Cegah Penyebaran Covid-19, Taman Safari Indonesia Bogor Tutup Sementara

Perawat satwa (keeper) saat merawat dan melatih Harimau Sumatera di Taman Safari Indonesia Bogor, Jawa Barat. Dalam rangka mencegah penyebaran virus corona atau covid-19, Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor mulai tanggal 23 Maret – 3 April 2020 ditutup sementara.*

Dalam rangka mencegah penyebaran virus corona atau covid-19, Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor mulai tanggal 23 Maret – 3 April 2020 ditutup sementara. Hal tersebut dilakukan untuk mendukung dan mengikuti anjuran dan imbauan pemerintah khususnya Pemerintah Kabupaten Bogor dalam upaya percepatan pemulihan dan membatasi serta memutus mata rantai penyebaran covid-19.

“Taman Safari Indonesia Bogor ditutup untuk sementara waktu. Ini mengikuti anjuran dan imbauan pemerintah khsusunya Pemerintah Kabupaten Bogor untuk mencegah penyebaran covid-19 ditempat-tempat ramai yang berpotensi dapat menular antar manusia,” ujar Yulius, Humas Taman Safari Indonesia Bogor melalui pesan singkat, Senin (23/3/2020).

Yulius mengatakan, bahwa pihaknya juga mengikuti anjuran Pemerintah untuk menyediakan langkah-langkah pencegahan penyebaran covid-19 yang dilakukan secara seksama, di antaranya menempatkan cairan anti septic (dengan kandungan sodium hypochorine, crestol, alcohol, HOCL) di area public, melakukan penyemprotan cairan antiseptic secara berkala di area publilk dan non public, melakukan cek kesehatan secara regular kepada semua staf dan melakukan cek suhu badan setiap hari.

Kemudian, melakukan pembersihan menggunakan cairan antiseptic pada fasilitas umum yang sering dipegang manusia seperti pegangan pintu, keran air, pegangan tangga, meja, dll. Serta, memberikan pembekalan kepada staf perihal covid-19 dan pencegahannya. Serta memantau kesehatan hewan-hewan secara regular dan memberikan vitamin oleh tim dokter hewan.

“Selama ditutup, kami tetap memantau dan melakukan perawatan terhadap satwa-satwa, melakukan pemberian pakan terhadap satwa serta meningkatkan kebersihan dan penyemprotan disinfektan,” ujar Yulius.

Ia mengungkapkan bahwa pihaknya juga memastikan setiap karyawan dalam kondisi tubuh yang sehat saat bekerja dengan memeriksa suhu tubuh mereka rutin setiap hari.

“Setiap hari, kondisi satwa dipantau oleh ‘keeper’ (perawat satwa) dan dokter hewan. Jika ada gejala tak wajar pada satwa, maka dokter hewan bergerak cepat untuk memeriksa kondisi satwa tersebut,” pungkas Yulius. (KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here