang-barang elektronik, seperti kulkas,televisi, dan lainnya, namun tidak keburu, mengingat yang dipikirkannya, adalah bagaimana air, agar tidak masuk ke rumah. “Yang terpikirkan oleh saya, adalah bagaimana air, supaya tidak masuk rumah, karena ketika di depan ada tanggul, dari belakang masuk air deras, seperti disemprot dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Akhirnya, saya pasrah saja, kulkas, televisi, dan lainnya menjadi rusak,” tuturnya.

Lain lagi yang diceritakan Anto, warga Rokal lainnya, saat itu dia baru pulang ke rumah sekitar pukul 01.30 WIB. Begitu sampai rumah hujan turun dan dia langsung tertidur. Saat itu sekitar pukul 05.00 WIB, dia baru mengetahui air sudah masuk ke dalam rumahnya dengan ketinggian 40 sentimeter. “Waktu tidur miring, tangan saya menyentuh air di dalam kamar, saya berpikir, kok ada air, begitu saya buka mata, air berwarna hitam pekat sudah tinggi dan saya langsung mencabut kabel-kabel yang masih menempel di colokan,” katanya.

Khawatir terjadi masalah, lantas dia membangunkan istri dan anaknya untuk menyelamatkan barang-barang. Lalu, pihaknya menghubungi ketua RW setempat untuk segera diumumkan di alat pengeras suara musala. Ia mengatakan, barang-barang, seperti kamera, telepon genggam, televisi, serta surat-surat penting lainnya terendam, hingga butuh dua hari untuk menjemur, agar cepat kering. “Kalau barang-barang, seperti kamera, televisi, dan telepon genggam sudah rusak dan tidak berfungsi, tapi surat-surat ini yang sangat penting. Saya tidak tahu, biasanya tidak seperti ini banjir masuk ke rumah, paling hanya di emperan saja,” ujarnya.

Ia menduga, banjir di Rokal yang terparah tahun ini, adalah karena drainase yang sempit dan beberapa wilayah di sekitar Rokal tidak ada pembuangan dan lari ke arah Rokal, karena dataran rokal memang rendah. Setelah banjir surut, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Cilegon, Abadiah datang ke kampung tersebut, sambil mengirimkan bantuan. Warga menuturkan, membutuhkan mesin penyedot air. “Saya berharap, semua RT se-Kota Cilegon mempunyai mesin penyedot air, sehingga banjir bisa diminimalisir,” ucap Anto. (Himawan Sutanto)***


Sekilas Info

Libur Idul Fitri 1439 H, Arus Lalulintas Menuju Kawasan Wisata Anyer di Berlakukan Satu Arah

CILEGON, (KB).- Memasuki libur Idul Fitri 1439 Hijriyah, Polres Cilegon memberlakukan sistem satu arah menuju kawasan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *