Cegah Penyebaran Covid-19, Pemkab Lebak Waspadai Pergerakan Penumpang Kerta Api

LEBAK, (KB).- Pemkab Lebak mewaspadai penyebaran virus corona melalui pergerakan penumpang kereta api di Stasiun Rangkasbitung. Sebab, setiap harinya perjalanan KA dari Stasiun Rangkasbitung mengangkut ribuan penumpang menuju arah Jakarta, dengan tujuan akhir Stasiun Tanah Abang.

Berdasarkan data, jumlah warga menggunakan jasa kereta api mencapai sekitar 15.000 hingga 20.000 penumpang per hari.

“Laporan yang kami terima, PT KAI sudah melaksanakan protap pencegahan dengan cara mengecek suhu tubuh setiap calon penumpang yang masuk stasiun. Kalau suhunya di atas 38 derajat maka gak boleh masuk stasiun. Penumpang disarankan pulang lagi,” kata Sekda Pemkab Lebak Dede Jaelani, Kamis (26/3/2020).

Selain mengecek suhu tubuh, PT KAI menyiapkan tempat cuci tangan dan hand sanitizer atau antiseptik serta penyemprotan disinfektan di dalam gerbong dan area stasiun.

“Karena kita khawatir juga karena orang bawa virus tidak menunjukkan sakitnya. Inkubasinya 14 hari sampai 27 hari. Oleh karena itu, stasiun, pasar, dan terminal juga masuk dalam perhatian kita untuk lebih diintensifkan guna mencegah terjadinya penyebaran virus corona,” katanya.

Penumpang turun

Kepala Stasiun Rangkasbitung Gun Gun Adi Nugraha menuturkan, jumlah penumpang kereta api di Stasiun Rangkasbitung mengalami penurunan sejak wabah corona menyebar di Indonesia.

“Keberangkatan KA 486 pada hari Selasa (24/3) 57 penumpang dan di hari Rabu (25/3) turun menjadi 26 penumpang.

Menurut dia, penurunan terjadi pada keberangkatan maupun kedatangan kereta api lokal berikutnya. Sedangkan keberangkatan KRL rute Rangkasbitung-Tanah Abang juga mengalami penurunan.

“Pada keberangkatan KRL (24/3) pukul 04.00-05.00 sebanyak 257 penumpang dan pada tanggal 25/3) dengan keberangkatan sama jumlah penumpang sebanyak 90 orang,” ucapnya.

Sementara itu, warga Lebak yang bekerja sebagai tenaga harian lepas yang berdomisili di Jakarta, kini banyak yang mudik alias pulang kampung. Seorang warga Rangkasbitung Eki (23) yang bekerja di wilayah Lebak Bulus Jakarta Selatan, memilih pulang kampung karena tempatnya bekerja sudah lima hari terakhir sepi pengunjung.

“Kalau saya berlama-lama berada di tempat kerja tanpa ada pengunjung, buat apa juga. Lebih baik saya pulang kampung dulu sampai situasinya kembali pulih,” katanya.

Selama di tempat kerjanya, kata dia, uang gajinya habis untuk biaya hidup sehari-hari.

“Makanya saya memilih untuk mudik dulu karena biaya hidup di kampung tidak semahal di Jakarta,” ucapnya.

Sementara Mimin (24), warga asal Kecamatan Cimarga yang bekerja sebagai buruh harian lepas di bilangan Jakarta Timur juga mengaku tempatnya bekerja diliburkan.

“Uang sudah menipis. Jadinya pilihan terakhir ya pulang kampung,” tutur Mimin ditemui di Terminal Mandala, Cibadak. (ND)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here