Selasa, 25 September 2018

Bisnis dan Muslim

Oleh:

Nasuha Abu Bakar, MA

Mendengar kata dan istilah “BISNIS” sebagian masyarakat pedesaan sering masa bodoh, cuek, tidak peduli, seolah oleh ada kesan kurang bahkan bisa jadi tidak menarik. Sehingga bilamana ada diskusi tentang “BISNIS” mereka langsung alergi dan apatis, singkatnya tidak berminat.

Pengalaman seperti ini sering terjadi dialami oleh beberapa pemerhati ekonomi masyarakat, pemerhati pertumbuhan dan perkembangan pendidikan masyarakat dan pelaku kegiatan sosial dari beberapa ormas ormas yang berada di pedesaan pernah menggelar kegiatan seminar di majlis kajian malam jumat kliwonan ustadz Dzul Birri. Ternyata setelah ditawarkan dengan cuma cuma kemudian digelar dan hasil rekrut pesertanya hanya 25 persen dari yang diharapkan.

Rachmadi salah seorang aktivis dan pemerhati masyarakat dalam bidang ekonomi dan pertumbuhan usaha masyarakat mencoba untuk melakukan pendekatan personal, semacam wawancara satu persatu di sebuah masjid dan majlis ta’lim. Hasil dari obrolan dan dialog pace to pacenya ternyata selama ini ada salah persepsi, anggapan yang keliru. Masyarakat pedesaan menganggap istilah “BISNIS ” hanya cocok dilakukan oleh masyarakat perkotaan dan pemodal besar atau oleh para pengusaha. Sehingga masyarakat pedesaan lebih banyak memilih sebagai pegawai, atau pelayan masyarakat dan menjadi pendidik atau guru.

Selebihnya waktu mereka hanya digunakan untuk santai berleha leha, dan kongkow ngobrol kesana kemari yang tidak menghasilkan apa apa kecuali khayalan dan lamunan belaka. Kalau yang terlanjur lanjut usia, mereka asyik terbius dengan main catur. Anak anak yang masih muda belia terkera racun warnet.

“Sebagai seorang muslim umat kanjeng nabi Rasulullah Shallallaahu ‘aaihi wa sallama seharusnya berteladan kepada beliau secara kaffah. Bukan saja berteladan di dalam perkara ibadahnya, perkara tata cara da’wahnya saja, termasuk cara usaha dan berbisnis beliau patut diteladani. Bukankah pada saat beliau masih muda belia bekerja sebagai penggembala kambing. Secara tersirat kita diajarkan oleh Allah supaya menjadi peternak kambing, sapi, kerbau atau unta, secara tersirat kita juga seakan akan dianjurkan dan dimotivasi agar menjadi pengusaha sebagai penyedia daging segar yang dijamin kehalalannya.

Syariat idul qurban, bukan sekedar puas menjdi pengurban, akan lebih puas lagi kalau kita menjadi pengusaha pendistributor hewan qurban yang bisa dipercaya sehat fisik hewannya. Kita sering kurang mampu menangkap dan menerima pesan Allah yang tersirat. Sehingga sering merasa cukup menjadi washilah,mediator saja yang menerima persenan dari pedagang hewan qurban. Bukan selamanya menjadi penggembala kambingnya.

Allah menjelaskan bahwa air laut dan segala macam isinya (ikan maksudnya) halal. Hasil penelitian ahli gizi mengatakan bahwa anak yang senang mengkonsumsi ikan pertumbuhan kecerdasannya otaknya bisa melebihi bila dia tidak suka makan ikan. Secara tersirat bahwa menjadi pebisnis ikan prospek kelancarannya lebih menjajikan dan keuntungannya sangat menggiurkan. Menjadi pelayan masyarakat, menjadi guru sekolah bagus dan mulia, akan tetapi jangan terbius dengan kemuliaannya, kemudian membatasi diri dan menutup peluang dirinya untuk menjadi pelaku BISNIS.

Satu orang bisa memiliki sejuta peran, dapat melakukan jutaan peran. Wahai akang-akang sekalian, bangkitlah ambillah peran bisnis sebanyak banyak nya. Silahkan akang akang, teteh teteh menjadi pelayan dan guru di masyarakat, tetapi jadilah pebisnis yang tangguh. Hutan kita sangat luas, jadilah pengusaha kayu, jangan keasyikan karena sudah punya toko bangunan. Lautan di bumi nusantara ini terbentang sampai ke ujung pandang (pandangannya sampai ke ujung), silahkan menjadi saudagar bahkan pengekspor ikan. Jangan puas hanya menjadi nelayan yang hanya menghasilkan beberapa kilogram ikan.

Jangan puas karena sudah bisa menyelesaikan deretan bangunan ruko setelah itu pulang kampung karena puas dengan uang ratusan ribu rupiah sebagai upah kerja bangunan. Peluang untuk menjadi pemilik ruko sangat mungkin. Bangkitlah sahabat sahabat sejatiku, itulah ucapan pak ustadz Dzul Birri menyemangati para jamaah malam jumat kliwonan.

Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilaihil musta’aan (Sabiluna, kamis 26 juli 2018 jam 08.30)


Sekilas Info

MENGENAL IDENTITAS SANTRI

Oleh: Kholid Ma’mun Mendapatkan kesempatan belajar di pesantren adalah sebuah kenikmatan yang besar, karena banyak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *