BKKBN Sasar Kalangan Milenial, Keluarga Basis SDM yang Unggul

Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) BKKBN Pusat Dr. Dwi Listyawardani bersama Kepala Perwakilan BKKBN Banten Aan Jumhana dan narasumber beserta peserta foto bersama usai diskusi Obrolan Mang Fajar,di Kantor Redaksi Kabar Banten, Jl. Jenderal A. Yani No. 72 Kota Serang, Rabu (11/3/2020).*

Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2020 melakukan rebandring dan tagline yang menyasar generasi milenial. Dengan tagline “Berencana Itu Keren”, BKKBN ingin mengajak generasi milenial untuk merencanakan keluarga secara baik, karena keluarga merupkan basis Sumber Daya Manusia (SDM) unggul.

Hal itu disampaikan Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) BKKBN Pusat Dr. Dwi Listyawardani saat menjadi narasumber utama diskusi rutin Obrolan Mang Fajar dengen tema “Program Pembangunan Keluarga Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) di Era Milienal” di ruang redaksi Kabar Banten, Rabu (11/3/2020).

Hadir sebagai narasumber Kepala BKKBN Perwakilan BKKBN Banten Aan Jumhana, Kabid Pengendalian Pendudukan dan KB DP3AKKB Provinsi Banten Rikrik Hermawan, Sekretaris Komisi V DPRD Banten H Fitron Nur Ikhsan, Mayor Arm Kasudiono Danrem 064 MY, Kasi Kepenghuluan Kanwil Kemenag Banten H Tb Djuwaeni, Ketua Pokja KB Tb Jayadi, Hj A Rohanah dari IBI Banten, Dr Iin Ratna Sumirat akademisi UIN SMH Banten, Dr Rani Sri A dari LPPM Untirta, Ade Jahran perwakilan masyarakat, dan Ila Kholilunnisa dari Kohati Untirta dan sejumlah penyuluh KB. Diskusi dipandu moderator Direktur PT Fajar Pikiran Rakyat Rachmat Ginandjar.

“BKKBN secara khusus melakukan survei kepada milenial terutama bagaimana penerimaan milenial terhadap program Bangga Kencana. Beberapa di antara mereka menanyakan kira-kira konsep merencanakan keluarga. Makanya kita mengubah tagline menjadi Berencana Itu Keren,” kata Dwi.

Hanya saja, ujar dia, milenial tidak mau digurui seperti tagline Dua Anak Cukup. “Mereka tidak mau. Milenial pengennya diajak berpikir makanya pakai kata terencana. Biarkan mereka berpikir membangun paradigmanya sendiri dan mereka juga pasti akan merencanakan kehidupannya,” katanya.

Ia mengatakan milenial tidak hidup sembarangan dan ini yang akan diperbuat BKKBN. Terutama dari aspek merencanakan keluarga dengan baik karena basis kita adalah keluarga.

“Jadi dari keluarga inilah manusia-manusia Indonesia dilahirkan. Kalau keluarga itu tidak baik, maka kita khawatir bahwa akan muncul manusia-manusia Indonesia yang tidak berkualitas. Padahal ini adalah menjadi semangat kita bersama dan kita ingin memiliki manusia Indonesia yang unggul. Bukan SDM Indonesia unggul. Ini ada jargon baru manusia Indonesia. Kalau SDM seperti alat sumber daya manusia seperti barang. Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia yang akan di ekploitasi padahal kita manusia,” ujarnya.

Menurut dia, manusia itu harus dilihat dari sisi kemanusiannya juga bukan hanya dari apakah dia mampu untuk memproduksi sesuatu baukan hanya itu, tapi ada aspek sisi manusia yang juga dipertimbangkan. Jadi, ujar dia, kembali lagi BKKBN ingin memperkuat keluarga. Dalam rangka untuk menuju lahirnya manusia-manusia Indonesia yang berkualitas. Para remaja juga setuju dengan gagasan ini karena mereka juga sudah terekspose dengan program BKKBN.

“KB itu masa lalu, sekarang itu isunya lebih makro. Kependudukan dan keluarga. Bagaimana melalui keluarga ini kondisi kependudukan kita akan menjadi lebih baik lagi. Intinya kembali kepada keluarga dan selama ini belum ada lembaga yang secara khusus lembaga pemerintah yang secara khusus mengurusi keluarga. Kita ingin memperkuat itu dan kami mengharapkan masukan stakeholder yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Sehingga aspirasi-aspirasi masyarakat untuk bisa menerima ide semakin bagus,” katanya.

Menurut dia, ada banyak tantangan di era milenial ini. Salah satunya tren atau ajak-ajakan nikah muda. “Ini luar biasa naik. Jadi pengikutnya itu folowernya sampai 5 juta. Padahal nikah muda itu banyak bahayanya daripada manfaatnya,” ucapnya.

Di era milenial ini, kata dia, kita tidak boleh mengurui, tetapi harus mengali dari mereka dan mereka lah yang akan memunculkan ide-ide untuk memperbaiki kondisi yang sekarang.

“Intinya BKKBN ingin memperbaiki generasi Indonesia masa sekarang, tahun depan dan masa tiga tahun yang akan datang. Kita masih dihadapkan pada masalah-masalah yang serius. Contohnya sekarang banyak isu kurang gizi dan stunting. Ternyata masalah gizi bukan masalah ekonomi. Orang kaya juga banyak anaknya yang gizinya jelek. Karena pola pengasuhannya yang salah,” katanya.

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk DP3AKKB Provinsi Banten, Rikrik Hermawan mengatakan kebijakan dari BKKBN diterapkan di daerah karena bagaimana pun juga pemerintah daerah merupakan bagian dari pusat yang tentunya disesuaikan dengan visi misi Gubernur Banten sesuai dengan RPJMD.

“Kebijakan BKKBN meskipun ada rebranding menjadi Bangga Kencana sebetulnya tidak bertentangan dan masih selaras. Di Banten sudah terbit Peraturan Daerah tentang Ketahanan Keluarga. Artinya bukan KB tapi ketahanan keluarga. Porsi Kependudukan dan keluarga berencana ini ketahanan keluarga itu lebih diutamakan dan didahulukan sehingga rebrandingnya keluarga harus didahulukan bahkan di berbagai Kementerian dan Lembaga (KL) di pusat, penanganan suatu permasalahan yang ada di KL sekarang sudah mulai melalui keluarga,” ujarnya.

Rikrik mengatakan program di DPA3KKB tentu harus mengikuti dan sejalan dengan pusat (BKKBN) untuk mencapai indikator-indikator kinerja atau capaian kinerja. Terkait rebranding BKKBN di era milenial, ia mengatakan, DP3AKKB Banten juga mencanangkan sasaran kepada kaum milenial lebih banyak. Namun demikian, kata dia, bukan berarti melupakan yang lain yang telah digarap bersama.

Tren milenial ke depan

Anggota Komisi V DPRD Banten, Fitron Nur Ikhsan mengatakan generasi milenial dan keluarga berencana sebenarnya pihaknya juga punya harapan dan tantangan secara bersamaan karena tren milenial kedepan. Berdasarkan studi, ucap dia, kedepan kecenderungan milenial justru tidak menikah.

“Kita ingin mengendalikan penduduk tapi bukan berarti kita mengamini proses-proses yang secara budaya karena ini tidak menguatkan yang kecenderungan masyarakat modern yang juga dianut oleh teman-teman milenial karena mereka berinteraksi secara global dengan masyarakat dunia, kecenderungan boy friends, girl friend ingin bersama tapi tidak mau punya keturunan, mereka tinggal bersama dan mereka tidak punya hal yang mengikat itumenjadi tantangan kita yang baru,” ucap politisi Golkar ini.

Keluarga Berencana, kata dia, juga tidak mendorong orang untuk tidak punya anak sama sekali seperti trendnya masyarakat. Menurut dia, hal itujuga mesti diantisipasi.

“Jadi ini tantangan baru untuk program KB kedepan terkait dengan trennya milenial sekarang ini. Untuk provinsi banten kita mempunyai tantangan masyarakat milenial yang tidak ‘well educated’ yang tentu saja komunikasinya akan berbeda,” ucapnya.

Ia mengatakan kalau melihat Lebak dan Pandeglang, pernikahan muda, perceraian lalu mereka hamil dalam usia yang masih belum memadai, ini kemudian menjadi tantangan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang masih sangat sulit di dua kabupaten tersebut.

“Jadi kita butuh dimensi multi pendidikan keluarga berencana terutama masalah kesehatan reproduksi dan ini menjadi sangat penting. Sehingga kita butuh strategi yang multi dimensi satu sisi kita berhadapan dengan milenial yang modern tetapi kita juga berhadapan dengan masyarakat Kabupaten Lebak, Pandeglang meskipun mereka generasi milenial secara usia tetapi dari sisi pendidikan juga masih ngak well come. Jadi menurut saya rumusan strateginya mesti sangat kuat,” katanya.

Fitron mengatakan, tangungjawab pada pengendalian penduduk dan keluarga berencana ini berada sepenuhnya di BKKBN. Meskipun BKKBN adalah instansi vertikal, ucap mantan aktivis mahasiswa ini, BKKBN harus memiliki koordinasi yang kuat dan support yang memadai dan koordinasi yang baik dari pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota.

Fitron menyampaikan bahwa pihaknya ingin gubernur, bupati dan wali kota intensif mengajak bicara BKKBN dalam perencanaan pembangunan. Karena BKKBN bukan bicara soal pengendalian penduduk dan keluarga berencana serta tidak semata-mata ngomong harus punya anak dua saja tetapi butuh multi sektoral koordinasi.

Kepala Seksi (Kasi) Kepenghuluan Kanwil Kemenag Provinsi Banten, H Tb Juwaeni menyampaikan bahwa di kementerian agama program-program yang terkait di keluarga sangat banyak, namun hasilnya tidak tampak. Ia mengatakan, embrio terkecil dari negara ini adalah keluarga. Terkait dengan ketahanan keluarga, yang dikhawatirkan adalah perceraian.

AKI dan AKB

Sementara itu, perwakilan IBI Provinsi Banten, Hj Rohanah menyampaikan bahwa AKI dan AKB masih sangat tinggi. Ketika ada permasalah tentang program Bangga Kencana di era milenial adalah salah satu hal yang menjadi tangungjawab kita semua. Tantangan di Provinsi Banten salah satunya angka kejadian anemia ini sangat tinggi sehingga penyumbang stunting, gizi buruk dan lain-lain itu dari ibu-ibu milenial yang akan melahirkan generasi penerus itu anemia.

“Ketika kita melakukan penelitian, hampir 90 persen anak remaja itu anemia dengan jumlah HB dibawah 10 persen. Itu adalah salah satu tantangan sehingga Provinsi Banten mencanagkan gerakan minum tablet tambah darah untuk anak SMP dan SMA. Mudah-mudahan ini adalah salah satu upaya untuk memotog mata rantai kejadian gizi buruk, stunting dan lain-lain di Provinsi Banten,” ujarnya.

Ia mengatakan, pihaknya sedang mengerakan tentang calon pengantin (catin) sehat. Jadi, melalui Kemenag IBI menggelar penyuluhan-penyuluhan kespro sehingga kalau si calon pengantin ini belum mendapat kan penyuluhan, belum ada imunisasi, itu merupakan prasyarat mereka untuk menikah. Pada saat penyuluhan kita juga akan informasikan tentang KB juga. Sehingga yang didapatkan tagline nya tentang Indonesia Sehat adalah generasi sehat Indonesia unggul.

Kearifan lokal

Kepala Perwakilan BKKBN Banten, Aan Jumhana menyampaikan bahwa pihaknya harus mengolaborasi bagaimana kebijakan-kebijakan itu bisa dilakukan dengan kearifan lokal Banten. Hanya saja isu yang diamanatkan kepada BKKBN begitu berat. Isu kependudukan itu bukan hanya sekadar bagaimana mengendalikan kelahiran saja. Kita sudah sepakat untuk kepentingan memberikan layanan kepada masyarakat banten yang akan kita layani. Termasuk kampung KB.

“Program KB sekarang ini nyaris tidak terdengar. Dan dengan branding BKKBN ini pun kampung KB akan berubah menjadi Kampung Keluarga Berkualitas. Kami berharap bahwa di Banten branding ini tidak hanya sekedar merubah logo, tagline dan lagunya saja serta dua anak cukup menjadi Berencana itu keren, tapi bagaimana layanan program dari seluruh sektor bisa dirasakan oleh masyarakat banten,” ujarnya. (Kasiridho)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here