Jumat, 16 November 2018

Bocah Penderita Hydrochephalus Butuh Uluran Tangan

GELAK tawa, kegaduhan akibat langkah-langkah kaki anak-anak atau bahkan rengekan dan isak tangis anak yang biasanya mewarnai kehidupan rumah tangga, hampir tak terdengar di rumah Amirudin (41) dan Nunung Komala Sari (30). Hanya rona kesedihan dan rasa pasrah yang tergambar di wajah pasangan suami istri yang tinggal di Kampung Sukajadi RT/RW 010/004 Desa Rahong, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak.

Kesedihan dan kepiluan Amirudin dan Nunung sangatlah bisa kita maklumi, mengingat putra kesayangannya, Alingga yang baru berusia satu tahun menderita penyakit hydrocephalus atau kepala membesar. Dalam laman alodokter.com, dijelaskan, penderita hydrosephalus mengalami penumpukan cairan di dalam otak yang berakibat pada meningkatnya tekanan pada otak. Jika tidak segera ditangani, tekanan ini dapat merusak jaringan dan melemahkan fungsi otak.

Hydrosephalus dapat dialami oleh orang-orang pada segala usia, namun umumnya penyakit ini diderita oleh bayi dan manula. Gejala penyakit hydrosephalus dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis. Yaitu hydrosephalus kongenital, yang terjadi sejak bayi baru dilahirkan, hydrosephalus yang didapat atau acquired yang diderita oleh anak-anak dan dewasa, serta hydrosephalus dengan tekanan normal, yang umumnya dialami oleh manula.

Hydrosephalus terjadi ketika terlalu banyak cairan serebrospinal yang terbentuk di otak, sehingga menyebabkan tekanan dalam tingkat yang berbahaya pada jaringan otak. Jika tidak diobati, hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan otak permanen dan memengaruhi perkembangan fisik serta mental pasien. Namun, jika diobati, apalagi lebih dini, maka pasien dapat menjalani kehidupan normal dengan sedikit keterbatasan.

Hydrosephalus dapat diobati oleh ahli bedah saraf dan ahli neurologi, yaitu dokter yang mengkhususkan diri dalam pengobatan gangguan yang memengaruhi otak dan sumsum tulang belakang. Selama proses perawatan jangka panjang, pasien juga dapat ditangani oleh terapis okupasional dan perkembangan mental. Dengan bantuan tim perawatan medis yang lengkap, pasien yang terkena penyakit ini dapat hidup lama dan normal.

Kesedihan Amir dan Nunung kian bertambah, karena upaya mereka untuk memberikan pengobatan yang layak bagi kesembuhan bocah malang tersebut, terbentur pada kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas. Amirudin (ayah Alingga) yang bekerja sebagai buruh harian lepas harus berjuang keras karena untuk proses kesembuhan anaknya membutuhkan biaya cukup besar.

”Kami akan terus berusaha sekuat tenaga kami bagi kesembuhan penyakit yang diderit anak kami. Namun karena keterbatasan kami, untuk sementara buah hati kami itu terpaksa kami ajak pulang, setelah sebelumnya dirawat di rumah sakit (RS) untuk proses operasi,” ujarnya.

Kepala Desa (Kades) Rahong Kecamatan Malingping, Ubed Jubaedi kepada Kabar Banten mengatakan, orangtua bocah malang penderita penyakit hydrochephalus, sangat menginginkan kesembuhan anaknya seperti anak-anak yang normal seusianya. ”Karena itu, saya Kepala Desa Rahong dan Peduli Masyarakat “Kasih Bunda” memohon keikhlasan para dermawan memberikan bantuan. saat ini Alingga, sedang dirawat di rumah sakit dan akan menjalani operasi,” ucapnya.

Ubed menuturkan, keadaan ekonomi pasutri Amirudin dan Nunung, yang merupakan orangtua bocah malang tergolong kurang mampu. ”Tentunya kami berharap, Alingga sembuh dari penyakitnya dan dapat tumbuh seperti anak-anak normal seusianya,” tuturnya. (Dini Hidayat)*


Sekilas Info

Keterbatasan Program Hambat Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni

MASIH banyaknya warga Lebak yang belum memiliki rumah layak huni, serta keterbatasan jumlah kuota bantuan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *