Butuh Strategi Tekan Angka Kekerasan pada Perempuan dan Anak

PANDEGLANG, (KB).- Sekretaris daerah (Sekda) Pandeglang Fery Hasanudin mengatakan, kasus kekerasan perempuan dan anak sering terjadi dimana – mana. Tidak saja kasus ini terjadi Pandeglang, namun secara umum terjadi di setiap kabupaten/kota se-Indonesia. Untuk itu, lanjut Fery, butuh strategi khusus dalam upaya menekan angka kekerasan pada perempuan dan anak yang terjadi di Pandeglang.

“Pembinaan akan terus dilakukan oleh OPD terkait dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A),” kata Sekda Pandeglang Fery Hasanudin saat rapat koordinasi dengan lintas sektoral yang tergabung dalam P2TP2A, Rabu (4/12/2019) di Oproom Setda.

Hadir dalam kegiatan itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tati Swagiharti, Psikolog Rika Kartikasari, Farid Yuru Kumana Perwakilan Kejaksaan Pandeglang, Dasep DR Kanit UPPA Polres Pandeglang, Relawan Pencegahan Maksiat (RPM) Abas, Yayat Hasrat perwakilan MUI Pandeglang. Kemudian Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Pandeglang Eneng Eha, Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Pandeglang Titin Enjang Sadina dan Forum Komunikasi istri Camat.

Menurut Fery, tugas P2TP2A adalah pusat kegiatan terpadu yang menyediakan pelayanan bagi perempuan dan anak korban tindak kekerasan, yang meliputi pelayanan medis, pelayanan hukum, pelayanan psikis dan pelayanan rehabilitas sosial.

“Semua harus kita pikirkan dari mulai pencegahan hingga penanganannya jika kekerasan itu terjadi. Jangan sampai korban kekerasan ini juga mentalnya tertekan. Untuk itu, privasi mereka harus kita jaga,” tuturnya.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Pandeglang Didi Mulyadi mengatakan, di Pandeglang kasus kekerasan pada perempuan dan anak selalu saja terjadi setiap tahunnya.

Untuk itu, lanjut Didi, pembentukan P2TP2A adalah sebuah solusi untuk mencegah terjadinya kasus kekerasan pada perempuan dan anak. “Kami akan terus melakukan sosialisasi melibatkan lintas OPD, baik pencegahan maupun cara penanganannya,” kata Didi.

Menurut Didi, umumnya pelaku kekerasan itu bukan orang lain namun kerabatnya sendiri. “Pernah kita menangani satu kasus kekerasan. Setelah kasus ini ditangani yang berwajib, pihak keluarga mencabut berkasnya. Untuk itu, saya mohon dukungan dari semua pihak yang terlibat di dalam P2TP2A,” ucapnya.

Didi mengatakan, saat ini yang sedang diupayakan adalah cara penanganan korban kekerasan yang sering terjadi pada perempuan dan anak di Kabupaten Pandeglang.

“Kita saat ini masih terkendala tempat singgah dan pengurusan proses selanjutnya. Kita masih belajar sesuai undang-undang yang ada. Intinya akan melibatkan semua lintas program dan OPD serta bermitra dengan dunia usaha dalam penanganannya,” ujarnya. (IF)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here