“Biruan,Baruan,Buruan”

Oleh: Nasuha Abu Bakar, MA

Setiap kali ramadhan berakhir yang ditandai dengan terdengarnya alunan takbir dimana mana, baik di masjid masjid dan di mushalla mushalla. Berkumpulnya para jamaah masjid dan mushalla di masing masing tempat mereka tinggal menunjukkan kegembiraan yang tak terhingga karena kewajiban berpuasa selama satu bulan penuh telah dilaluinya dengan tanpa hambatan hingga akhir. Rombongan jamaah yang khusyuk bertakbir ini bila dilihat dari usianya rata rata lima puluh tahunan ke atas.

Berbeda dengan rombongan anak anak usia lima belas tahunan, cara mereka menunjukkajn kebahagiaan karena telah selesainya berpuasa selama satu bulan, dengan cara menikmati menabuh bedug. Biasanya beduk masjid atau beduk yang ada di mushalla dipindahkan tempatnya dan diletakkan di depan masjid dan mushalla menghadap ke arah jalan, ada lima sampai sepuluh anak sebagian menabuh beduknya dan sebagian lainnya sambil bertakbir sekuat kuatnya. Lantunan takbir bocah bacah usia lima belas tahunan ini yang diiringi bunyi bunyian beduk membuat kenangan indah tersendiri bagi para orangtua di pedesaan pedesaan.

Berbeda dengan anak anak usia lima belas tahunan yang tinggal di kota kota, atau anak anak pedesaan yang berbatasan dengan perkotaan, biasanya ada sebagian meramaikannya dengan menyalakan kembang api, ada juga dengan membunyikan petasan, sehingga sering terjadi membuyarkan suasana khusyuk dan kesakralan takbiran. Tidak sedikit akhirnya takbirannya kurang nikmat karena tergannggu dengan bunyi petasan dan bunyi kembang api yang berkali kali bunyi dan mengeluarkan warna warni indah yang mampu merayu pandangan mata anak anak juga orang dewasa. Sehingga tidak sedikit anak anak yang awalnya asyik bertakbir di dalam masjid dan mushalla berhamburan keluar ingin melihat keindahan warna kembang api yang dinyalakan . Itulah godaan dan virus yang sangat membahayakan untuk pertumbuhan dan perkembangan keimanan serta kesholehan generasi pada masa yang akan datang.

Lain halnya dengan anak anak remaja pada umumnya, anak anak yang sudah memasuki usia sweet seventeen, usia 17 tahunan ada sebagian diantara mereka menyambut kegembiraannya selepas puasa ramadhan dengan berkeliling dan konvoy mengendarai motor roda dua. Kumpul kumpul serombongan mereka di satu tempat sebagaimana yang telah disepakatinya. Mereka duduk duduk dan kongkow ngalor ngidul mungkin membahas rencana mereka untuk masa depannya. Semoga anak anak bangsa generasi harapan kita semua senantiasa dalam lindungan dan bimbingan Allah.

Esok harinya suasana haru birunya wajah wajah ahli taubat terlihat yang telah berjuang dan berusaha bersusah payah melakoni puasa sebulan penuh selama ramadhan, malam harinya bertaraweh, di waktu dini hari bertahajjud, bertaubat, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan bershalawat kepada nabi, wajah wajah kesholehan tampak tersirat melalui ucapan dan sapaannya tiap kali berjumpa dengan sesama selalu mengucapkan kalimat ” mohon maaf kalau ada salah salah ucap dan kalau ada salah salah kata” itulah kepribadian yang disebut “Ibaadur Rahmaan” di dalam kitab suci Al Qur’an surat al furqon, 25 ayat 63.

Berbeda dengan mbah Warno dan mbah Wardi, kebahagiaan beliau berdua diekspresikannya dengan mengumpulkan anak anak yatim, yatim piatu dan dhu’afa. Tidak kurang dari 100 anak yang dikumpulkannya setiap tahun di rumah mbah Warno dan mbah Wardi. Yaa seperti mirip mirip acara Open House nya orang orang gedean begitu. Biasanya acara sangat sederhana, mereka duduk dengan rapih, membaca surat alfatihah 7x, surat al ikhlas 7x, surat al falaq 1x, surat An-Nas 1x, ayat kursi 1x dan bertahlil 41, diakhiri dengan pembacaan doa oleh pak ustdz Dzul Birri dan dilanjutkan membaca alunan takbir sebanyak tiga kali putaran. Setelah itu barulah mereka menikmati hidangan yang telah disajikan oleh mbah Warno dan mbah Wardi.

Moment terakhir adalah mengantri dan berbaris tertib karena akan memperoleh uang “Biruan”, uang kertas yang nilainya lima puluh ribu, dan ” Baruan”, karena bentuknya masih lurus dan mulus. Itulah yang menjadi “Buruan” anak anak dan warga sekitar rumah mbah Warno dan mbah Wardi.

Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilaihil musta’aan

(Sabiluna, 6 juni 2019 jam 7.25 bertepatan 2 Syawal 1440 H)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here