Berpikir Kritis dan Kreatif

Oleh : Sudaryono

Sebuah bangsa yang besar tidak akan pernah menghasilkan karya-karya besar jika tidak kritis terhadap informasi-informasi yang mereka terima. Dengan kata lain, apakah tradisi berpikir ilmiah hidup dalam bangsa ini? Tradisi ini sudah dimulai 2.400 tahun yang lalu oleh Socrates, Aristoteles, dan Plato.

Dari pemikiran mereka bertiga itulah diberbagai kampus di Barat, mahasiswa semua jurusan, selama dua tahun pertama wajib mengambil mata kuliah liberal arts. Liberal arts terdiri dari sejarah, matematika, science, rhetoric, kesenian, astronomi, ekonomi politik, psikologi, sosiologi, dan bahasa. Pengetahuan tersebut bukan bersifat hafalan, namun menantang cara berpikir, menguji kebenaran secara ilmiah untuk membebaskan manusia dari mitos dan tradisi yang sempit. Inilah cikal bakal cara berpikir kita.

Bangsa yang tidak biasa berpikir kritis akan mudah terbawa arus, mudah percaya pada takhayul, terseret emosi, terlibat dalam penyebaran rumor atau gosip yang belum tentu benar, mempunyai tendensi prasangka yang buruk dan bias, terlalu mudah dimanipulasi dan dogmatik.

Untuk menjadi pemikir yang konstruktif dan produktif maka diperlukan keterampilan dan kecerdasan dalam memilih masalah yang akan dipikirkan. Hanya masalah yang dianggap penting saja yang dipikirkan, dianalisis, dan dirumuskan sehingga hasil pemikiran itu memiliki daya guna yang tinggi, baik untuk diri sendiri maupun untuk kepentingan masyarakat luas.

Kreativitas dan inovasi dipahami sebagai usaha kolaborasi serta meminjam dan mengombinasikan konsep-konsep satu dan lainnya. Usaha tersebut dimulai dari mengadopsi gagasan-gagasan lain yang mirip untuk menyelesaikan masalah yang telah didefinisikan secara jelas.

Penyelesaian masalah dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan kritik-kritik, memperhalus, menambah, dan mengurangi komponen-komponen dari konsep yang sudah ada serta kemudian menyusun struktur baru sebagai jawaban terhadap permasalahan. Selanjutnya dilakukan proses penyempurnaan sedikit demi sedikit sehingga terbentuk suatu gagasan baru yang kreatif.

Berpikir kritis dan berpikir kreatif bukan hanya pengetahuan yang dapat kita peroleh dari bacaan. Ia juga bukan bawaan lahir atau bakat. Ini adalah sebuah keterampilan yang harus dilatih terus menerus, dijalankan dengan tekun, dengan membuka diri, keluar dari comfort zone atau zona nyaman dan abaikan segala atribut yang sudah kita miliki.

Gabungan antara pengetahuan dan kreativitas adalah sebuah kekuatan untuk membentuk seseorang menjadi pemikir andal dan kemampuan berpikir kritis yang tangguh. Pengetahuan menghasilkan referensi (apa yang pernah dilakukan, diuji dan dilihat) serta metodologi. Sedangkan kreativitas mendorong kita menjelajahi terra incognita menurut Rhenald Kasali merupakan kawasan baru yang belum terpetakan.

Giovanni Corazza, pakar kreativitas dari University of Bologna menemukan karya-karya kreatif belakangan ini muncul dari proses yang disebutnya sebagai long thinking. Ini bukan long term thinking, melainkan kemampuan menghasilkan karya-karya baru dengan menggabungkan berbagai ide dan eksplorasi. Di dalamnya terdapat dorongan untuk memperbarui sesuatu (discovery driven) dari dunia yang tidak lagi berkelanjutan. Rita Gunther McGrath menyebutnya sebagai abad transient, yang berarti bersifat sementara, sebelum sesuatu diperbaharui lagi oleh orang-orang lain.

Ada cukup banyak rintangan yang menghalangi masyarakat Indonesia untuk berpikir kritis. Bacaan, pergaulan dan perjalanan yang luas membuat manusia memperluas cakrawalanya, untuk melihat kebenaran dari sudut pandang yang berbeda. Dengan bertemu orang-orang yang berbeda, maka akan didapat pengalaman dan bisa mengurangi prasangka-prasangka. Manusia yang egosentris cenderung tidak kritis, ia hanya bisa menjadi manusia yang menyakitkan orang lain. Ia hanya bisa menjadi manusia yang kritis pada orang-orang yang berpikiran sama dengannya.

Orang-orang yang sempit, cupet atau tertutup akan menerima suatu pandangan sebagai suatu kebenaran. Mereka berperilaku demikian karena jarang berinteraksi dengan dunia luar. Cenderung dogmatis karena dibesarkan dalam pengajaran yang bersifat satu arah dan melarang sikap atau pemikiran-pemikiran kritis.

Pada dasarnya sistem yang membuat manusia saling tidak percaya juga sulit melahirkan manusia-manusia kritis. Penyebab lain adalah terperangkap oleh keinginan mendapatkan hasil cepat tanpa kerja keras, orang-orang seperti ini biasanya juga tidak kritis. Manusia Asia memiliki budaya yang khas yaitu tidak ingin kehilangan muka, dan sekaligus pantang membuat orang-orang yang ditokohkan atau dituakan.

Rhenald Kasali dalam bukunya Self Driving (2016) menjelaskan bahwa untuk bisa berpikir kritis harus memiliki: Clarity atau kejelasan. Mintalah klarifikasi lebih jauh terhadap hal-hal yang meragukan. Akurasi atau ketepatan. Tanyakanlah apakah informasi yang disampaikan orang lain sudah akurat dan bagaimana cara memeriksanya.

Presisi. Sehari-hari ada banyak pernyataan diucapkan banyak orang yang seakan-akan mewakili suatu kebenaran. Ketika seorang bocak kecil di Jombang bernama Ponari menemukan sebuah batu yang katanya bisa menyembuhkan segala macam penyakit, berbondong-bondong orang datang. Selain belum tentu akurat, apakah benar batu itu bisa menyembuhkan?

Relevansi. Ingatlah suatu pertanyaan bisa saja menarik, akurat, clear dan cermat, tetapi bisa saja ia tidak relevan dengan pertanyaannya. Mendalam dan luas. Jawaban yang kritis adalah jawaban yang cukup mendalam dan memiliki keluasan wawasan. Hendaknya kita selalu menanyakan apakah jawaban atau pernyataan seseorang mengandung kebenaran. Ingatlah sebuah pernyataan bisa saja menarik, jelas, akurat, presisi, dan relevan. Namun jika tidak mendalam, maka jawabannya bisa dianggap seadanya dan kurang kritis.

Oleh karena itu, ada banyak manfaat yang bisa diambil setiap orang dengan terbentuknya bangsa yang kritis. 1. Memahami argumentasi dan kepercayaan orang lain. 2. Mendapatkan kebijakan hidup. 3. Lebih kritis memungkinkan memperoleh teman-teman baru. 4. Lebih mampu mempertahankan argumentasi, tidak selalu menyatakan ya. 5. Memperoleh pemahaman lebih dalam terhadap setiap masalah. 6. Melatih keterbukaan dalam perubahan. 7. Membantu menjadi lebih analitis. 8. Mencegah penindasan-penindasan opini dari dogma, asumsi, prasangka, dan kepentingan-kepentingan. 9. Mencegah pengambilan keputusan yang saling bertentangan dan terkesan bodoh atau sembarangan mengambil keputusan.

Melatih bangsa menjadi pemikir kreatif dan kritis adalah melatih agar tidak menjadi bangsa yang berorientasi pada kesenangan jangka pendek, berprasangka buruk terhadap perbedaan dan tidak kritis. Selamat berpikir kritis dan kreatif. (Penulis adalah Rektor Universitas Banten Jaya)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here