Berkurban di Tengah Pandemi Covid-19

H. Sholeh Hidayat

Sesuai dengan pengumuman pemerintah melalui Menteri Agama Republik Indonesia, kaum muslimin dan muslimat akan merayakan Iduladha 1441 H pada hari Jumat bertepatan dengan tanggal 31 Juli 2020 M. Pada hari tersebut disunahkan (muakad) menyembelih hewan kurban seperti domba atau kambing, kerbau, sapi dan unta dilanjutkan tiga hari setelahnya (hari tasyriq).

Kata kurban atau qurban berasal dari bahasa Arab. Qurban menurut arti bahasa adalah hewan yang disembelih pada Iduladha. Sedangkan menurut ahli fiqih artinya mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Syariat kurban ditetapkan Allah Swt, sesaat setelah Nabi Ibrahim berhasil menundukkan ego dalam dirinya untuk secara total mengabdi kepada Allah dengan mengorbankan apapun demi memperoleh keridhoan Allah Swt. Termasuk harta termahal di dunia yaitu seorang anak yang dicintainya Nabi Ismail AS. Akan tetapi, kasih sayang Allah yang sangat luar biasa, Allah menggantikan nabi Ismail AS dengan seekor domba untuk disembelih oleh Nabi Ibrahim AS.

Ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih putranya tercinta Nabi Ismail AS terjadi percakapan dan diskusi dengan putranya Ismail. Hal tersebut diungkapkan dalam surat As-Shaffat: 102 yang menceritakan ungkapan nabi Ibrahim AS kepada putranya nabi Ismail AS atas mimpinya selama tiga malam terakhir: ”Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab”Wahai ayahku! Lakukalah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”.

Percakapan dan diskusi antara Nabi Ibrahim AS dengan Nabi Ismail AS merupakan bentuk relasi yang komunikatif dan demokratis yang patut menjadi contoh bagi kita dalam mendidik anak.

Apa yang terjadi dalam mimpi nabi Ibrahim AS dipahami oleh Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai perintah Allah Swt. Pengrobanan nabi Ibrahim dan Ismail inilah yang menjadi asal mula ibadah kurban yang pada setiap Iduladha tiba dilaksanakan. Bagi umat Islam yang memiliki kemampuan sangat dianjurkan sebagaimana Hadits Riwayat Ahmad : “Barangsiapa memiliki kelapangan keuangan, lalu ia tidak berkurban, maka janganlah ia datang ke tempat salat kami”

Keinginan berkorban terkait dengan ketaqwaan seseorang. Ketaqwaan inilah yang dinilai Allah dalam berkurban sebagaimana firman-Nya dalam surat al Hajj ayat 37: ”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya”

Dari peristiwa kurban tersebut di atas tidak hanya menyembelih hewan kurban, namun umat Islam dapat mengambil hikmah dan pelajaran tentang keikhlasan, kesabaran, keberanian, kesetiaan dan ketaatan nabi Ibrahim kepada Allah SWT. Melaksanakan kurban juga merupakan wujud syukur kepada Allah atas nikmat yang diterima selama ini.

Karena itu dari sebagian nikmat yang diperoleh itu digunakan untuk menaati perintah Allah Swt seperti ditegaskan dalam surat Al Kautsar :1-2 “Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka dirinkanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah”

Melalui pembagian hewan kurban akan terwujud rasa persaudaraan dan kebersamaan antara sesama umat Islam. Persaudaraan yang hakiki ketika antara sesama manusia saling menyayangi, saling memberi dan saling menyantuni. Umat Islam yang kaya memberi yang miskin dan yang kuat membantu yang lemah.

Kurban dengan menyembelih hewan merupakan simbol agar kita rela berkurban menanggalkan karakter dan sifat hewaniah yang melekat pada dirinya. Sifat-sifat hewaniah yang harus ditanggalkan seperti sifat rakus, tamak, bengis, egois, keras kepala, licik dan tidak memiliki rasa malu.

Berkurban era pandemi Covid-19

Pelaksanaan Iduladha dan kurban tahun 1441 H masih berada dalam masa pandemi Covid-19. Oleh karena itu, dalam melaksanakan pemotongan hewan kurban harus memperhatikan protokol kesehatan. Hal tersebut sesuai dengan Surat Edaran Menteri Agama RI Nomor SE. 18 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Salat Iduladha dan Penyembelihan Hewan Kurban Tahun 1441 H Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19.

Terdapat beberapa syarat yang perlu diperhatikan:

1. Jaga jarak fisik (Physical Distancing).

Menjaga jarak fisik atau physical distancing yang perlu dilakukan meliputi: (a) pemotongan hewan kurban dilakukan di area memungkinkan penerapan jarak fisik, (b) penyelenggara mengatur kepadatan di lokasi penyembelihan, hanya dihadiri oleh panitia dan pihak yang berkurban, (c) pengaturan jarak antar panitia pada saat melakukan pemotongan, pengulitan, pencacahan, dan pengemasan daging (d) pendistribusian daging hewan kurban dilakukan oleh panitia ke rumah mustahik.

2. Penerapan kebersihan setiap panitia.

Penerapan jaga jarak fisik tidak hanya antara satu sama lainnya. Penerapan kebersihan setiap atau personal panitia harus dilakukan, sebagai berikut: (a) pemeriksaan kesehatan awal yaitu melakukan pengukuran suhu tubuh di setiap pintu atau jalur masuk tempat penyembelihan dengan alat pengukur suhu oleh petugas (b) panitia yang berada di area penyembelihan dan penanganan daging, tulang, serta jeroan harus dibedakan, (c) setiap panitia yang melakukan penyembelihan, pengulitan, pencacahan, pengemasan dan pendistribusian daging hewan, harus menggunakan masker, pakaian lengan panjang, dan sarung tangan selama di area penyembelihan,(d) penyelenggara hendaknya selalu mengedukasi para panitia agar tidak menyentuh mata, hidung, mulut, dan telinga, serta sering mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, (e) panitia menghindari berjabat tangan atau kontak langsung serta memperhatikan etika batuk atau bersin atau meludah dan (f) panitia yang berada di area penyembelihan harus segera membersihkan diri (mandi) sebelum bertemu anggota keluarga.

3. Kebersihan alat yang harus diperhatikan.

Selain hal tersebut di atas, ada beberapa hal juga yang harus diperhatikan terkait diselenggarakannya penyembelihan hewan kurban pada momen Iduladha di tengah pandemi corona, salah satunya adalah kebersihan alat. Berikut adalah penerapan kebersihan alat sesuai Surat Edaran Menteri Agama : (a) melakukan pembersihan dan disinfeksi seluruh peralatan sebelum dan sesudah digunakan, serta membersihkan area dan peralatan setelah seluruh prosesi penyembelihan selesai dilaksanakan (b) menerapkan sistem satu orang satu alat. Jika pada kondisi tertentu seorang panitia harus menggunakan alat lain maka harus dilakukan disinfeksi sebelum digunakan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Dewan Kemakmuran Masjid Raya Albantani selain melaksanakan salat berjamaah Iduladha juga melaksanakan pemotongan hewan kurban. Hewan kurban diperoleh dari Presiden, Gubernur, Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah dan para kepala organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Provinsi Banten.

Sampai dengan artikel ini ditulis sudah terdaftar 30 ekor sapi dan 17 ekor kambing. Pemotongan hewan kurban akan dilaksanakan setelah Salat Iduladha dengan memperhatikan protokol kesehatan, dan panitia akan mendistribusikan kepada masyarakat di sekitar KP3B serta masyarakat lainnya sesuai permohonan yang telah mendapat pertimbangan Panitia. Semoga pemotongan hewan kurban berjalan aman, lancar dan selamat. (Penulis, Ketua Harian DKM Raya Albantani)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here