BUIH

Tuhan menurunkan Air hujan dari langit menurut ukuran yang terkendali. Ukuran itu dirancang berdasarkan hukum dan kapasitas/daya tampung kealaman dan kemanusiaan. Itulah kecanggihan dan Kemahasayangan Tuhan terhadap aneka mahluk yang diciptakaannya. Bukanlah Tuhan namanya kalau yang ia ciptakan menjadi tidak terpola atau lepas dari pendayagunaan umat manusia.

Perhatikan betapa air hujan yg diturunkan Tuhan menghampiri lembah dan dedaunan begitu teratur dan tak kan pernah berlebih. Sang air itu metaati perintah TuhanNya agar tidak membuncah dan menerjang yang membuat alam kemakhlukan musnah. Hujan pun tidak turun perdetik sepanjang tahunan yang membuat aneka mahluk melembab dan melepuh. Begitulah Martabat kapasitas Tuhan menciptakan kaidah keairan untuk diberikan kepada mahluknya dengan cara  yang terpola dan tepat sasaran.

Di tengah kaidah keairan itu muncul mahluk setitik yang kehadirannya tak berdaya menggelombang tetapi ia sendiri terseret arus gelombng besar air. Itulah yg disebut dengan buih. Meski buih itu setitik berada di arus gelombang besar kehadirannya kerap mengerikan karena ia berdaya membuat lubang lubang dan bahkan menjadi benda yg menjijikan saat menyemprotkan busa-busa putihnya.

Tuhan dalam surat ar – ra’d dengan tegas mengumpamakan buih dengan al bathil dan air dengan al hak (Q.S 13:17). Diumpamakan dengan al bathil karena buih berkarakter lemah. Ia sebatas bisa melubangi dan menyemprotkan suatu yang menjijikan tapi kemudian ia sirna tanpa menyumbang daya. Sementara al Hak karena air berkarakter konsisten dan berdaya mengalir ke setiap arah mengarusi perjalanan misinya memberikan kemanfaatan kepada apa  saja sepanjang tidak ada yg mencemari dan menyumbatnya dengan emisi kejahatan.

Apa yang ditamsilkan Tuhan itu bukan sembarang kata tanpa dasar. Bukan juga lamunan kosong Tuhan. Tamsil ini lahir dari hasil pemikiran induktif Tuhan atas realitas empirik pilihan kemanusiaan terhadap dua hal diametral antara baik dan buruk,  antara yang lembut dan yang kasar, antara yang  taat dan yang jahat serta antara yang beriman dan yang kafir.

Hasil pemikiran/penilitian Tuhan itu kemudian tersimpulkan pada ayat/statment  lain yang menyatakan bahwa kebanyakan manusia tidak mengetahui (walakinna aktsara an-nasi la yalamun). Dengan kata lain banyak di antara umat manusia yang mengarusi karya dengan kapasitas status sosial dan logikanya yang tinggi tapi hasilnya tidak dapat dirasakan umat berakar rumput. Kapasitas logika yang digunakan mereka  sebatas dinikmati sendiri. Sementara logika mereka menjadi tumpul berhadapan dengan ribuan derita yang menjerat lingkungannya.

Bertimbunya kaum elit di negri tercinta yang bersuara centang bagai katak di musim hujan. Terkesan menandai bangkitnya peradaban baru. Kaum elit itu bisa dari golongan cendekiawan/ulama, politisi, militer, pengusaha dan para pengamat kelas papan atas.

Kaum elit yang bangkit mengiringi peradaban itu mengetahui dengan cerdas dilema dan irama keluhan lingkungan yang dihadapinya. Mereka dengan suka rela turun di tengah masyarakat berbagi dan mengayomi dengan air telaga keteduhan. Tanpa teriakan yang memekikan telinga mereka bersedia menjadi gelombang air yg berdaya menyirami rasa dahaga  dan mengaliri jalan-jalan terjal masyarakat. Tak peduli yang didatanginya itu apakah masyarakat partai, ormas, kelompok atas ras mana. Menguntungkan atau tidak dari status dan materi pokoknya hati merka terpatri untuk berdiri dan mendayagunakan kemanfaatannya dirasakan masyarakat.

Dalam bahasa Tuhan mereka diprediketkan sebaga air yang ajeg/konsisten (al – hak). Air kebenaran yang memecahkan kebekuan dan ketersumbatan. Mereka kukuh di bumi (yamkuts fi al ardh). Berjuang berdasarkan visi misi dan orentasi yang tak pernah sirna walau harus menerjang batu batu besar. Tak peduli apakah mereka ditinggal para kroni, status dan materi. Tegaknya pesan pesan ilahi dan kemanusiasn. Itulah yang mereka suarakan dalam setiap detak jantung dan nurani sanubari.

Di tengah ajegnya peradaban kaum elit itu. ternyata masih saja dijumpai orang orang yang bermental buih. Mereka berteriak mengusung kontrak janji dan menggelar parade kedigjayaan kelompok, ras, ormas dan partai. Teriakan mereka adalah keadilan dan kebangsaan. Kenyataanya hanyalah bungkus untuk meraih status. Segala hal mereka urus dengan kasak kusuk dan teriakan kritik yang mengutuk. Tak peduli apakah yang dikeritik dan dikutuk sesama rekan partainya, sesama tokoh atau pimpinanya, kelompok atau rasnya. Mereka tak lagi peduli konflik dan integrasi. Ujungnya yang mereka cari adalah popularitas dan kekuasaan yag tak abadi . Kini mereka telah menjadi buih yang tak punya gelombang daya dan bukti nyata. Mereka kini sirna tidak lagi dikenang masa (Q.S 13:17). (Penulis : Prof. H. Fauzul Iman, MA.)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here