Cegah Urbanisasi dengan Upsus Jagung

SEBAGAI daerah terluas dengan sebagian besar masyarakatnya yang agraris, Kabupaten Lebak dinilai sangat cocok untuk pengembangan berbagai program pertanian pemerintah, termasuk program Upaya khusus (Upsus) jagung. Melalui penanganan yang tepat, keterlibatan berbagai stakeholder, dan terutama komitmen kuat pemerintah daerah dalam mengawal program terutama dalam mencari pasar, program itu diyakini akan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat petani yang pada gilirannya dapat mencegah terjadinya urbanisasi warga Lebak baik keluar daerah atau bahkan keluar negeri.

“Kami mendorong petani untuk terus mengembangkan pertanian jagung, terlebih pangsa pasar sudah jelas dengan adanya jaminan penampungan seluruh hasil panen jagung baik oleh gabungan pengusaha ternak unggas maupun Perum Bulog,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lebak Dede Jaelani, Jumat (28/7/2017). Melalui program Upsus jagung, ujarnya, petani Kabupaten Lebak menerima bantuan program upaya khusus (upsus) jagung seluas 30.000 hektare. Namun, panen perdana baru seluas 300 hektare di Desa Bulakan Kecamatan Gunungkencana.

”Produksi jagung itu ditampung oleh pabrik ternak unggas Balaraja Kabupaten Tangerang berupa pipilan dengan harga Rp 4.600/kg. Produksi panen jagung di daerah itu rata-rata lima ton sehingga menghasilkan pendapatan sekitar Rp 25 juta per hektare. Dengan pendapatan sebesar itu, insya Allah tidak akan terjadi urbanisasi warga Lebak ke luar daerah maupun luar negeri,” katanya.

Menurut Sekda, prospek pengembangan usaha budidaya tanaman jagung hibriba sangat bagus karena permintaan untuk pabrik pakan cukup tinggi. Terlebih pemerintah menghentikan impor jagung. Selain itu, dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional. ”Pengembangan tanaman jagung hibrida di Kabupaten Lebak bisa menjadikan lumbung jagung karena didukung lahan begitu luas. Program ini juga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat juga membuka lapangan pekerjaan. Dari sisi penyerapan tenaga kerja, pertanian jagung bisa mencapai 150 ribu orang dengan rata-rata per hektare lima pekerja,” ujarnya

Dede menambahkan, untuk menggenjot produksi jagung, pihaknya kini menjalin kerja sama dengan perusahaan BUMN di antaranya Perum Perhutani dan Perkebunan VIII dengan memanfaatkan lahan tidur yang jumlah mencapai ribuan hektare. ”Lahan tidur itu nantinya ditanam jagung oleh petani setempat sehingga bisa meningkatkan pendapatan ekonomi mereka. Kami bekerja keras agar Lebak menjadikan lumbung jagung dengan mengoptimalkan tenaga penyuluh, juga penerapan teknologi budidaya pertanian serta perluasan tanaman,” tuturnya. (Nana Djumhana/KB) ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here