Cegah Pernikahan Dini dengan Sosialisasi

Hakim Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Banten Khaerudin memberikan materi Konterversi Pernikahan Dini dan Batasan Pernikahan, di Aula UIN SMH Banten, Jumat (8/11/2019).*

Hakim Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Banten meminta untuk melakukan sosialisasi pernikahan. Sosialisasi teersebut sangat penting dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa dan masyarakat, agar tidak terjadi pernikahan dini.

Hal itu dikatakan Hakim Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Banten Khaerudin, usai memberikan materi “Konteversi Pernikahan Dini dan Batasan Pernikahan” dalam Seminar Nasional Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Program Studi (Prodi) Hukum Keluarga Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanudin (SMH) Banten, di Aula Sjadzli Hasan, Jumat (8/11/2019).

Dia mengatakan, dampak dari pernikahan tersebut yakni belum siap dari segi kematangan usia dan pendidikan. Harus ada sosialisasi mengenai pernikahan, menikah muda menurut Islam sendiri tidak melarang adanya sebuah pernikahan.

“Asalkan, sudah balig dan sudah sanggup memberikan nafkah jasmani dan rohani. Pasangan yang usianya sudah dewasa tentu akan mudah mencapai perkawinan karena kematangan biologis dan kematangan psikologis,” katanya.

Sementara itu, Dosen Fakultas Syariah UIN SMH Banten Ru’Fah Abdullah mengatakan, tidak setuju dengan batasan usia untuk laki-laki dan perempuan. Sebab, dari segi kematangan usia dan pengetahuan belum cukup. Untuk membangun sebuah keluarga, kata dia, memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah.

“Kebanyakan di pengadilan agama itu perempuan yang mengajukan perceraian, sehingga buat rekan-rekan mahasiswa perlu memberikan edukasi. Juga ketika kalian berada di tengah masyarakat, untuk menyosialisasikan pernikahan dini. Pernikahan untuk membentuk keluarga sakinah, mawadah dan warahmah,” ucapnya.

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh Ikhwan Karazi Alsabi mengatakan, seminar nasional pernikahan dini dan batasan pernikahan tersebut sangat konverhensif, pembahasan pernikahan menjadi hal yang krusial. Akibat pernikahan tersebut, tidak terlepas dari faktor usia.

“Semakin matangnya usia seseorang semakin mempengaruhi ketahanan rumah tangga itu sendiri. Saya pikir dipersamakannya usia yang telah direvisi undang-undang itu menjadi hal yang penting untuk dibahas. Saya berharap bisa menjadi batu loncatan kita aktivis mahasiswa lebih gencar dalam memperjuangkan namanya hak-hak,” tuturnya.

Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Fattahul Muluk Papua Ahmad Syarif Makatita mengatakan, banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga, kejadian yang tidak diinginkan rendahnya pengetahuan. Pendidikan anak itu berdampak pada pernikahan yang belum matang. Selain itu, pemberdayaan perempuan itu penting.

“Batasan usia itu sebagai pengingat, karena tugas negara itu menjamin agar masyarakatnya itu tidak berantakan seandainya mereka menikah sesuka mereka apa jadinya negara ini. Saya sangat sepakat batasan pernikahan. Saya berharap seminar tersebut implementasinya bisa dipakai, untuk perempuan hargai diri sendiri kalau ingin dihargai laki-laki,” tuturnya. (Denis Asria/Supriyadi Jayasantika)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here