Selasa, 11 Desember 2018

BUDAYA MARITIM YANG TERPINGGIRKAN DI BANTEN

Issu tol laut telah digulirkan empat tahun lalu untuk mengembalikan, Nusantara yang telah berperan penting di lautan sebagai negara kepulauan. Issu tersebut telah digulirkan ketka debat Presiden, oleh salah satu paslon, bagaimana wujudnya setelah empat tahun digulirkan.

Namun yang pasti empat ratus tahun yang lalu, Budaya Maritim telah terwujud di Kesultanan Banten. Sehingga Banten dijuluki “the long sixteenth Century”. Yaitu Bandar Pelabuhan Laut yang kuat sepanjang abad 16. Dari 18 Pelabuhan di Jawa, frekwensi keluar masuk kapal-kapal besar yang merapat di Banten, dalam daftar Daghregister, Pelabuhan Laut Banten yang terbanyak sekitar 80 kali, setahun. Gresik hanya 15 kali, kapal dengan bobot di atas 5 ton.

Ki Wangsa Dipa adalah pemilik kapal dari Banten. Jenis kapal Lembu atau Lambo untuk disewakan sebagai kapal perniagaan. Dari enam Pelabuhan yang dikenal di Dunia, salah satunya adalah Banten, sehingga Banten tidak hanya sebagai Imperium juga sebagai Emperium. (Dr.Rz.Setelah.Leirissa).

Masuknya kekuasaan Kolonial, Budaya Maritim Banten terpinggirkan. Demikian juga dalam program Tol Laut, yang direncanakan terdapat 24 Pelabuhan yang akan dibangun kembali, dengan anggaran 39.5 trillyun dan 57.3 trillyun untuk pengadaan kapal-kapal laut (Dr. Nono Sampono). Banten tidak termasuk dalam rencana program tersebut. Dari 24 Plabuhan tersebut antara lain; Sumatera akan dibangun 8 Plabuhan, Jawa akan dibangun 3 Plabuhan (Tanjung Priok, Cilacap dan Tanjung Perak), Nusa Tenggara 2 Plabuhan, Kalimantan 4 Plabuhan, Sulawesi 3 Plabuhan, Maluku dan Papua 5 Plabuhan. Kenapa Banten tidak termasuk dalam rencana pembangunan kembali Pelabuhan?.

PENDAHULUAN

Banten berada diujung Barat dari Pulau Jawa yang memiliki selat Sunda dan pantai yang terluas, sekitar 520 km2. pesisir Utara, Barat dan selatan. Pantai Barat Banten merupakan jalur migrasi manusia masa prsejarah, jejak jejak manusia prasejarah telah ditemukan di Anyar, telah ditemukan kubur sekunder, dari hasil lab diperkirakan berada pada masa Prundagian sekitar 500 SM. Memasuki masa awal sejarah atau proto sejarah, juga telah ditemukan prasasti masa Klasik sekitar abad ke 5.

Manusia prasejarah ditemukan disekitar pantai Barat Anyar, sedangkan prasasti ditemukan jauh dari pantai, berada di hulu sungai. Sungai Cilemer,yang muaranya di pantai Barat Caringin. Lima abad berikutnya setelah dibuka Tanjung Harapan, Afrika Selatan, dan sekitar abad 10, telah ditemukan pantai Utara Banten, pelabuhan migrasi berpindah dari pantai Barat Banten ke pantai Utara Banten.

Pantai utara Banten menjadi pelabuhan pengganti setelah runtuhnya Malaka oleh Portugis tahun 1511, setelah kolonial dapat menaklukkan Jayakarta sebagai Dipaten Banten, plabuhan berpindah ke Batavia. Kolonial telah menguasai lautan, sementara Banten sebagai negara maritim, seakan terdesak dari lautan, untuk menghidupi rakyatnya, Banten beralih fungsi menjadi negara agraris, mengembangkan pertanaian mencetak sawah-sawah dengan membangun irigasi dan sungai sungai untuk mengaliri sawah sawah.

Setelah pesisir pantai sebagai pintu gerbang ke luar masuk, dikuasai kolonial, berikutnya kolonial hendak menguasai Selat Sunda, dengan membangun Pangkalan Angkatan laut. Sultan Banten telah menggagalkan rencananya, akibat dari penggalan tersebut, Keraton Surasowan digempur oleh Kolonial tanggal 21 Nopember 1808, satu tahun kemudian tepatnya tanggal 22 Agustus 1809, kewenangan Kesultanan Banten dilucuti. Belum puas melucuti kewenangannya, juga meneror para turunannnya, sebagaimana surat rahasia yang ditulis Rafles,” persempit ruang gerak turunannya.

Banten merupakan embrio bagi daerah-daerah lainnya, hancurnya Banten, maka akan hancur juga daerah daerah lainnya.” Budaya Maritim yang dibangun terpinggirkan, para turunannya terisisihkan dari pusat pemerintahan. Bagaimana membangun kembali Budaya Maritim dan bagaimana jejak para turunan kesultanan Banten.

BANTEN SEBAGAI EMPERIUM TERPINGGIRKAN

Institusi Islam merupakan lanjutan dari institusi sebelumnya, yaitu institusi Klasik (Hindhu/Budha), pada masa Banten dibawah institusi Klasik, secara akeologi telah ditemukan tambatan kapal bentuk berteras yang berada di Kasunyatan, sungai Cibanten. Besar kemungkinan pada masa Institusi Klasik, Kasunyatan sebagai pelabuhan pedalaman masa Klasik. Pada masa Institusi Islam, masa transisi dari Klasik ke Islam, garis pantai berada di bangunan Speelwijk.

Bangunan Spelwijck dibangun di atas benteng kota Institusi Islam Banten, benteng kota yang berada di garis pantai berbentuk zigzag yang berfungsi untuk memecah ombak.Pada masa Institusi Islam Banten terdapat tiga Plabuhan yang berada di teluk Banten, Pabuhan Pabean yang berada pada arah Barat Keraton, Pelabuhan pada bagian tengah, garis lurus dengan Keraton dan Pelabuhan Karangantu pada arah Timur keraton.

Tiga Pelabuhan dalam area Teluk Banten oleh Tomy Pires disebut, Pelabuhan Bantam. Pelabuhan lainnya yang disebut Tomi Pires adalah Pelabuhan Tamgara, Ciguide, Sunda Kalapa, dan Pamanukan. Secara arkeologi di teluk Banten terdapat tiga Plabuhan, Plabuhan Pabean, Katengahan dan Karangantu. Dalam manuscrip, DAS Cibanten terdapat pos-pos penjagaan. Seperti pada bagian hulu dijaga oleh Sang Ratu Langkapare pada pos hulu, lalu pada pos pintu gerbang benteng Kota Banten dijaga oleh Sang Ratu Buyut Jatu, berikutnya pada plabuhan, masing masing dari arah Barat, dijaga oleh Sang Ratu Pabean, Sang Ratu Linggabuaana dan Sang Ratu Jaya Kleber ( Karangantu).

Daerah Aliran Sungai dan Plabuhan-Plabuhan terdapat pos-pos jagaan sebagai jalur perniagaan dari hulu hingga ke hilir, dari Girang hingga ke Landeh, upstrem dan downstrem. Upstrem sebagai pensupply dan downstem, yaitu demandnya. Komoditi apa yang diburu sebagai kebutuhan Dunia pada waktu itu ?. Pada waktu itu Dunia memburu rempah-rempah. Banten termasuk dalam katagori jalur Spice road,bahkan menurut Jungkyun seorang musyafir dari Cina, bahwa Rempah-rempah Banten merupakan yang terbaik. Yang dimaksud rempah-rempah Banten menurut Jungkyun adalah Lada.

Perniagaan distribusi barang dari Upstrem ke downstrem, melalui jalur sungai. Toponim lada sebagai nama permukiman menunjukkan suatu bukti bahwa nama lada memiliki nilai penting sebagai komoditi Banten, bahkan memiliki nilai ekspor ke berbagai negara. Toponim lada ditemukan tidak hanya pada wilayah upstrem juga ditemukan pada wilayah downstrem.
Pada wilayah upstrem telah ditemukan nama permukiman seperti, babakan pedes, Cipedes, sementara pada wilayah downstrem telah ditemukan toponim Pamarican yang ditemukan di dekat Pelabuhan Pabean Banten. Dari hasil ekskavasi telah ditemukan artefak alat untuk menggiling merice.

Lada sebagai komoditi ekspor telah terorganisir secara profesional, dengan pembagian tugas yang jelas sebagaimana tercatat dalam Arsip Kolonial, (Arsip Banten no.99 dan arsip Culturr no. 526), disebutkan tugas-tugas mulai dari penanaman hingga pemasarannya diatur, difasilitasi oleh Kesultanan Banten. Sistim pembagian tugas; penyortir dipegang oleh seorang Keay (kyai) dan nyay (nyai), Ratoe Aiyoe, jabatan mandor dipegang oleh kerabat kerajaan, dengan gelar Toebagoes, maas, ingabe (y), ngabehi, sebelum didistribusikan juga ada petugas penyortir dan pengepul.

Dalam pendistribusi lada atau pemasaran lada, diwajibkan untuk membawa surat jalan, sebagaimana disebutkan dalam pasal 6, Undang-Undang Dalung Banten. Demikian juga Pemeliharaan dan Pengembangan tanaman lada diwajibkan bagi Punggawa dan rakyat untuk masing-masing setiap orang menanam 500 pohon, sebagaimana disebut dalam pasal 11 Undang-Undang Dalung Banten. Distribusi lada melalui perairan, mendapat perlindungan kemanan perniagaan jalur perairan, sungai dan laut, sebagaimana disebut dalam pasal pasal 4. Perlindungan dalam perniagaan perairan dalam aturan kuna hanya terdapat dalam Undang_undang dalam kerajaan Goa Makasar dan kesultanan Banten.

Demikian juga dalam aturan impor, membawa barang-barang dari luar ke dalam kesultanan Banten, harus melalui Pabean, setelah menyelesaikan administrasi, maka bisa melewati Tolhuis. Artefak tolhuis telah ditemukan pada arah utara Keraton Surasowan sebagai pintu masuk menuju kota Banten, yang dikenal dengan jembatan Rantai.Berdasarkan seminar Internasional tahun 1995, menyimpulkan bahwa Bahwa Banten adalah masuk dalam katagori sebagai bandar Internasional pada kesultanan Banten, bahkan Banten merupakan Bandar Laut yang terlama, “The long Sixteenth Century”.

Kekuasaan kolonial telah meminggirkan budaya Maritim yang dibangun oleh Kesultanan Banten. Penguasaan perairan oleh kolonial telah meruntuhkan ekonomi maritim yang telah dibangun Kesultanan Banten. Ini adalah awal dari keruntuhan Kesultanan Banten, kekuasaan Laut telah dikuasai oleh kolonial, pesisir hingga Selat. Perdagangan insuler maupun interinsulernya.

Pantai utara Banten atau teluk Banten telah terjadi erosi, pada abad ke 16 garis pantai masih disekitar dekat bangunan benteng Speelwijck , pada abad 21 ini garis pantai sudah hampir 2 km dari bangunan Speelwijck, artinya telah terjadi pendangkalan di teluk Banten. Pendangkalan teluk ini juga menjadi kendala bagi nelayan yang brangkat melaut, keberangkatannya tergantung air pasang. Kenapa Banten yang dahulu sebagai bandar Laut Internasional, namun tidak tersentuh oleh program Tol Laut. (Tubagus Najib,
Peneliti Pada Pusat Penelitian Arkeologi Nasional).


Sekilas Info

Seperti Sepasang Sandal

Oleh Nasuha Abu Bakar,MA Kenyataan di dalam kehidupan tidak dapat dielakan dan tidak dapat dipungkiri …

One comment

  1. TB.DODY MUHAMMAD FAISAL

    Ketahanan agraris dan Maritim..yg perlu diperhatikan Banten menghadapi arus tatanan global

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *