Bersama Sejumlah Lembaga, LAZ Harfa Belajar Zakat di Malaysia

SERANG, (KB).- Dalam rangka meningkatkan kapasitas amil zakat dan jaringan kelembagaan, LAZ Harfa bersama sejumlah lembaga zakat, mengunjungi beberapa lembaga zakat di Malaysia selama 5 hari, 28 Januari sampai dengan 1 Februari 2020.

Kunjungan tersebut dikoordinasi oleh Institut Fundrising Indonesia. Selain LAZ Harfa, kegiatan ini juga diikuti oleh perwakilan lembaga zakat nasional lainnya seperti Dompet Dhuafa, Yatim Mandiri, PPA Darul Qur’an dan BAZNAS. Di antara lembaga zakat tersebut, hanya LAZ Harfa yang merupakan lembaga amil zakat tingkat provinsi. Bersama LAZ Harfa juga terdapat perwakilan dari SEHATI Sukabumi.

“Keberangkatan bersama seperti ini diharapkan dapat menjadi ruang komunikasi antar lembaga zakat di Indonesia. Tentu saja juga dapat saling belajar bersama antar lembaga zakat baik Indonesia dan Malaysia,” ujar Arlina Fauzia Saliman, perwakilani Institut Fundrising Indonesia sebagai pimpinan lawatan.

Alasan berkunjung ke PPZ Kuala Lumpur dan LZS Selangor, kata dia, karena dua lembaga tersebut merupakan lembaga zakat yang mempunyai peringkat tertinggi dalam penghimpunan dana zakat di Malaysia.

Dalam kunjungan tersebut, LAZ Harfa mengirimkan utusan dari beberapa divisi untuk belajar dari Pusat Pungutan Zakat Malaysia, Lembaga Zakat Selangor dan Pusat Kajian Zakat Universiti Teknologi Mara.

“LAZ Harfa secara mandiri mengunjungi Pusat Kajian Zakat di Akademi Islam Komtemporari Universiti Teknologi Mara (ACIS-UiTM) untuk mendapatkan gambaran utuh tentang pengelolaan zakat di Malaysia,” ujar Ketua Yayasan LAZ Harfa, Mulyadi Firdaus.

Ia mengatakan, tahun 2020 LAZ Harfa memiliki impian untuk mengembangkan jaringan kerjanya untuk berkolaborasi dengan berbagai lembaga di luar negeri. Tidak hanya dalam rangka melaksanakan fungsi filantropi, tapi juga edukasi dan sosialisasi zakat.

“Walau LAZ Harfa adalah LAZ tingkat provinsi, namun jaringan kerjanya harus memiliki visi global. Karena dinamika kelembagaan dan kerja zakat di tempat lain, bisa saja menjadi cerminan dan inspirasi terhadap kerja LAZ Harfa di masa depan,” ujarnya.

Ia mengatakan, terdapat beberapa perbedaan antara pengelolaan zakat di Malaysia dan di Indonesia. Secara umum, zakat di Malaysia dikontrol secara penuh dan diperkuat oleh kebijakan pemerintah (driven by government). Sementara di Indonesia lembaga zakat harus bekerja keras untuk menyakinkan masyarakat membayar zakat melalui amil zakat kelembagaan (driven by society).

“Baik Indonesia atau pun Malaysia masih memiliki potensi besar untuk dapat menjadikan zakat sebagai salah satu instrument dalam kebijakan ekonominya. Sehingga ibadah zakat dapat berdampak terhadap rahmatan lilalamin,” ujarnya. (SY)*


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here