Selasa, 19 Februari 2019
Breaking News

BPBD Cilegon Gotong Royong Buka Jalan

JIKA kita berbicara masa lalu, mudah sekali menemukan budaya gotong royong dalam berbagai bentuk. Mulai dari kerja bakti yang seringkali dilakukan warga masyarakat setiap seminggu sekali hingga budaya gotong royong pada orang hajatan, mengalami musibah, dan lainnya. Budaya gotong royong adalah identitas nasional.

Oleh karena itu, budaya gotong royong seharusnya terus dijaga, agar terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Istilah gotong royong berasal dari bahasa Jawa. Gotong berarti pikul atau angkat, sedangkan royong berarti bersama-sama. Sehingga, jika diartikan secara harafiah, gotong royong berarti mengangkat secara bersama-sama atau mengerjakan sesuatu secara bersama-sama.

Hal tersebut yang mendasari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menginisiator masyarakat Lingkungan Pasir Salam, RT02/RW09, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol untuk melakukan gotong royong membuka akses jalan yang tertutup longsor, Ahad (18/3/2018). Kepala Pelaksana BPBD, Rasmi Widyani mengatakan, aksi gotong royong tersebut merupakan spontanitas di mana sebuah pohon besar tumbang menghalang jalan dan akses jalan tertutup.

“Kami menerima laporan dari warga ada pohon besar tumbang disertai longsor, karena pohon itu tumbang secara otomatis tanah di sekitaran pohon ikut terbawa. Mengingat akses jalan yang tidak bisa dilalui kendaraan maupun alat berat, kami menginisiatori untuk memakai manual, yakni gotong royong,” katanya.

Gayung bersambut, sejumlah elemen masyarakat, di antaranya Tagana, PMI, dan warga sekitar beserta aparatur Kelurahan Gerem bahu-membahu melakukan gotong royong, baik memindahkan tanah dengan cangkul maupun mengangkuti memakai ember.
“Syukur Alhamdullilah, masyarakat di bawah komando BPBD, bahu-membahu membuka akses jalan tersebut,” tuturnya.

Kerja bakti dimulai pukul 08.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 12.00 WIB. Akhirnya, jalan tersebut bias dilalui kembali. Untuk sementara, di sekitar longsoran tersebut, kami melakukan pengawasan dan monitoring secara rutin. Ke depan, kami berharap, program infrastruktur berupa tembok penahan tanah (TPT) bisa menjangkau lingkungan tersebut yang panjangnya sekitar 50 meter,” ujarnya.

Sementara itu, Kasi Pencegahan pada BPBD Kota Cilegon, Utang Sutardi menyatakan, penanggulangan pascabencana merupakan salah satu upaya BPBD yang bersinergi dengan warga melalui gotong royong. Pertama, adalah Kelurahan Masigit, Kelurahan Gerem adalah yang kedua, di mana memang ketika pascabencana terjadi dan alat berat tidak bisa masuk, satu-satunya jalan memakai manual, adalah dengan melibatkan banyak orang. Artinya, sinergitas antara OPD BPBD dengan masyarakat terjalin,” ucapnya.

Ia menuturkan, pascapembentukan Kelurahan Tangguh Bencana, masyarakat diminta melakukan komunikasi aktif. Bahkan, lanjut dia, selama ini ada grup Forum Pengurangan Risiko Bencana, di mana selama ini berkirim informasi melalui daring (dalam jaringan) aktif. “Ketika kami menginisiatori melakukan gotong royong dalam penanganan bencana itu, kami kirim informasi waktu dan tempatnya, gayung bersambut masyarakat Pasir Salam menyambut baik. Alhamdullilah, semua relawan, termasuk pegawai BPBD ikut hadir dan kegiatan gotong royong berjalan dengan lancar,” katanya.

Lurah Grogol, Samlawi menyatakan, warga yang ikut dalam gotong royong sangat antusias, karena mereka memahami apa gotong royong tersebut. “Gotong royong itu mencerminkan kebersamaan yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat. Dengan gotong royong, masyarakat mau bekerja secara bersama-sama untuk membantu orang lain atau untuk membangun fasilitas yang bisa dimanfaatkan bersama. (Himawan Sutanto)***


Sekilas Info

Pembuatan Drainase Lamban, Penyebab Banjir Bandang

CILEGON, (KB).- PT Bahanasemesta Adinusantara, perusahaan pengembang perumahan Bukit Cilegon Asri (BCA), mengakui adanya kesalahan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *