Boyke Pribadi: Produk Lokal Inisiasi Pemda Sulit Bertahan

Boyke Pribadi.*

SERANG, (KB).- Pengamat ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Boyke Pribadi menilai, produk lokal yang diinisiasi oleh pemerintah daerah akan sulit bertahan. Sebab, umumnya produk tersebut tak diurus secara terus menerus sampai berkembang pesat.

“Jadi launching udah gitu enggak diurusin lagi berikutnya, karena tergantung program. Pemerintah kan tergantung program,” katanya saat dihubungi Kabar Banten, Senin (10/2/2020).

Akibat tak dikembangkan secara terus-menerus, produk lokal inisiasi pemerintah sulit untuk menarik pasar.

“Keuntungannya pemerintah punya kekuatan untuk mendorong aparatnya mengonsumsi itu. Aparatnya yah, karena kan aparat mah di bawah kendali mereka,” katanya.

Sebetulnya pemerintah tak perlu menginisiasi produk untuk mengangkat produk lokal. Pemerintah cukup memfasilitasi produk yang saat ini sudah dihasilkan oleh masyarakat.

“Bukan berarti saya tidak setuju merek lokal. Tapi, merek lokal yang dibangkitkan oleh kreativitas masyarakat, dan pemerintah memfasilitasi pameran, memfasilitasi alat dan sebagainya,” ujarnya.

Baca Juga : Dari Beras Jaseng Hingga Kopi WH, Produk Banten Bermunculan

Produk lokal hasil ide kreativitas masyarakat juga akan dipertahankan oleh masyarakat bersangkutan. Sebab, produk itu menyangkut kehidupan mereka.

“Jadi itu kreativitas masyarakat mereka akan berusaha mempertahankan mati-matian karena itu kehidupannya,” ucapnya.

Jikapun ingin dilakukan, pemerintah tak membentuk produk baru. Pemerintah justru bisa mengangkat produk yang sudah menjadi brand lokal, seperti kopi kupu-kupu.

“Mempromosikan ide masyarakat, memfasilitasi meluaskan jaringan yang dimiliki masyarakat. Dalam bentuk apapun (produknya), terserah namanya apa,” katanya.

Diketahui, sejumlah produk yang mewakili daerah di Banten bermunculan. Selain beberapa produk yang sama dari kabupaten/kota seperti beras, belakangan juga muncul produk kopi dengan merek “WH” atau inisial yang identik dengan sapaan familiar dari Gubernur Banten Wahidin Halim.

Di Kabupaten Pandeglang ada beras Cimanuk. Pemasaran beras ini sudah menembus pasar DKI menjadi beras unggulan di Pandeglang. Beras Cimanuk dikenal memiliki kualitas yang siap bersaing dengan beras dari berbagai daerah.

Sama halnya dengan Pandeglang, dari Kabupaten Lebak muncul beras merek Ciberang. Namun, produk yang sudah dipatenkan 2018 tersebut sulit berkembang akibat kesulitan permodalan.

Sama halnya dengan Pandeglang dan Lebak, terbaru adalah beras Jawara Serang (Jaseng) yang diluncurkan Pemkab Serang. Bahkan, Kota Serang juga berencana memproduksi beras dengan merek lokal dengan nama beras “Madani”. (SN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here