Cegah Angkutan Truk Basah dan Overtonase, Satpol PP Panggil Pengusaha Pasir

LEBAK, (KB).- Sedikitnya 11 pengusaha pertambangan pasir yang berlokasi di Blok Pasir Roko, Kecamatan Cimarga, Citeras, Kecamatan Rangkasbitung, serta Blok Kopi, Kecamatan Sajira, Rabu (20/9) dipanggil Pemkab Lebak.  Alasan pemanggilan ke 11 pengusaha pasir itu, karena selama ini Pemkab melalui Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Lebak, masih melihat serta memergoki truk yang keluar dari tiga lokasi pertambangan pasir tersebut kerap mengangkut pasir dalam kondisi basah.

Ditemui usai melakukan pertemuan, Plt Kepala Dinas Satpol PP Lebak, Dedi Supratnawijaya mengatakan, langkah pemanggilan itu dilakukan untuk mengingatkan para pengusaha untuk tidak mengangkut pasir dalam keadaan basah. ”Dalam pertemuan dengan para pengusaha pasir itu, kami sampaikan imbauan dan larangan agar mereka tidak lagi menyediakan atau menjual pasir dalam kondisi basah. Jika pengusaha tak menyediakan pasir basah, tak akan ada truk pengangkut pasir basah yang lalu lalang di jalan-jalan di Lebak,” ujar Kadis Satpol PP, Dedi kepada Kabar Banten, Rabu (20/9/2017).

Menurut Dedi, dalam pertemuan itu pihaknya juga menegaskan langkah dan sikap yang akan diambil oleh pihak Pemkab pada pengusaha pasir yang bandel, termasuk merekomendasikan pencabutan perizinan pertambangan pasir tersebut ke Dinas Pertambangan Provinsi Banten. ”Kewenangan penutupan penambangan memang berada di provinsi. Namun bagi pengusaha yang membandel, Pemkab akan melakukan tindakan tegas, yaitu dengan cara mengeluarkan rekomendasi pencabutan perizinannya,” ujarnya.

Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat pada Dinas Satpol PP Lebak, Didi Kusnadi menambahkan, dalam pemanggilan tersebut, pihaknya mengimbau agar seluruh pengusaha atau pengelola pertambangan pasir untuk saling mengingatkan untuk tidak menjual pasir basah.
”Kami tahu, yang dipanggil hari ini ada pengusaha pertambangan pasir yang tidak menjual pasir basah. Untuk itu, yang tidak menjual pasir basah, sebaiknya mengingatkan rekan sesama pengusaha pertambangan pasir agar tidak menjual pasir basah,” ucap Didi Kusnadi.

Protes warga

Salah seorang tokoh pemuda Lebak, Ucu Juhroni menyatakan sikap tegas Satpol PP dalam menyikapi permasalahan truk pasir basah yang kerap dikeluhkan masyarakat, dan mengundang aksi penolakan dari sejumlah kelompok masyarakat lainnya.  Kami memahami posisi dilematis Pemkab Lebak dalam menghadapi masalah truk raksasa yang mengangkut pasir basah, karena kewenangannya ada di provinsi. Namun apa yang telah dilakukan oleh pemkab menunjukkan bahwa Pemkab juga gerah dengan tingginya intensitas truk pasir basah,” ujar Ucu Johroni, Kamis (21/9/2017).

Menurutnya, penolakan terhadap truk raksasa pengangkut pasir basah kerap disuarakan olah masyarakat. Karena, selain merusak lingkungan dan berpotensi menghancurkan jalan, dampak pengangkutan pasir basah juga dapat mengancam keselamatan masyarakat pengguna jalan. Sebagaimana diketahui, berbagai bentuk protes keras warga pada truk raksasa itu kerap disuarakan, Bahkan, sejumlah aktivis dari Keluarga Mahasiswa Lebak (Kumala) terpaksa melakukan aksi mogok makan di beberapa waktu lalu. (Lugay/Job)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here