Cegah Radikalisme dan Terorisme, FKPT Libatkan Tokoh Agama dan Masyarakat Pesisir

LEBAK, (KB).- Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme, (FKPT) Banten kembali menggelar sosialisasi pencegahan radikalisme dan terorisme di Provinsi Banten melibatkan tokoh agama dan masyarakat pesisir untuk menebar pesan agama yang damai, di Islamic Center Bayah, Kabupaten Lebak, beberapa waktu yang lalu.

Hadir pada kegiatan yang bertema “Agama Menjadi Rahmat Menuju Banten yang Bermartabat” ini, Plt. Sekretaris Bada Kesbangpol Provinsi Banten, Drs. Maman Suratman, Ketua FKPT Banten, Brigjen Pol (purn) Hj. Rumiah Kartoredjo, sekretaris umum FKPT Banten KH. Amas Tadjudin dan seluruh pengurus FKPT Banten serta tokoh agama dan masyarakat pesisir.

Ketua FKPT Banten, Brigjen Pol (purn) Hj. Rumiah Kartoredjo mendorong para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk turut serta menebar pesan agama Islam sebagai agama perdamaian dan pentingnya menjaga keamanan serta perdamaian dalam pembangunan di segala bidang kemasyarakatan.

Ia berpesan agar masyarakat jangan mudah terbujuk rayu oleh oknum-oknum tertentu yang akan menganggu ideologi bangsa Indonesia, NKRI adalah hal yang harus selalu kita jaga bersama. “Damai Bantenku, Damai Indonesiaku,” ujarnya.

Plt. Sekretaris Bada Kesbangpol Provinsi Banten, Drs. Maman Suratman memaparkan bahwa radikalisme dan terorisme sudah ada sejak zaman dahulu. Banyak orang yang tidak belajar agama dengan benar tapi sudah berbicara fatwa, sehingga seringkali menimbulkan perdebatan yang tidak berdasar. Sementara Para ulama dan pendahulu sudah terbiasa berbeda pandangan namun tetap menjaga ukhuwah.

“Maka dari itu harus bisa mengimplementasikan nilai-nilai keislaman yang damai. Jangan sampai Indonesia jadi Suriah, tugas kita harus menebarkan perdamaian, ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum FKPT Banten KH. Amas Tadjudin mengatakan, teroris telah salah memahami agama. Banyak polarisasi di masyarakat karena salah memahami ayat dan hadits. Sehingga pada akhirnya dengan mudah dapat terpapar oleh paham radikal yang berujung melakukan tindakan teror terhadap masyarakat yang tidak berdosa.

Pada prinsipnya, radikalisme dan terorisme selain masalah diatas juga dipicu oleh masalah ekonomi, dimana masyarakat yang kesulitasn ekonomi dapat dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk melakukan tindakan radikal dengan orientasi memperoleh jaminan ekonomi bagi keluarganya. Demikian halnya pemahaman yang keliru terkait Ideologi. “Kosong iman, kosong pikiran dan kosong kantong. Tiga kondisi tersebut rawan terpapar radikal,” ujar Amas. (KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here