Sabtu, 17 November 2018

Bupati Lebak Buka Festival Seni Multatuli

LEBAK, (KB).- Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya secara resmi membuka penyelenggaraan rangkaian kegiatan Festival Seni Multatuli (FSM) 2018, di Aula Museum Multatuli, Rangkasbitung, Kamis (6/9/2018). Selain dihadiri perwakilan seniman dan masyarakat, acara pembukaan FSM 2018 yang akan berlangsung hingga tanggal 9 September itu juga dihadiri Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Dr. Hilmar Farid, serta rombongan dari Kedutaan Besar Belanda.

Dalam sambutannya Bupati Iti menyatakan, resonasi semangat Multatuli mampu bergetar merambat melewati berbagai zaman, dan hingga saat ini semangat itu masih sangat relevan dengan perjuangan pemerintah bersama masyarakat Kabupaten Lebak untuk memerangi penjajahan yang bertransformasi dalam wujud kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan.

”Maka, setelah acara peresmian museum ini pada 1 Februari 2018, saat itu saya sampaikan sebuah mimpi besar, yang mungkin terlampau ambisius hingga wajar orang banyak menilai terlalu percaya diri, bahwa Museum Multatuli yang berada di Lebak adalah museum anti kolonial pertama di Indonesia,” ujar Bupati Iti.

Bupati menjelaskan, FSM 2018 yang akan digelar dari tanggal 6-9 September 2018 ini merupakan bagian dari potongan puzle untuk meneguhkan komitmen sekaligus ikhtiar masyarakat Lebak untuk mampu memakai jalan panjang yang akan kita jalani bersama. Dan mungkin tidak akan pernah berujung sepanjang generasi di Lebak yaitu berjuang bersama membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

Direktur Jenderal Kebudayaan RI, Dr. Hilmar Farid mengatakan, gagasan Multatuli mengenai kemerdekaan, harmoni, kesederajatan, keberagaman dan kemanusiaan harus mampu dimanivestasikan dalam laku lampah dan hubungan antar sesama.

”Kita mungkin tidak lagi berhadapan dengan musuh yang menggenggam senjata, tetapi musuh kita hari ini adalah egoisme, materialis dan individualis. Melalui acara ini dan dengan berbagai kemasan yang ditampilkan, diarahkan untuk tumbuh dan berkembang sifat menghargai nilai-nilai humanisme, nilai kemanusiaan yang inklusif, yang memandang semua perbedaan sebagai sebuah rahmat dan kekayaan serbagai sebuah bangsa, yang harusnya menjadi sumber kekuatan kita untuk maju, bukan justru menjadi alasan kita untuk terpecah,” kata Hilmar Farid.

Hilmar menambahkan, event yang akan diangkat dalam program Indonesia harus mampu menampilkan objek kemajuan kebudayaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang kemajuan kebudayaan, secara orsinil dan mempunyai karakteristik berbeda dengan event-event yang lain. ”Kita lihat saja. Jika acara ini sukses maka akan kita laksanakan tiap tahun,” ujarnya.

Usai pembukaan FMS 2018, Bupati Lebak bersama Dirjen Kebudayaan RI dan rombongan Kedutaan Besar Belanda menyempatkan meninjau bekas rumah Multatuli yang berlokasi di sekitar RSUD Ajidarmo. (Lugay)*


Sekilas Info

Bantuan Non Tunai, Bukti Kepedulian pada Lansia dan Disabilitas

SEJAK beberapa tahun belakangan ini, pemerintah meluncurkan berbagai program untuk membantu masyarakat yang kurang beruntung, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *