Cegah Radikalisme dan Terorisme, FKPT Banten Gelar Diskusi Publik

LEBAK, (KB).- Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Banten menggelar diskusi publik “Penggunaan Media Sosial dalam Kerangka Menjaga NKRI “Saring Sebelum Sharing” di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Marjan Mulabaru Cipanas, Kabupaten Lebak, Jum’at (30/8/2019).

Ketua FKPT Provinsi Banten Brigjen Pol (Purn.) Hj. Rumiah Kartoredjo dalam sambutannya menyampaikan bahwa manusia yang terdoktrin menjadi teroris diantaranya pertama, mereka yang sedang mencari identitas. Hal ini terungkap dalam Studi the United States Institute of Peace pada tahun 2010 yang dinyatakan bahwa 2.032 para pejuang asing (foreign fighter) jaringan al-Qaeda adalah merupakan kalangan mahasiswa, pelajar dan remaja yang sedang mempertanyakan identitas dirinya.

Kedua, mereka yang membutuhkan perasaan kebersamaan. Kelompok teroris pandai memanfaatkan para remaja yang sedang galau terhadap kondisi emosionalnya. Intinya mereka ingin mencari kebersamaan keluarga yang kadang tidak mereka dapatkan di keluarga intinya.

Ketiga, mereka yang ingin memperbaiki apa yang dianggap sebagai ketidakadilan yaitu mereka, para remaja, yang selalu menggebu-gebu dengan semangat idealisme untuk perubahan. Keempat, mereka yang sedang mencari sensasi dan kegagahan yaitu anak-anak muda, biasanya dari kalangan menengah ke atas yang kecanduan video game kekerasan dan cerita heroik peperangan.

“Mereka yang menaruh simpati pada kelompok radikal-teroris terpapar melalui internet, di mana banyak remaja yang menghabiskan waktu di media online yang menyajikan konten-konten yang memprovokasi dan menyebar kebencian,” ujar Rumiah.

Ketua Panitia pelaksana kegiatan yang juga Ketua Bidang Media Massa, Sosialisasi dan Hubungan Masyarakat FKPT Provinsi Banten, Toni Anwar Mahmud mengatakan, kegiatan diskusi dihadiri sekitar 100 anggota masyarakat yang terdiri dari tokoh pemuda, guru dan pelajar yang aktif menggunakan sosial media. “Kegiatan ini merupakan bagian dari rencana kerja FKPT Provinsi Banten Tahun 2019,” ujarnya.

Toni menyampaikan bahwa berdasarkan data BPS Provinsi Banten, 70,60% masyarakat Banten atau 8.615.422 jiwa memiliki telepon seluler dari total jumlah penduduk Banten tahun 2016 sebanyak 12.203.148 jiwa. Kota Tangerang Selatan menjadi wilayah yang penduduknya terbanyak memiliki HP, yakni mencapai 82,81 persen, disusul Kota Cilegon 78,66 persen, kemudian Kota Tangerang 78,20 persen. Sebaliknya, Lebak dan Pandeglang menjadi wilayah yang penduduknya sedikit memiliki HP. Selanjutnya 94,46% masyarakat Banten mengakses Internet dari Ponsel.

“Penyebarluasan berita bohong, ujaran kebencian dan informasi negatif lain yang terjadi terus-menerus melalui berbagai platform media, di antaranya media sosial, mengakibatkan mudahnya masyarakat terpapar paham radikal terorisme. Hal ini dibuktikan dalam survei nasional “Efektivitas Kearifan Lokal dalam Menangkal Radikalisme di Era Milenial” di mana potensi radikalisme masyarakat berada di posisi sedang menguat. Studi global tahun 2013 menyebutkan bahwa internet sedikitnya memberikan lima dampak dalam penyebaran pemahaman radikalisme yaitu memberikan kesempatan yang lebih luas karena internet dalam 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu menjadi sumber kunci informasi dan propaganda berbagai keyakinan,” ujar Toni.

Dalam kesempatan tersebut, Toni mengajak masyarakat untuk tidak latah dalam menyebarkan informasi yang diperoleh dari media sosial karena belum tentu kebenarannya. “Media sosial bukanlah sebuah produk jurnalistik yang dapat dipertanggungjawabkan kebenaran informasinya, dengan kata lain, Saring informasi sebelum membagikan informasi tersebut kepada orang lain, saring sebelum sharing,” ujar Toni.

Sementara itu, H. Amas Tajuddin mengatakan, penyebarluasan berita bohong dan informasi negatif berdampak pada mudahnya masyarakat terpancing untuk bereaksi dengan berbagai ujaran kebencian. Dimana hal ini sangat riskan berlanjut menjadi suatu paham yang radikal.

“Mengapa teroris menggunakan dunia maya, diantaranya karena mudah diakses, relatif sulit dikontrol, audien luas, bisa anonim dan kecepatan informasi. Dunia maya ini dapat dijadikan sebagai alat bagi kelompok tertentu yang ingin merusak ideologi bangsa dan memecah NKRI dengan menjadikan media sosial untuk perang psikologis, propaganda, tempat diskusi, perekrutan dan jaringan,” ujar Amas. (KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here