Sabtu, 15 Desember 2018

Bobot Hanya 6 Kilogram, Rani Maharani Butuh Uluran Tangan

Rani Maharani, warga Kampung Puyuh Koneng Pemaksan, Desa Kencana Harapan, Kecamatan Lebakwangi. Usianya sudah menginjak 6 tahun, namun bobotnya hanya 6 kilogram (kg). Ia hanya bisa tergolek lemas tak berdaya. Namun, belum diketahui apa penyakit yang diderita Rani. Sebab, hingga kini putri pasangan Jum’ati dan Akhyar tersebut, tak punya biaya untuk berobat.

Ironisnya, dia harus ditinggalkan oleh ayah-ibunya yang telah bercerai. Sang ayah memilih tinggal di Cianjur, Jawa Barat, sedangkan sang ibu mengadu nasib ke Timur Tengah menjadi tenaga kerja wanita (TKW). Kini, dia dirawat oleh paman dan neneknya.

Paman Rani, Muhaimin mengatakan, Jum’ati merupakan adik kandungnya, sedangkan Akhyar adalah warga Cianjur. Setelah menikah, mereka pindah ke Cianjur dan membawa Rani yang kala itu berusia 8 bulan. Namun kemudian, pasangan suami-istri tersebut bercerai. Pascalebaran lalu, Rani dibawa ke Lebakwangi. Kondisi yang kini dialami oleh Rani tersebut, telah dideritanya sejak kecil.

“Dulu lahirnya di Puskesmas Pontang. Bapaknya pisahan (cerai), dia pulang ke sini ke tempat saya. Ibunya ke Arab, sekitar dua bulan lah,” kata Mimin sapaan akrabnya kepada Kabar Banten saat ditemui di rumahnya, Ahad (2/12/2018). Ia menuturkan, Rani merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Saat dilahirkan kondisinya baik-baik saja, namun sekarang berat badannya hanya sekitar 6 kg. “Adiknya mah sehat dan normal namanya Dimas, usianya setahun,” tuturnya.

Di usianya yang keenam tahun, Rani hanya bisa terbaring di tempat tidur. Bocah kecil tersebut, tidak bisa melakukan aktivitas, seperti halnya anak-anak lain yang seumuran. “Harusnya mah sudah TK dia. Tapi, enggak bisa apa-apa. Kalau makan mah mau, tapi disuapin. Terus kalau malam suka rewel dan susah tidur,” ujarnya.

Ia menduga, Rani mengalami kondisi demikian dikarenakan orangtuanya yang serba terbatas. Ketika di Cianjur juga, kemungkinan orangtuanya ingin membawanya berobat, akan tetapi lagi-lagi terganjal keterbatasan ekonomi. “Bapaknya dulu kerja serabutan. BPJS belum punya. Posyandu juga enggak ikut. Karena, enggak ada ibunya,” ucapnya. Ia berharap, keponakannya tersebut bisa sembuh seperti anak lainnya. “Kalau keinginan mah pengin dibawa (berobat), pengin sehat, pengin sembuh,” katanya.

Sementara, Kabid Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Serang, Henny Widhani mengatakan, pihaknya akan segera menindaklanjuti masalah tersebut. “Nanti saya telepon petugas gizinya di Lebakwangi dan akan dilihat oleh kepala Puskesmas,” ujarnya. Ia menuturkan, selama ini pihaknya sudah memiliki penanganan khusus terhadap persoalan gizi buruk, yakni dengan melakukan pemberian makanan tambahan (PMT). PMT tersebut diberikan kepada anak usia lima tahun ke bawah.

“Diharapkan setelah lima tahun bisa membaik. Makanya, dikasih PMT selama gizi buruk. Hanya mungkin ada penyakit penyerta yang sulit menambah berat badannya kalau sudah lebih lima tahun,” ucapnya. Ia akan segera turun ke lapangan mengecek kondisi Rani. “Biasanya kalau kami akan lihat nanti. Saya juga biasanya turun kalau dia dalam kondisi sakit. Kalau perlu perawatan kami kirim rujukan ke RSDP (Rumah Sakit Drajat Prawiranegara). Kalau untuk BPJS biasanya kami buatkan nanti,” tuturnya. (Dindin Hasanudin)*


Sekilas Info

Dua Tahun, Ichsan Soelistio Bagikan 193 Unit Alsintan

SERANG, (KB).- Anggota DPR RI dari fraksi PDI Perjuangan, Ichsan Soelistio kembali membagikan bantuan sebanyak 25 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *