Berwisata Edukasi di Museum Multatuli dan Perpustakaan Saija Adinda

Museum Multatuli

Selain ragam potensi wisata alam yang dimiliki, Kabupaten Lebak memiliki sejumlah destinasi wisata buatan, baik yang dibangun dan dikelola oleh pihak swasta maupun oleh pemerintah daerah. Untuk menambah alternatif pilihan wisata pada pengunjung, sejak dua tahun belakangan ini, Pemkab Lebak menawarkan wisata edukasi dengan membuka Museum Sejarah Multatuli, serta Perpustakaan Saija Adinda.

Kedua objek wisata yang berada tak jauh dari pusat pemerintahan kabupaten berdiri secara berdampingan. Museum Multatuli dibangun di atas lahan eks Karisidenan Rangkasbitung. Sementara Perpustakaan Saija Adinda yang berada di lantai dua kantor arsip dan perpustakaan itu, berada tepat di sebelahnya tanpa ada pembatas.

Bangunan utama museum di eks gedung karisidenan berisi berbagai peninggalan sejarah, dan artefak yang sebagian di antaranya merupakan pemberian dari negeri Belanda. Di bagian depan, terdapat pendopo yang digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk penyampaian sejarah museum pada pelajar yang secara rutin dan bergantian berkunjung ke museum.

Sementara itu dibagian samping kanan, terdapat sebuah panggung berisi patung Multatuli yang sedang duduk membaca, serta patung yang digambarkan sebagai Saija yang sedang berdiri dan Adinda dalam pose duduk. Ketiga patung itu sering menjadi tempat favorit pengunjung untuk berswafoto.

Gedung Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Saidja Adinda dirancang khusus menyerupai leuit yang bagi masyarakat adat Baduy dan masyarakat Kaolotan merupakan sarana dan lambang ketahanan pangan. Serta semangat kemandirian dan semangat perjuangan untuk tidak menyerah pada keadaan.

”Dua destinasi wisata ini menjadi pelengkap atau aternatif pilihan bagi pengunjung luar daerah yang akan berkunjung ke objek wisata di Lebak dan singgah di kota Rangkasbitung. Sejak dibuka secara resmi dua tahun lalu, Museum Multatuli telah banyak dikunjungi wisatawan, termasuk wisatawan dari mancanegara, khususnya dari negeri Belanda yang sengaja berkunjung ke museum itu,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak, Imam Rismahayadin kepada Kabar Banten, beberapa waktu lalu.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, yang juga sebagai penanggung jawab Museum Multatuli, Wawan Ruswandi menyatakan, jumlah pengunjung museum terus bertambah dari waktu ke waktu. Terutama wisata lokal yang merupakan pelajar di Lebak.

”Untuk sebagian sekolah, khususnya yang berada di wilayah Rangkasbitung dan sekitarnya, ada kebijakan untuk memberikan waktu bagi peserta didik untuk mengunjungi museum dan perpustakaan. Dengan adanya kebijakan itu kami berharap anak-anak bisa mengambil pelajaran berharga dari sejarah Lebak hasil kunjungannya ke mesuem. Serta bisa meningkatkan budaya literasi bagi pelajar dan masyarakat Lebak,” ujar Wawan.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, Asep Komar Hidayat menambahkan, selain perpustakaan umum yang berisi ribuan judul buku, ruang perpustakaan yang berada di lantai dua dibuat senyaman mungkin, agar pelajar atau keluarga betah berlama-lama berada di ruang perpustakaan.

“Pemerintah daerah menghadirkan Perpustakaan Saidja-Adinda dan segala fasilitasnya dengan harapan menjadi salah satu objek destinasi wisata edukasi bagi seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya untuk warga yang tinggal di kota Rangkasbitung tetapi juga bagi warga masyarakat dari luar Kabupaten Lebak,” ucap Asep Komar Hidayat.

Menurut Kadiskerpus, wisata edukasi Perpustakaan Saija-Adinda itu terintregasi dengan Museum Multatuli serta objek wisata budaya atau wisata-wisata alam yang terbentang mulai dari Cipanas, Lebak Gedong, Gunung Kencana hingga Pantai Sawarna.

Sementara itu pada acara peresmian kantor Diskerpus, Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya menyatakan, koleksi literasi Perpustakaan Saidja-Adinda harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat umum, pondok pesantren dan para pelaku usaha yang membutuhkan referensi untuk mengembangkan ilmu dan usahanya selain untuk mendongkrak tingkat literasi masyarakat.

”Pihak Perpustakaan Saidja-Ainda dan jajaran Diskerpus perlu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak terkait dalam mengembangkan perpustakaan yang ada di desa, di sekolah dan di instansi pemerintah. Layanan pemerintah daerah kepada masyarakat di bidang administrasi pemerintahan perlu didukung dengan sistem kearsipan yang baik,” tutur Bupati Iti Octavia Jayabaya. (Nana Djumhana)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here