Minggu, 24 Juni 2018

BPOM Larang Penggunaan Policresulen, Albothyl Masih Beredar

SERANG, (KB).- Memasuki awal tahun 2018, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah membekukan tiga izin edar obat-obatan. Setelah Viostin DS dan Enzyplex yang dilarang beredar karena mengandung DNA babi, kini obat sariawan Albothyl yang juga diproduksi oleh PT Pharos Indonesia juga ditarik dari peredaran karena mengandung policresulen, yang memiliki risiko lebih besar di bandingkan manfaatnya untuk mengobati sariawan.

Meski sudah dibekukan dari peredaran, namun albothyl di beberapa apotek di Kota Serang masih beredar. Salah satunya di salah satu apotek di kawasan Warung Pojok (warjok) di Jalan Ciwaru Raya, Kota Serang. “Masih ada, masih jual, tapi tadi baru dikasih tau bos kalau nanti sudah gak jual lagi,” kata seorang pegawai apotek Warjok, Ratih saat ditemui Kabar Banten, Jumat (16/2/2018).

Menurut dia, biasanya pihak distributor yang melakukan penarikan seperti yang terjadi pada Viostin DS dan Enzylpex. Namun karena libur, maka ia memperkirakan pada hari Senin baru ditarik.”Yang narik dari distributornya, kaya Viostin juga kan salesnya yang turun tangan,” ucapnya. Secara terpisah, asisten Apotek Kimia Farma yang berlokasi di Jalan Yumaga, Kota Serang, Bahtiar mengatakan, albothyl di Apotek Kimia Farma sudah ditarik sejak adanya pelarangan dari BPOM. “Pas ada pemberitahuan langsung ditarik sama pihak Kimia Farmanya,” tuturnya.

Menurutnya, semua Apotek Kimia Farma secara serentak akan menariknya. Meskipun diakuinya konsumen albothyl cukup banyak di Kota Serang. “Kalau konsumennya banyak, tapi kalau di Kimia Farma sudah ditarik semua,” ujarnya. Sebelumnya, BPOM bersama ahli farmakologi akhirnya melarang penggunaan policresulen dalam cairan obar luar konsentrat untuk pembedahan serta penggunaan pada kulit, termasuk untuk mengobati sariawan, THT dan vaginal.
Salah satu produk yang mengandung zat tersebut ialah albothyl.

Produk ini menurut BPOM merupakan obat bebas terbatas berupa cairan obat luar yang mengandung policresulen konsentrat dan digunakan untuk hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan, serta penggunaan pada kulit, telinga, hidung, tenggorokan (THT), sariawan, gigi dan vaginal (ginekologi). Oleh karena itu, sebagai tindak lanjut dari hal ini maka BPOM membekukan izin edar albothyl dalam bentuk cairan obat luar konsentrat hingga perbaikan indikasi yang diajukan disetujui.

“Untuk produk sejenis akan diberlakukan hal yang sama. Selanjutnya kepada PT Pharos Indonesia (produsen Albothyl) dan industri farmasi lain yang memegang izin edar obat mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat diperintahkan untuk menarik obat dari peredaran selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Pembekuan Izin Edar,” tutur pihak BPOM dalam keterangan tertulisnya. (Masykur/Job)***


Sekilas Info

Dana Parpol Segera Cair

SERANG, (KB).- Bantuan dana partai politik (parpol) sudah bisa dicairkan pada Juli 2018. Parpol peraih kursi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *