Capaska Aurel Meninggal, PPI Bantah Ada Kekerasan Fisik

TANGERANG, (KB).- Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) membantah kabar adanya kekerasan fisik yang menyebabkan meninggalnya seorang calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Capaska) Aurellia Qurratuaini. “Dalam pola pelatihan kami itu enggak ada namanya unsur kekerasan, seperti kontak fisik dan sebagainya,” kata Ketua PPI Tangsel Warta Wijaya, Ahad (4/8/2019).

Menurut dia, semua pelatihan dan pembinaan dijalankan sesuai dengan porsinya. Ia mengatakan, dalam pelatihan dan pembinaan, tak ada hukuman push up dengan tangan terkepal bagi Capaska putri. “Push up tangan terkepal kalau perempuan sebenarnya tidak ada. Cuman kalau kami tuh adanya sikap menganyam,” ujarnya.

Ia menuturkan, bahwa sikap tangan menganyam itu memang menyerupai tangan yang terkepal. “Tapi, sifatnya bukan untuk konsumsi hukuman setiap hari, tapi hukuman itu memang bila ada kesalahan yang cukup ini (berat), butuh penegasan,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia juga menjelaskan, pelatih dan PPI Tangsel telah bertemu langsung dengan pihak keluarga serta ikut mengantarkan Aurel ke tempat peristirahatan terakhir. “Titip pesan dengan sangat untuk senior dan pelatih, agar tetap mendampingi adik-adik Paskibraka Tangsel yang berjumlah 49 orang ini sampai bertugas,” tuturnya.

Baca Juga : Calon Paskibraka Meninggal Dunia

Sementara itu, ayah Aurellia, yakni Farid Abdulrahman menduga kematian anaknya akibat kelelahan usai mengikuti pelatihan calon paskibraka. Keluarga juga menduga ada ketidakwajaran dalam proses pelatihan calon paskibraka yang digelar Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Tangsel. Sebab, kedua kepal tangan Aurellia lebam. Namun, keluarga Aurellia tidak memiliki rencana untuk menempuh jalur hukum.

“Keluarga sampai saat ini tidak berencana untuk melakukan langkah hukum terhadap yang berwenang baik Dispora maupun pelatih dan para senior purna paskibraka,” katanya yang tinggal di Perumahan Taman Royal II, Cipondoh, Kota Tangerang.

Ia mengatakan, tidak menempuh jalur hukum, karena keluarga sangat mencintai Aurellia. Namun, setelah kejadian tersebut, keluarga itu menginginkan pola pelatihan calon paskibraka diubah. “Kami hanya ingin adanya perubahan pola yang diterapkan yang menurut kami harusnya itu tidak sewajarnya untuk dilakukan kepada seorang paskibraka,” katanya.

Terkait langkah polisi yang akan mengusut kasus tersebut, dia sudah memberikan keterangan kepada penyidik yang mendatangi rumahnya, bahwa dia dan keluarga tidak mengharapkan terjadinya proses hukum akibat peristiwa yang menimpa putrinya tersebut.

“Kami sudah klarifikasi dengan kepolisian, bahwa harapan kami tidak ingin ada imbas lain, karena meninggalnya anak saya (yang) mengakibatkan (ada) sanksi hukum (bagi) orang lain. Karena, menurut saya, sudah cukup anak saya menjadi korban,” ujarnya.

Lebih lanjut, ungkap dia, pihaknya mengharapkan pola pelatihan capaska dirubah. Ia juga meminta kepada para pemangku kepentingan untuk memerhatikan standar operasional prosedur (SOP) pelatihan capaska tersebut. “Jadi, hal-hal yang di luar SOP pelatihan paskibraka itu yang kami harapkan untuk bisa dihilangkan dan dievaluasi secara keseluruhan,” ucapnya.

Sehingga, menurut dia, tak ada lagi korban yang merasa diberatkan secara psikologisnya. “Jadi, tidak ada lagi korban (seperti) Aurel-aurel selanjutnya,” tuturnya.

Meski telah mengikhlaskan kematian anaknya karena takdir, namun dia menilai, ada hal yang menjadi sebab kematian anaknya. “Akan tetapi, kecapean yang dia rasakan. Hal-hal yang di luar sistem itulah yang mungkin menyebabkan semakin dropnya kondisi fisik anak kami,” katanya.

Ia menduga ada yang memberatkan mental dan fisik anaknya. Hal tersebut, karena kehadiran beberapa oknum di luar pelatih resmi yang memberikan tugas tambahan kepada anaknya.

“Yang memberikan tambahan-tambahan pekerjaan seperti mengisi diary tiap hari. Kemudian, adanya push up kepal bagi wanita yang sebenarnya sudah tidak boleh dilakukan, serta skot jump. Hal-hal ini yang mungkin menambah pressure (tekanan) psikologis anak,” tuturnya. (DA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here