Rabu, 20 Juni 2018
Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre Serang, Fansuri.

Bulog Siap Beli Hasil Panen Petani

SERANG, (KB).- Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre Serang, Fansuri mengatakan, bulog bersedia membeli hasil panen raya yang diperkirakan Februari mendatang. Namun, dengan catatan harus sesuai dengan harga pembelian pemerintah (HPP).

Fansuri mengatakan, sesuai dengan HPP yang sudah ditetapkan yakni Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp 3.700/kg, Gabah Kering Giling (GKG) sebesar Rp 4.600/kg dan beras sebesar Rp 7.300/kg.
“Selama itu harga sesuai dengan yang di perintahkan kepada kita, kan ada inpres nomor 5 tahun 2015,” kata Fansuri, kepada Kabar Banten, Jumat (19/1/2018).

Menurutnya, petani akan untung jika memanen sekarang ini. Sebaliknya, jika saat panen raya nanti maka persediaan beras akan banyak sehingga harga akan anjlok kembali. Namun, dengan adanya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 tahun 2015 tersebut dipastikan petani tidak akan rugi. “Kalau nanti sudah panen raya, beras banyak di pasar. Barang banyak di masyarakat. Dengan adanya inpres itu, Bulog menjaga agar petani jangan sampai rugi,” tuturnya.

Sementara itu, Bulog membantah adanya beras impor dari Vietnam yang kabarnya dijadikan bahan untuk operasi pasar (OP) sebagaimana yang dikeluhan pedagang. “Kalau beras impor yang sekarang diributkan itu gak ada. Kita gak ada, kan lagian belum masuk barangnya,” katanya. Begitupun soal rasa dan kualitas beras yang dikeluhkan pegadang. Menurut Fansuri, kalau soal rasa ia memaklumi jika rasa beras yang dihasilkan berbeda karena beras yang diedarkan merupakan beras medium.

“Kalau masalah rasa kita susah, untuk operasi pasar itu kan ibaratnya tidak ada keharusan untuk membeli. Artinya bagi yang berminat silahkan beli dengan harga seperti itu. Kemudian mengenai masalah rasa mekar atau tidak itu saya pikir dari cara masaknya aja,” ucapnya.

Sebelumnya, seorang pedagang di Pasar Induk Rau (PIR), Obi mengatakan, beras yang diterimanya dari OP Bulog saat dimasak nasinya menjadi mekar dan tidak enak. Ia menduga dari pengalaman sebelumnya beras dengan kualitas seperti itu berasal dari Vietnam. “Kalau ngelihat beras mah dari Vietnam,” katanya.

Dengan kualitas yang kurang baik tersebut, menurut Obi beras tersebut hanya laku di kalangan pedagang saja, seperti untuk nasi uduk, nasi goreng dan bubur. Obi mengungkapkan, beras dari Vietnam itu sudah masuk ke kiosnya sebanyak 2,5 ton.  “Masuk dari Vietnam. Pertama masuk 5 kwintal kurang sedikit, terus kemarin satu ton, sekarang satu ton jadi 2 ton setengah. Belum terjual sekarang masih ada,” ucapnya. (Masykur/Job)***


Sekilas Info

Para Calon Anggota Legislatif Wajib Tahu Ini

SERANG, (KB).- Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengganti Peraturan KPU Nomor 7 Tahun 2017 dengan Peraturan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *