CENDEKIAWAN KAMPUNG

Pada mulanya adalah kampung. Kita semua adalah anak-anak kampung. Siapapun dan dari golongan mana pun kita, saban tahun niscaya merayakan “hari besar” bernama “pulang kampung”. Pulang kampung telah menjadi hal yang lebih penting dibandingkan lebaran atau thanksgiving sekalipun. Kampung telah menjadi lokus ziarah, tempat kita ingin kembali. Tak peduli berapapun biayanya dan betapapun tinggi risikonya.

Kampung adalah objek kerinduan paling purba setelah kita melarutkan diri dalam pusaran urbanisasi. Urbanisasi bukan hanya tentang perpindahan penduduk, melainkan perubahan seluruh cara hidup (Lefebrve 1970/2003, dalam Rachman 2015:9). Perubahan cara hidup bahkan cara berpikir tersebut mengendap dan di belakang hari kita kenal sebagai kota.

Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari kampung ke kota. Demikianlah pengertian, dengan bantuan pendidikan, yang telah kita buat. Dengan pengetahuan yang dipasok institusi pendidikan, kita lantas menyebutkan bahwa penyebab urbanisasi adalah sempitnya lapangan pekerjaan dan munculnya keinginan memperbaiki kehidupan (baca: pendapatan). Kita menjadi lupa bahwa justru dunia pendidikanlah yang menjadi penyumbang paling signifikan bagi urbanisasi.

Pakar keagrariaan dan pedesaan, Noer Fauzi Rachman (2015:8), menyajikan keterangan yang cukup mengejutkan. Menurutnya, dunia pendidikan merupakan magnet terbesar bagi proses urbanisasi. Semakin tinggi pendidikan orang kampung, tuturnya, semakin tinggi pula motivasi mereka untuk meninggalkan kampungnya. Kampung ditinggalkan orang-orang yang pandai, termasuk untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.

Dunia pendidikan merenggut orang-orang terbaik yang dimiliki kampung. Kronologinya sangat sederhana: orang-orang terbaik pergi ke kota untuk mengecap pendidikan yang lebih tinggi. Lalu beberapa dari mereka berhasil menjadi kelas menengah dan memutuskan untuk tidak pulang ke kampungnya. Mereka hidup dengan membeli atau menyewa tanah dan rumah, tinggal di pinggiran kota, menjadi konsumtif dengan membeli motor dan mobil. Jalanan menjadi macet. Lalu untuk mengurai hal tersebut, pemerintah menambah fasilitas dan infrastruktur jalan. Kebijakan tersebut membuat kesenjangan pembangunan antara kota dan kampung kian menjurang.

Bukan hanya orang terbaik, kota juga mengambil orang-orang “biasa” yang dimiliki kampung. Beredarnya uang di kota-kota besar, menjadi daya tarik yang sukar dilawan. Apalagi ketika tanah-tanah yang ada di kampung turut dikuasai orang-orang perkotaan. Maka semakin banyaklah orang-orang kampung yang terpaksa hidup tanpa memiliki lahan untuk bertani, sehingga memutuskan pergi ke kota meski penuh dengan ketidakpastian. Padahal, jembatan yang bisa kita lalui untuk menengok masa lampau adalah pertanian, demikian yang diungkapkan Eric Hobsbawm (1994: 288-2089) dalam karyanya yang terkenal, Age of Extremes.

Anak-anak muda kampung yang lahir belakangan lantas memandang kampung dan dunia pertanian bukan sesuatu yang menjanjikan masa depan lagi. Dengan bekal pendidikan yang minim, mereka terpaksa pergi ke kota. Bekerja sebagai kelas terendah, hidup di wilayah-wilayah kumuh dan marjinal di kota-kota (Jellinek, 1977) dan mudah sekali berpindah-pindah, yang dalam istilah Jan Breman (1977), disebut sebagai footlose labor (Rachman, 2015:7). Merekalah yang hari ini kita saksikan di televisi sebagai korban penggusuran.

Kini tengoklah kampung saban lebaran tiba. Mereka yang berangkat ke kota dengan bekal pendidikan yang minim, yang saat bekerja kerap mendapat perlakuan tak manusiawi, mendapatkan standing ovation dari masyarakat. Mereka pandai melakukan dramaturgi: berpenampilan sangat baik, memakai pakaian terbaik, bahkan ada yang matanya tidak minus pun mengenakan kacamata. Mereka tampil layaknya orang-orang terdidik. Lalu di ujung masa libur lebaran, mereka akan kembali ke kota dengan membawa serta kerabatnya. Kelak, orang-orang baru itu akan pulang saat libur lebaran tahun depan, berpenampilan menarik, lalu membawa serta kerabat lainnya. Begitu seterusnya bagai lingkaran setan. Sampai kota tak kuat lagi menampung, sampai kampung menjadi semakin suwung.

Sementara itu orang-orang terdidik (baca: anak kuliahan) yang pulang kampung tidak mendapatkan apa yang didapatkan oleh mereka yang bekerja. Mereka pulang ke kampung dengan penampilan seenaknya, umumnya kurang memberikan impresi. Di kampung pun, mereka kurang bisa berbaur dengan masyarakat. Mereka menjadi pemilih teman, hanya mau bergaul dan berbicara dengan orang terdidik lagi. Bersikap biasa-biasa saja dengan masyarakat, namun menjadi heboh saat melayani tamu dari luar kampung yang merupakan kawan sekolah/kuliah mereka di kota.

Mereka tidak sadar bahwa yang mereka lakukan merupakan pupuk bagi suburnya persepsi yang selama ini tumbuh di benak orang-orang kampung. Dan bukan itu saja, mereka amnesia bahwa mereka telah meninggalkan akar mereka sebagai orang kampung. Inilah utang yang harus dilunasi oleh orang-orang terdidik. Lupa asal dan terjadi dengan amat massal. Padahal, pemerintah Jokowi dengan kebijakan “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan”, mestinya menjadi angin segar bagi orang-orang terdidik untuk pulang dan memberdayakan kampung.

Hal-hal positif di kota mestinya dia bawa untuk menginspirasi orang-orang kampung agar pembangunan kampung kaya akan inovasi. Bukan malah membawa adat ngota yang individualistik sehingga makin memperlebar kesenjangan. Kebijakan pemerintah terhadap desa, dengan dana yang digelontorkan berada pada kisaran 1 milyar lebih semestinya menjadi magnet yang cukup bagi orang-orang terbaik untuk pulang dan membangun kampungnya. Saat ini, dana tersebut baru digunakan untuk pos pembangunan fisik saja seperti menambal jalan tanah dengan paving blok. Atau membuat BUMDes yang sayangnya masih ada yang bercorak koperasi simpan pinjam. Saya pikir, dengan revolusi mental yang sedang dan terus digaungkan pemerintah, sayang sekali jika dana sebesar itu harus digunakan sekadar membangun fisik, sedangkan pembangunan mentalnya terabaikan.

Persoalan mental inilah yang harus menjadi perhatian orang-orang kampung yang mendapat kesempatan mengenyam pendidikan tinggi di kota. Tak perlu muluk-muluk, jadilah idola masyarakat kampung. Pada momen pulang kampung, tampillah dengan prima dengan pakaian terbaik. Sapa dan berbaurlah masyarakat. Bangkitkan kepercayaan mereka bahwa pendidikan tak mencerabut keramahan dan orisinalitas kampung. Gerakan keteladanan semacam ini bukan hanya akan menumbuhsuburkan kesadaran masyarakat kampung akan pendidikan, tetapi mengimbangi efek negatif dunia pendidikan bernama urbanisasi, dengan ruralisasi.

Dengan begitu, akan semakin banyak orang kampung yang menginginkan seperti orang-orang terdidik itu. Jika sudah begitu, maka akan semakin banyak pula orang-orang kampung yang pintar. Jika sebuah kampung dihuni oleh masyarakat yang terdidik nan pintar, maka pembangunan kampung akan mengalami percepatan. Tentu saja ke arah yang lebih baik. Karena orang terdidik sebenarnya tengah mengemban tugas kecendekiaan: mendidik, mengingatkan sekaligus memberi teladan.  (AtihArdiansyah/Direktur Eksekutif Rafe’i Ali Institute/Pengagas Gerakan Cendekiawan Kampung)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here