BUMD Agrobisnis Banten Ditopang Tiga Perda

SERANG, (KB).- Pemprov Banten berencana kembali mengusulkan tiga Raperda untuk menopang pelaksanaan usaha BUMD Agrobisnis. Ketiga Raperda tersebut yakni Raperda tentang Sistem Distribusi Gabah, Raperda tentang Ketahanan Pangan dan Raperda tentang Penyertaan Modal.

Kepala Disperindag Banten Babar Suharso menuturkan, Raperda tentang Sistem Distribusi Gabah mengatur penghimpunan gabah dari para petani di Banten. Polanya, gabah dari petani akan dihimpun secara berkelompok sebelum diserap oleh BUMD.

“Bagusnya per kelompok, tersistem. Jadi satu kawasan sentra produksi padi itu menjadi satu kesatuan, apakah dalam satu kawasan itu ada ratusan petani secara berkelompok berapa gabah ditampung oleh BUMD,” katanya.

Penghimpunan bisa dilakukan oleh BUMD langsung atau dilakukan unit usaha yang bidangnya sesuai. “Apakah nanti oleh BUMD atau unit usaha lain yang bergerak dalam hal perberasan bisa saja,” ujarnya.

Sebagai contoh rice center yang dibangun Dinas Pertanian Banten di Cikeusik, Kabupaten Pandeglang.

“Rice center ini didukung oleh beberapa kawasan dan kelompok tani di sekitar Pandeglang dan perbatasan Lebak. Gabah-gabah itu berhimpun nanti di rice center ini. Jadi rice dryer (pengering), ada packing, ada stok juga. Ini mungkin unit usaha rice center ini yang akan bertugas menyerap gabah petani secara berkelompok,” ucapnya.

Dengan adanya unit tersebut, BUMD tidak mesti turun langsung menghimpun gabah kelompok tani.

“Modalnya ini kan adanya di BUMD yang Rp 50 miliar. Mungkin ini nanti sesuai progres misalnya BUMD Agrobisnis memberi tugas kepada rice center dalam setahun ngumpulin berapa ratus ton. Nah sesuai progresnya nanti bayar oleh BUMD. Nanti beras jadinya ada di PDP. Inikan yang jadi stok keamanan pangan Banten, nanti di kelas ada premium ada medium,” tuturnya.

Untuk mengatur ketahanan pangannya akan didukung oleh Perda tentang Ketahanan Pangan. Nantinya akan diatur terkait upaya menjaga kestabilan pangan di Banten berkaitan dengan BUMD Agrobisnis.

“Selama ini kan kalau kita kau operasi beras kan bergantung Bulog. Seperti amanat Pak Gubernur jangan lagi kita bergantung suplai, hanya satu-satunya dari Bulog atau juga mendatangkan dari luar Banten. Kita buat tataniaga baru dimulai dari gabah sampai berat siap jual,” tuturnya.

Kemudian, untuk Raperda tentang Penyertaan Modal diusulkan untuk pemberian modal kepada BUMD Agrobisnis. Menurut hitungan Biro Bina Perekenomian, total kebutuhan modal BUMD Agrobisnis mencapai Rp 300 miliar yang diberikan secara bertahap. “Tahun depan Rp 50 miliar,” tutur Babar. (SN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here