Cegah Kebutaan Sejak Dini, Orangtua Diajak Bijak Berikan Gawai kepada Anak

Suasana diskusi ”Obrolan Mang Fajar” di Kantor Redaksi Kabar Banten, Jl. Jenderal A. Yani No. 72 Kota Serang, Kamis (13/2/2020).*

BANYAK orangtua sudah memberikan keleluasaan kepada anaknya yang masih berusia dini untuk menggunakan gawai. Padahal, penggunaan yang tidak disertai aturan dapat berakibat buruk bagi kesehatan, khususnya mata. Oleh karena itu, orangtua diminta bijak memberikan gawai kepada anaknya.

Hal tersebut mengemuka pada diskusi ‘Obrolan Mang Fajar’ bertemakan “Mewaspadai Kebutaan di Kalangan Anak-anak dan Remaja” di Kantor Harian Umum Kabar Banten, Jl. Jend. Ahmad Yani No. 72, Kota Serang, Kamis (13/2/2020).

Diskusi yang dipandu Direktur PT Fajar Pikiran Rakyat Rachmat Ginandjar tersebut dihadiri Direktur RS Mata Achmad Wardi dr. Moh. Badrus Sholeh, Ketua Bidang Kesehatan Badan Koordinasi (Bakor) Pembentukan Provinsi Banten dr Adang Supandi, anggota Bakor lainnya Ade Yuliasih, Kepala Cabang Dompet Dhuafa Banten Mokhlas Pidono, serta stakeholder lainnya.

Direktur RS Mata Achmad Wardi dr. Moh. Badrus Sholeh mengatakan, penggunaan gawai berpotensi membuat mata lelah. Penggunaan yang berlebihan mengakibatkan daya akomodasi mata akan semakin berkurang.

“Apalagi kalau lagi main game, tidak mungkin itu seusai aturan jarak. Pasti dekat. Namanya gawai kalau main game tidak mungkin hanya dipakai 10 menit, bisa 3 jam 5 jam. Kemudian, posisinya juga tiduran, akibatnya refraksinya (masalah visual umum yang menyebabkan penglihatan kabur) terganggu,” kata Badrus.

Dampak negatif lainnya yaitu anak cenderung cuek. “Oleh karena itu, kepada para orangtua diharapkan agar penggunaan gawai anak ini agar pemanfaatannya lebih kearah positif,” ujarnya.

Beroperasi sejak tahun 2017, RS Mata Ahmad Wardi Badan Wakaf Indonesia-Dompet Dhuafa ini konsen terhadap kesehatan mata masyarakat Banten. Selain melakukan penanganan medis, rumah sakit berbasis wakaf pertama di dunia ini juga gencar mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan mata.

“Edukasi kita juga konsen. Ke sekolah-sekolah dan deteksi pemeriksaan refraksi, pembagian kacamata gratis dan lainnya,” ucapnya.

Ia mengungkapkan, temuan penyakit katarak di Banten cukup tinggi. Angka kebutaan Provinsi Banten menempati urutan 9 secara nasional.

“Melihat geografis Banten itu pesisir pantai panjang. Itu yang mengakibatkan masyarakat di pesisir terkena paparan sinar UV cukup tinggi. Beda dengan petani itu terhindar dari katarak karena pantulan cahaya redup. Tapi kalau nelayan tidak ada pelindung. Sinar UV lebih besar paparannya. Sehingga katarak sering ditemukan di daerah pesisir dibanding pegunungan,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Badrus juga menyampaikan berbagai program yang akan dilaksanakan RS mata Achmad Wardi pada 2020-2021. Antara lain mendirikan bank mata, retina center, dan glaucoma center. Selain itu, kegiatan rutin lainnya yaitu operasi katarak gratis untuk 200 orang, dan pemeriksaan mata gratis untuk 1.000 orang.

“Kemudian, kami juga akan mendorong peningkatan peran puskesmas sebagai pos pelayanan kesehatan pertama yang nantinya akan memberi rujukan. Nanti dokter umum yang ada di puskesmas diberi pelatihan agar lebih jeli dan waspada mendiagnosa penyakit mata. Intinya kami ingin berperan meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di kesehatan mata,” katanya.

Atur waktu

Ketua Bidang Kesehatan Bakor Pembentukan Provinsi Banten dr Adang Supandi mengatakan, penggunaan gawai pada anak-anak berdampak luar biasa. Jika tidak dibatasi, kesehatan mata anak akan terganggu.

“Kelainan refraksi itu memang prosesnya panjang. Ini dampaknya kelainan refraksi. (penggunaan gawai) melebihi 2 jam saja itu akan terkena secara langsung. Responsitif refreksi bisa terjadi,” ujarnya.

Dia menyadari ada juga manfaat gawai bagi anak. Namun, orangtua perlu menerapkan disiplin ketat tentang aturan penggunaan gawai oleh anak. “Bukan berarti HP tidak sehat. Tapi kalau keterusan (mata) rusak juga. Perlu diatur waktunya, kemudian jarak juga diatur,” ucapnya.

Sosialisasi

Sementara, Anggota Bakor Pembentukan Provinsi Banten Ade Yuliasih meminta agar sosialisasi tentang kesehatan mata dilakukan secara masif agar masyarakat menyadari betul tentang pentingnya kesehatan mata.

“Kami ingin ada sosialisasi pembahasan kesehatan mata sejak dalam kandungan. Bisa kerja sama dengan bidan desa. Kesehatan mata ini juga kan tidak terlepas dari peran seorang ibu. Kalau orangtuanya sehat anaknya insya Allah sehat,” tuturnya.

Menurut dia, masyarakat perlu pengetahuan yang jelas dari orang-orang yang ahli di bidangnya.

“Salah satu penyebabnya gawai. Tapi mungkin juga ada yang (kelainan penglihatan) sejak lahir. Oleh karena itu, perlu juga ada gerakan masyarakat untuk menggencarkan sosialisasi pentingnya kesehatan mata. Terutama di Kecamatan Kasemen,” katanya.

Kepala Cabang Dompet Dhuafa Banten Mokhlas Pidono mengatakan, selama ini pihaknya juga sering mengadakan seminar parenting tentang anak dan digital.

“Kemudian bahaya gawai. Salah satunya terkait kesehatan mata. Selain membantu duafa juga tentunya menjaga duafa tetap sehat agar mata pencahariannya tidak terganggu,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, ia juga menceritakan bahwa semula rumah sakit tersebut direncanakan menjadi rumah sakit ibu dan anak. Namun, melihat angka kebutaan di Banten cukup tinggi dan belum ada rumah sakit mata, akhirnya diputuskan menjadi RS mata.

“Karena RS mata itu kan adanya di Cicendo dan JEC (Jakarta Eye Center). Sementara Banten itu banyak penderita katarak. Oleh karena itu, diputuskan rumah sakit mata,” kata Mokhlas.

Ia berharap, ke depan ada mobil operasional yang bisa antar jemput pasien duafa ke rumah sakit tersebut.

“Selama ini pakai angkot dan memang ongkosnya digratiskan. Tapi mudah-mudahan ada yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, biaya penanganan untuk kaum duafa di rumah sakit tersebut berasal dari zakat. Oleh karena itu, ada tahapan verifikasi dan validasi untuk memastikan pasien tersebut berhak menerima zakat. (Rifki Suharyadi)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here