Camping Adat, Potensi Wisata yang Cukup Menjanjikan

BERWISATA ternyata tidak selalu berkaitan dengan destinasi yang telah tersedia, baik destinasi wisata alam ataupun wisata buatan. Kegiatan pameran, festival, camping adat serta kegiatan ritual adat ternyata bisa juga dimanfaatkan dengan cerdik menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk mendatangi lokasi kegiatan atau ritual adat.

Kejelian untuk memanfaatkan ritual adat itu setidaknya telah dibuktikan oleh panitia pelaksana Seba Baduy, khususnya Forum Komunikasi Pencinta Alam Lebak (FKPAL) yang berhasil mengemas acara ritual tahunan masyarakat adat Baduy itu dengan menggelar camping adat.

Ketua Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Lebak, Andika yang ikut serta dalam kegiatan camping adat itu membagikan kemeriahan dan keseruan acara yang digelar di sebuah lapangan Desa Bojongmenteng, yang berada tak jauh dari perkampungan adat Baduy.

Melalui tulisannya yang kami sajikan secara utuh untuk pembaca setia Harian Umum Kabar Banten, FKPAL (Forum Komunikasi Pencinta Alam Lebak) yang mana merupakan wadah komunikasi bagi para pencinta alam se-Kabupaten Lebak ini turut memeriahkan agenda tahunan “Seba Baduy” 2019 dengan mengadakan acara camping adat.

Acara ini digelar mulai dari tanggal 3-4 Mei 2019 di lapangan dekat perkampungan Baduy Luar yang masuk ke wilayah Desa Bojongmenteng. Acara camping adat tersebut diikuti cukup banyak peserta khususnya para pecinta alam baik yang berasal dari wilayah Banten, serta daerah lain di Banten, seperti Bandung, Sukabumi, Cirebon, Jakarta, Solo, Lampung, Bekasi, dan sejumlah kota lainnya.

Camping adat diawali dengan pemberangkatan seluruh peserta dari Alun-alun Rangkasbitung dengan menggunakan mobil Pengendalian Massa (Dalmas) satuan Cakra Mandala Yudha menuju camping ground.

Sebelum mendirikan tenda di camping ground, seluruh peserta mengawali acara dengan kegiatan sosial sapta pesona pariwisata berupa operasi bersih-bersih yang dimulai dari kawasan Desa Ciboleger, wilayah Kampung Baduy Luar (Kampung Kadu Ketug) sampai dengan Kampung Gajeboh yang berbatasan langsung dengan jembatan bambu.

Kegiatan operasi bersih tersebut juga melibatkan warga kampung yang dilewati dengan mengumpulkan sampah-sampah yang ada di sekitar tempat tinggal mereka, untuk kemudian akan disapu bersih oleh tim dari operasi bersih peserta camping adat FKPAL. Selain kegiatan operasi bersih tersebut, kegiatan camping adat itu juga diadakan acara diskusi budaya yang mengusung tema sejarah masyarakat suku Baduy.

Acara diskusi budaya dalam camping adat dihadiri oleh Perwakilan Dinas Pariwisata Provinsi Banten Rohendi, Perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak Usep, Sekretaris Desa Kanekes Agus, serta ketua dari FKPAL Dede Hidayat.

Acara diskusi budaya yang berlangsung selama dua jam, yang dimulai sejak pukul 19.00 WIB berjalan cukup seru dengan munculnya sejumlah pertanyaan, baik mengenai sejarah suku Baduy dan pengembangan konsep ekowisata di Kabupaten Lebak.

Pada keesokan harinya para peserta camping adat mengadakan gerakan penghijauan dengan menanam seribu pohon di daerah wilayah sekitar Desa Bojongmenteng. Diakhir kegiatan, seluruh peserta camping adat mengikuti pawai sekaligus mengawal masyarakat suku Baduy melakukan perjalanan menuju Rangkasbitung, untuk melaksanakan ritual adat tahunan, Seba Baduy.

”Acara camping adat ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan. Jika melihat antusiasme peserta pada kegiatan ini, saya kira sangat tepat jika kegiatan adat seba Baduy ataupun seren taun masyarakat adat kasepuhan (kaolotan) di wilayah Lebak Selatan, dikemas dengan lebih baik. Karena, kegiatan atau peristiwa adat itu merupakan sebuah potensi wisata yang cukup menjanjikan,” kata Andika. (Tono Soemarsono)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here