Minggu, 18 November 2018
Presiden Joko Widodo saat memberikan gelar pahlawan nasional kepada ahli waris 6 orang tokoh bangsa di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11/2018).*

Brigjend KH Syam’un Dianugerahi Pahlawan Nasional

JAKARTA, (KB).- Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh, di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11/2018). Dari enam tokoh itu, salah satu dari Provinsi Banten yakni Almarhum Brigjen KH. Syam’un, pendiri Perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil, Kota Cilegon.

Gelar yang diberikan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November. Pemberian gelar Pahlawan Nasional ini sesuai dengan Keputusan Presiden RI Nomor 123/TK/Tahun 2018 tanggal 6 November 2018 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tak lupa, Jokowi memimpin langsung prosesi mengheningkan cipta untuk mengenang jasa-jasa pahlawan dan mendoakannya. “Untuk mengenang jasa para pahlawan, marilah kita mengheningkan cipta sejenak,” ucap Jokowi.

Selanjutnya, ahli waris dari enam tokoh pahlawan telah siap berdiri untuk menerima langsung penghargaan ini. Penetapan tokoh untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional ini ditentukan oleh para anggota Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Aturan dewan gelar telah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2010 tentang Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) KH. Syam’un lahir di Beji, Bojonegara, Serang, Banten, 5 April 1894. Tokoh pejuang kemerdekaan menentang Pemerintahan Hindia Belanda di Banten itu, meninggal di Kamasan, Cinangka, Serang, Banten, 28 Februari 1949 pada umur 54 tahun.

KH. Syam’un merupakan keturunan KH. Wasid yang pernah bergerilya menentang penjajah Belanda pada tahun 1800-an. Sebagai keluarga seorang patriot, Syam’un mewarisi mandat sebagai sosok yang memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara.

Syam’un adalah pendiri Perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil, Kota Cilegon. Ia pernah bergabung dengan kelompok Pembela Tanah Air (Peta) bersama Kasman Singodimedjo. Selanjutnya, Syam’un bergerilya bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Ia memperoleh pangkat sebagai Brigadir Jenderal.

Bagi masyarakat Banten, nama Sya’mun harum sebagai Bupati Serang pasca-kemerdekaan Indonesia. Ia bertugas sebagai abdi negara di kabupaten itu pada 1945-1949. Ia meninggal pada 1949 karena sakit, setelah memimpin pertempuran di Serang.

Ketum PB Al Khairiyah H.Ali Mujahidin mengatakan, Banten baru memiliki dua Pahlawan Nasional yaitu Sultan Ageng Tirtayasa dan Brigjend. KH. Syam’un. “Semoga tahun berikutnya dapat pula di usulkan Pahlawan Nasional dari Banten seperti KH.Wasyid, KH. Abdul Fatah Hasan Anggota ad hoc BPUPKI, dan beberapa nama Pahlawan Banten lainnya. Baik dari Serang Cilegon, Pandeglang Lebak, sampai Tangerang Raya,” tuturnya.

Ia berharap penganugerahan Pahlawan Nasional kepada Brigjen KH.Syam’un dapat membawa motivasi bagi masyarakat Banten. Apalagi, selama ini Banten dikenal sebagai tempatnya para ulama yang berjuang melawan penjajah.”Dengan begitu, Banten akan dikenal lebih luas dan tentunya dapat memberikan semangat bagi kami dikeluarga besar Al Khairiyah,” ucapnya.

Sementara itu, seorang tokoh masyarakat banten, H.Embay Mulya Syarief, mengatakan, Brigjen KH Syam’un merupakan sosok ulama dan prajurit pejuang yang patut diteladani. Saat Pemerintahan Karesidenan Banten di pedalaman karena Kota Serang diduduki oleh Belanda, Brigjen KH. Syam’un bersama pasukannya bergerilya di Gunung Aseupan Mandalawangi selama 6 bulan, tepatnya di Kampung Kadu Jangkung, Desa Ramea, Kabupaten Pandegalang.

“KH Syam ‘un kemudian menjabat Bupati Serang dan mendirikan Perguruan Alkhairiyah. Selayaknya Pemerintah menganugrahkan gelar Pahlawan Nasional kepada KH.Syam’un, yang juga cucu dari ulama besar KH.Wasyid yang memimpin Perang Cilegon pada 1888,” ucapnya. (SJ/Ant/HS)*


Sekilas Info

Yayasan Suara Hati Kita Salurkan Bantuan Untuk Anak-anak Korban Gempa Sulteng

CILEGON, (KB).- Yayasan Suara Hati Kita salurkan bantuan untuk anak-anak korban bencana Palu Sulawesi Tengah, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *